PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Kecelakaan


__ADS_3

Ken mendongakkan wajahnya untuk menghalau liquid bening yang hampir saja menetes dari pelupuk matanya. Ken menjadi sangat lemah akhir-akhir ini, apalagi saat sudah berhadapan dengan Luna.


Sekeras apapun Ken mencoba menahan perasaannya dengan bersikap dingin pada wanita itu. Tapi hal itu malah membuat perasaannya semakin tersiksa karena Luna adalah kelemahannya.


Ken melepaskan pelukan Luna kemudian berbalik dan menatap wanita itu dalam. Mengamati setiap lekuk wajah cantik itu, tidak ada yang berubah pada dirinya. Luna tetap secantik seperti di hari terakhir kebersamaan mereka sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Bisakah mulai malam ini kau tidak usah bersikap seformal itu padaku? Aku ingin kau bersikap seperti pada yang lainnya. Aku tidak ingin ada jarak lagi di antara kita berdua. Dan bisakah mulai saat ini kau memanggilku dengan nama saja," Ken mengunci sepasang hazel jernih itu.


"Kenapa?" Bingung Luna.


"Aku tidak memiliki alasan khusus untuk hal itu. Aku hanya ingin supaya kau-"


"Apa karena aku mirip dengan mendiang istrimu yang sudah meninggal?" Luna menyela cepat.


Sepasang mutiara hazel nya terkunci pada iris mata kanan Ken yang menatapnya datar. Luna tersenyum hambar. "Aku sudah menduganya. Kau bersikap seperti ini karena wajahku mirip dengannya bukan? Kau memanfaatkan kemiripan kami hanya untuk mengobati rasa rindumu padanya, benar bukan?"


"Ketahuilah, Tuan Zhao, aku bukan dia dan kami tidak sama. Dan sebaiknya mulai detik ini kita jalani hidup masing-masing saja." Luna menyeka air matanya dan pergi begitu saja.


"Jessline Jung, tunggu!" seru Ken.


Ken berusaha mengejar Luna yang berlari ke arah jala raya. Dia harus menjelaskan sebelum wanita itu semakin salah paham padanya.


Mata kanan Ken membelalak saat melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah wanita itu. Mobil itu terlihat beberapa kali membunyikan klaksonnya tapi sepertinya Luna tidak menyadarinya.


Dan sinar terang yang semakin dekat membuat langkah kaki Luna terhenti. Kedua matanya membelalak dan tubuhnya terpaku. Kedua kakinya mendadak lemas hingga dia tidak kuat lagi untuk melangkah.


"JESSLINE, AWAS!!"


Brugg..!!


Tubuh Luna terhempas ke trotoar jalan setelah seseorang mendorongnya dengan keras di susul suara benturan keras dari arah jalan tempat Luna terpaku tadi. Sontak saja dia menoleh dan mendapati tubuh Ken terpental setelah terhantam bagian depan mobil sebelum akhirnya berakhir di aspal dengan bersimbah darah.


Kedua mata Luna membelalak berkaca-kaca. Dengan segera di berlari ke arah jalan yang sudah penuh dengan orang-orang. Mereka mengerumuni Ken yang sedang tak sadarkan diri.


"Tuan Zhao buka matamu." Lirih Luna memohon. Luna mengangkat kepala Ken dan memindahkan ke atas pangkuannya. Tangannya yang gemetar mengusap darah yang mengalir dari kepala Ken.

__ADS_1


Air matanya jatuh semakin deras karena Kem tak kunjung membuka matanya meskipun Luna sudah berkali-kali mengguncang tubuhnya sambil memanggil namanya. "Hiks, bangun. aku mohon buka matamu. Tuan Zhao, bangun dan jangan membuatku takut. Ken, bangun." Mohon Ken sambil berurai air mata.


Orang-orang yang berkerumun di sana dan menatapnya dengan iba. "Siapapun tolong bantu saya membawanya ke rumah sakit."


"Tunggu sebentar lagi, Nona, ambulans akan segera tiba."


"DAN MEMBIARKAN PRIA INI MENINGGAL KARENA KEHABISAN DARAH!" bentak Luna dengan nada meninggi.


Dan pandangannya kembali bergulir pada Ken yang tetap tidak sadarkan diri. "Aku mohon bertahanlah." Lirih Luna memohon.


Tangannya terus mengusap darah yang menutupi sebagian wajahnya. Dan Luna tidak mungkin bisa memaafkan dirinya jika hal buruk sampai menimpa Ken. Apalagi dia menjadi seperti ini karena dirinya.


🌹


🌹


"Dokter, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"


Luna langsung berdiri dan menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD untuk menanyakan keadaan Ken. "Anda keluarganya?" tanya dokter itu memastikan. Luna mengangguk. "Suami Anda sudah melewati masa kritisnya dan dia sudah sadar. Meskipun sempat kehilangan banyak darah, tapi keadaannya sudah stabil." Tutur dokter itu menjelaskan.


Mendengar mata 'Suami' membuat perasaan Luna menghangat. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang menari-nari di dadanya. Wanita itu tersenyum malu-malu. "Lalu bisakah saya menemuinya?" dokter itu tersenyum dan mengangguk.


Luna membuka pintu bercat putih didepannya dan mendapati Ken tengah duduk sambil memegang sebuah ponsel yang menempel pada telinga kanannya. Perban terlihat membebat keningnya. Ada bercak darah tepat di atas alis kanannya. Yang menandakan jika luka itu masih baru.


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti." Kemudian Ken memutuskan sambungan telfonnya saat melihat kedatangan Luna.


Wanita itu terus menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Ken. Rasa bersalah kembali memenuhi perasaannya dan Luna sangat menyesali kebodohannya. Dia yang sudah membuat Ken celaka dan dialah penyebab dari kecelakaan itu.


"Jessline, apa yang kau lakukan?"


Ken tersentak kaget melihat Luna tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya dan berlutut didepannya. "Cepat berdiri." Pinta Ken menuntut.


"Maafkan aku, Tuan Zhao. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Ini semua salahku, aku yang sudah membuatmu celaka. Jika saja aku tidak berlari ke arah jalan raya, pasti kau tidak akan mengalami kecelakaan dan terluka seperti ini."


"Aku minta maaf dan aku mengaku salah tapi tolong jangan membenciku ataupun mengacuhkan ku. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu," air matanya tumpah begitu saja tanpa mampu dia cegah. Luna menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Hati Ken seperti dikoyak-koyak melihat Luna seperti ini. Dengan kasar dia mencabut infusnya kemudian turun dari tempat tidur dan berlutut di depan Luna.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan? Berhenti melakukan ini, HENTIKAN. Aku mohon," Luna membuka kembali matanya dan tersentak mendengar suara Ken yang berubah parau.


Tampak liquid-liquid bening bercucuran dari mata kanannya yang perlahan turun membasahi pipinya. "Tu..Tuan Zhao, kau menangis?"


Tanpa mengatakan apapun lagi Ken meraih bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Matanya tertutup rapat. "Aku rela meskipun harus kehilangan nyawaku asalkan aku baik-baik saja, Sayang. Cukup satu kali aku kehilanganmu dan aku tidak ingin hal itu terjadi lagi untuk yang kedua kalinya." Ujar Ken membatin.


Melihat seorang bos mafia yang paling ditakuti dan disegani menangis adalah sesuatu yang sangat menggelikan. Tapi Ken tidak peduli dengan hal itu. Dan siapa pun pasti akan merasakan hal yang sama jika berada di posisinya.


🌹


🌹


Malam sudah semakin larut dan siang yang terik telah berlalu sejak beberapa jam yang lalu. Tergantikan oleh malam bertabur bintang. Bulan berpendar memancarkan keelokkannya.


Udara malam yang dingin semakin menusuk hingga ke dalam sumsum tulang. Tapi Ken tak juga menutup jendela kamarnya. Dia ingin melihat keindahan Bulan tanpa ada yang menghalangi keindahan sinarnya.


Angin malam yang berhembus terasa semakin membekukan. Mengibarkan tirai transparan yang berada di sisi kanan Ken. Langit malam ini terlihat gelap. Awan hitam tipis perlahan menutupi sinar bulan. Membuat malam yang kelam semakin suram.


Seharusnya Ken masih di rawat di rumah sakit pasca kecelakaan yang dia alami semalam. Dan Ken yang dasarnya memang sangat membenci segala sesuatu yang berbau rumah sakit, memutuskan untuk keluar malam itu jua setelah beberapa jam dia sadar.


Tidak ada yang bisa menghentikannya, baik itu pihak rumah sakit atau Luna sekali pun. Ken terlalu keras kepala untuk mendengarkan orang lain.


Lelah berdiri dalam waktu yang lumayan lama. Ken memutuskan untuk beranjak dari ambang jendela. Dan langkah kakinya terhenti saat mata kanannya melihat siluet wanita yang sedang meringkuk kedinginan di sofa.


Ken mendengus berat. Ternyata kebiasaan lama istrinya yang suka tidur di sembarang tempat belum hilang. Dengan langkah tanpa suara. Ken mendekati Luna kemudian mengangkat tubuhnya dan membaringkan di atas tempat tidur miliknya.


Sudut bibir Ken tertarik ke atas. Jari-jarinya dengan lembut mengusap kepala coklat Luna. Dan satu kecupan mendarat pada keningnya, meletakkan bibirnya di sana cukup lama.


"Aku tidak meminta banyak darimu, Sayang, aku hanya ingin kau bisa segera mendapatkan kembali ingatanmu dan mengingat semua kenangan kita karena aku sudah sangat merindukanmu."


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG.


__ADS_2