PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Bedah Plastik


__ADS_3

Pagi telah menjelang, matahari sudah membumbung tinggi. Menggantikan posisi bulan, Viona mengerjapkan matanya saat silau sinar matahari pagi menembus sela-sela gorden jendela yang telah terbuka.


Tirai transparan itu menari-nari karena hembusan angin pagi yang sejuk. "Hhhmm!!" gadis itu menggumam sambil menggeliatkan tubuhnya pelan.


Viona bangkit dari posisi berbaringnya dan merasakan pusing yang luar biasa pada kepalanya, kepalanya seperti baru saja dihantam batu besar. Mungkin itu karena efek minuman yang ia teguk semalam. Viona mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Namun tidak bisa, yang ia ingat hanya ketika ia duduk di sofa bersama Kevin kemudian ia meminum wine milik pemuda itu.


Dan yang terjadi selanjutnya Viona tidak mengingatnya, bahkan ketika Ia mencium bibir Kevin dan menyampaikan isi hatinya sambil menangis sesegukan. Jika ia sampai mengingatnya, pasti Viona tidak memiliki muka untuk menghadapi dunia.


"Kau sudah bangun!!" tegur seseorang dari arah pintu.


Terlihat Kevin menghampirinya sambil membawa segelas susu hangat yang kemudian ia berikan pada gadis itu. "Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku tidak mengingat apapun," Viona menerima gelas berisi susu itu lalu meletakkan diatas meja.


Kevin menggeleng. "Tidak ada!!" dustanya.


Kevin sengaja tidak mengatakan yang sebenarnya dan membuat Viona merasa malu dan tidak enak hati karena kelakuannya. Viona mengangkat wajahnya dan menatap Kevin penuh selidik.


"Benarkah?! Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanyanya memastikan,


Kevin menggeleng. "Tidak!! Cepat minum susumu, setelah itu bersihkan dirimu. Tubuhmu bau alkohol!" ucapnya datar.


Viona mencium tubuhnya sendiri dan tersenyum tiga jari. "Kau benar! Tapi, Key. tumben jam segini kau masih di rumah. Apa kau tidak pergi ke kantor?"


Kevin menggeleng. "Aku mengambil cuti sampai luka di wajah dan punggungku membaik, lagipula ada Jonas yang bisa menghandle semua pekerjaanku." Jelasnya.


"Begitu ya,"


"Hm, sudah cepat mandi, setelah ini kita sarapan sama-sama." Ucapnya lalu beranjak dan pergi begitu saja.


.


.


"Biar aku saja yang membereskannya."


Viona menahan tangan Kevin ketika dia hendak membereskan semua piring dan mangkuk yang ada di atas meja. Bagaimana pun juga ia harus tau diri. Sudah menumpang hidup masa masih harus merepotkan tuan rumah juga.


Kevin mengangguk. Dia tidak melarang Viona, dia membiarkan gadis itu melakukan apapun yang dia inginkan. Kevin tidak akan membuat dia merasa tidak nyaman tinggal dikediamannya.

__ADS_1


"Kalau begitu aku ke dalam dulu." Viona mengangguk.


Usai membereskan semua wadah yang kotor. Viona menghampiri Kevin yang sedang berada di kamarnya. Pemuda itu duduk menghadap sebuah cermin besar, dengan perlahan dan hati-hati, jari-jari besarnya membuka lilitan perban yang menutup sebagian wajah kirinya.


Viona melihat tak ada yang salah pada mata kiri Kevin. Mata kirinya baik-baik saja meskipun bagian putihnya agak memerah. Namun pemuda itu tetap menutupnya dengan perban, mungkin karena luka disekitar mata itu yang membuat risih.


"Boleh aku bantu," Kevin mengangkat wajahnya dan mendapati Viona berdiri disampingnya. Pemuda itu tak memberikan jawaban apa-apa, dan hanya menatapnya datar. "Ck, kenapa kau hanya menatapku saja. Boleh tidak?!" Lama-lama Viona hilang kesabaran karena sikap Kevin.


Pemuda itu mengangguk. "Lakukan,"


"Key, apa kau tidak berniat melakukan bedah plastik? Kebetulan di rumah banyak ember bekas, kau bisa mempermak wajahmu dengan ember-ember itu." Saran Viona dan langsung dijitak oleh Kevin. "Yakk!! Kevin, sakit!!" Jerit Viona sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh Kevin.


Kevin mendengus melihat ekspresi gadis itu yang tampak menggemaskan. "Siapa suruh kau asal bicara. Gadis itu menekuk wajahnya sambil berkomat-kamit tidak jelas. Mengabaikan Kevin, Viona kembali fokus pada lukanya.


Gadis itu meringis ngilu ketika melihat luka di wajah Kevin. Pantas saja pemuda itu mengatakan jika kemungkinan besar akan meninggalkan bekas dan membuatnya tidak tampan lagi. Luka itu lebih parah dari yang Viona bayangkan.


Selain luka memanjang pada pelipis kirinya, luka lain disekitar mata kirinya juga tidak kalah parah. Kulitnya terkelupas dan terlihat sedikit menghitam.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Viona menyadari jika Kevin terus menatapnya. Meskipun gugup setengah mati, namun sebisa mungkin Viona menyembunyikan kegugupannya itu.


"Yang aku katakan semalam? Memangnya semalam aku mengatakan apa?" tanya Viona sambil memasang wajah polosnya.


Bukan karena pura-pura tidak mengerti. Tapi dia memang tidak ingat sama sekali. Kevin mendengus geli, bangkit dari duduknya lalu menyambar long vest yang kemudian ia pakai sebagai luaran singlet putihnya.


"Lupakan! Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa." kata Kevin datar.


Viona bangkit dari duduknya lalu menyusul Kevin. Ia menahan lengan pemuda itu dan menatapnya penuh tanya. "Jangan berbohong, aku tau kau menyembunyikan sesuatu darimu. Cepat beri tau aku, semalam aku mengatakan apa?" Rengek Viona menuntut.


"Ck, kau semalam mabuk dan mengatakan jika aku mirip ayam goreng. Hampir saja kau memakanku, untungnya kau tak sadarkan diri sebelum melahapku." Ujar Kevin memberi penjelasan.


"Hah!! Benarkah?"


"Hn,"


"Lalu kau mau kemana?" tanya Viona melihat Kevin yang bersiap untuk pergi.


"Mini market, rokokku habis!! Kenapa, kau mau ikut?" Viona mengangguk antusias. Dari pada di rumah sendiri, mendiang ikut Kevin saja.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."


"Aku tunggu di luar,"


-


-


Minna mengulum senyum bangga ketika semua teman-temannya memuji semua barang-barang mewah yang ia miliki. Semenjak Viona meninggalkan rumah, lalu kakek dan kakaknya pergi keluar negeri. Minna dan ibunya seperti ratu dalam rumah itu.


Mereka selalu menghambur-hamburkan uang setiap harinya untuk membeli barang-barang mewah dan mengadakan pesta di rumah.


Dan semua uang yang mereka gunakan adalah uang Kakek Hilman yang sengaja dia tinggalkan untuk menjebak ibu dan anak itu. Dan bodohnya, mereka tidak tau akan motif yang dimiliki oleh kakek 3 cucu tersebut.


"Wow apakah berlian ini asli?" seru salah seorang teman Minna.


Gadis itu mengangkat jarinya lalu menunjukkan pada mereka. "Tentu saja berlian ini asli, aku ini orang kaya jadi bisa membeli apa pun yang aku mau!" ujarnya menyombongkan diri,


Minna merasa bangga karena semua orang kini memuji dirinya. Dan dipuji seperti itu tentu menjadi kesenangan tersendiri untuknya. "Minna, apakah ini kamarmu??"


Saat ini mereka berada dikamar milik Viona yang ukurannya 3 kali lebih luas dari kamar milik Minna. Minna sengaja meminta para pembantu untuk menurunkan foto-foto Viona dan mengganti dengan foto dirinya. Agar lebih meyakinkan jika kamar itu miliknya.


"Huaaa semua pakaian, tas dan sepatu ini milikmu. Sangat luar biasa, kau sungguh mengagumkan. Tapi Min, kenapa ukuran-ukuran sepatu ini satu nomer lebih kecil dari milikmu?" Minna pun tersentak mendengar pertanyaan temannya, otaknya berfikir untuk mencari jawaban


"Itu milik saudaraku yang sudah meninggal, dan dia memberikan semua sepatu-sepatu itu padaku!" ujarnya.


Teman-teman Minna mengangguk mengerti."Tapi, bolehkan aku meminta satu? Aku ingin sekali tas dan sepatu ini!"


Minna tampak berfikir. "Aku rasa---- ya kalian boleh memilikinya, ambil mana pun yang kalian mau!" ujar Minna dengan seringai culasnya. 'Mampus kau Jung Viona, inilah akibatnya jika berani mencari masalah denganku!' ujar Minna membatin.


Tanpa Minna sadari, jika semua tas dan sepatu itu adalah palsu. Karena yang asli Viona simpan diruang yang memang khusus ia gunakan untuk menyimpan semua barang-barang miliknya. Dan Viona sengaja membeli dan membuat tiruannya, karena ia yakin hal semacam ini pasti akan terjadi.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2