
"Uhhh, Sial!! Kenapa perutku sakit sekali,pasti karena belum makan malam. Brengsek, ini karena si anak mami itu. Jika bocah TK itu tidak mengaturku ini dan itu, harus begini dan harus begitu. Pasti sakit lambungku tidak akan kambuh."
Viona terus menggerutu sepanjang jalan, sebelah tangannya terus memegangi perutnya yang terasa sakit.
Viona menderita penyakit lambung sejak lama, selama ini dia selalu menjaga supaya penyakit menyebalkannya itu tidak kambuh. Tapi malam ini benar-benar kambuh karena telat makan.
"Aaahhh," gadis itu memekik kaget saat merasakan tangan dingin seseorang menggenggam pergelangan tangannya. Sontak Viona menoleh dan mendapati seorang bocah perempuan tengah menatapnya.
"Kakak, ini makanan dan obat lambung untukmu. Seseorang menitipkannya padaku dan memintaku memberikannya padamu." Ucap bocah perempuan itu.
"Seseorang? Siapa?"
"Dia ada di sa.. Eh, kemana perginya kakak tampan itu?! Tadi dia ada di sana," bocah perempuan itu tampak kebingungan karena orang yang menyuruhnya sudah tidak ada.
Viona tersenyum. Tanpa melihat orangnya pun tentu dia sudah tau siapa yang mengiriminya makanan dan obat lambung. Ternyata dia masih sangat peduli padanya, meskipun ada jarak diantara mereka.
"Baiklah, Kakak terima makanan ini. Oya, ini upah untukmu. Jika kau bertemu dengan kakak itu lagi. Katakan terimakasih dariku ya," Viona menepuk kepala anak perempuan itu dan melenggang pergi.
.
.
"Viona,"
Gadis itu menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya dan menghela napas. Baru saja dia lepas dari satu benalu, sekarang malah bertemu benalu lainnya. Dan siapa lagi jika bukan si mantan.
David menghampiri Viona yang memasang muka masam. Dari ekspresinya sangat jelas terlihat jika gadis itu tidak dalam keadaan senang. Ya, memang mana mungkin dia senang bertemu dengan manusia menyebalkan seperti mantannya satu ini.
"Vi, aku sudah mencarimu dari ujung dunia ke dunia lainnya. Sudah melewati ribuan planet dan bintang. Bahkan aku mendaki gunung satu ke gunung yang lain, menyebrangi satu samudera ke samudera lainnya tapi tetap tidak menemukanmu juga. Dan itu membuatku sangat sedih,"
Viona mendorong wajah David ketika pria itu hendak memeluknya. "Jangan pernah menyentuhku lagi!! Apa kau lupa dengan pribahasa buanglah mantan pada tempatnya, dan barang bekas sepertimu juga sudah aku buang ketempat yang seharusnya!!"
"A...Apa maksudmu berkata seperti itu? Viona, apa kau tidak sadar jika kata-katamu itu telah menusuk hatiku yang romantis ini. Aku, terluka!!"
Viona memutar matanya jengah. "Sudahi drama bodoh ini!! Bukankah aku sudah bilang jangan menggangguku lagi, apa kau tuli?! Pergi sana, kedatanganmu benar-benar merusak pemandangan indah malam ini!!"
__ADS_1
"Kau jahat, Viona. Aku tidak akan pergi meskipun tiba-tiba ada hantu gentayangan muncul di hadapanku,"
"Kau memanggilku!!" Tiba-tiba Suketi muncul dan mengejutkan David.
"Huuaaaa Setan!!" Dia berteriak histeris karena kemunculan Suketi yang tiba-tiba.
David memperhatikan sosok di depannya guna memastikan dia asli atau palsu. Melihat kedua kakinya yang tidak menapak diaspal membuatnya sadar jika yang muncul adalah hantu sungguhan bukan bohongan.
"Hihihi!!"
"Ja..Jangan mendekat. Huaaa... Mama, selamatkan anakmu ini."
"Tampan dan rupawan jangan takut. Kemarilah dan temani Suketi bermain, hihihi..."
David terkencing di celana saking takutnya. Dan kedatangan Suketi membuat Viona terbebas dari si mantan yang sangat menyebalkan itu. "Titi, barang bekas itu aku serahkan padamu. Terserah mau kau apakan, itu bukan urusanku lagi." Ucap Viona dan pergi.
"Viona, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku bersama mahluk ini!! Huaaa.. Viona cepat kembali, huhuhu. Jangan tinggalkan aku!!"
"Sayangku, malam ini kita bersenang-senang ya. Sudah lama Suketi tidak ***-*** dengan manusia. Hihihi!!"
-
-
Langit mendung menyelimuti seluruh kota Seoul malam ini, semendung hati seorang gadis yang berjalan di tengah keramaian kota itu. Kakinya terus berjalan lurus, menuju ke tempatnya berteduh dari hujan dan panas selama ini.
Namun pikirannya sedang berada di alam lain, ia tak menaruh perhatian pada jalan di depannya. Kakinya berjalan seolah sudah hafal semua jalan-jalan yang telah dan akan ia lalui.
Tubuh rampingnya dalam balutan dress hitam bermotif mawar, berlengan panjang namun trasparan. Rambut panjangnya yang mencapai pinggangnya dibiarkan tergerai dan jatuh diatas punggungnya yang terbuka. Sangat kontras dengan udara malam ini yang sangat menusuk.
Rintik Hujan mulai turun membasahi semua yang ada dibawahnya, termasuk gadis yang sedang berjalan tadi. Pikirannya mulai kembali ke otaknya, ia menyadari bahwa hujan mulai deras, membasahi seluruh tubuhnya yang hanya terus berjalan lurus.
Ia berhenti berjalan dan mendongak keatas, menatap langit yang semakin mendung dan rintik hujan yang berebutan turun membasahi tubuhnya. Ia tidak seperti orang lain yang segera mencari tempat berteduh, ia hanya menatap dan terus menatap langit dari tadi.
"Bisakah hujan membawa kesedihan ini pergi?" Ia tersenyum pilu.
__ADS_1
Pertunangannya tinggal menghitung hari. Sudah tidak ada waktu untuk menghentikannya. Karena undangan telah disebar dan seluruh persiapan sudah hampir 100%. Bisa saja dia menolak perjodohan itu, tapi ia tidak ingin membuat kecewa kakeknya.
Gadis itu 'Viona' selalu mencari celah untuk membatalkan pertunangan tersebut, namun celah itu sama sekali tidak bisa ia temukan. Membatalkan pertunangan itu sekarang, sama saja dengan melemparkan kotoran ke muka kakeknya.
Viona sangat menyayangi Kakek Hilman. Dan dia tidak bisa membuat pria tua itu sampai kecewa apalagi bersedih, terlebih-lebih karena dirinya.
Hujan semakin deras, ia tidak ingin memikirkan apa-apa. Viona hanya diam mematung meskipun hujan terus menerjangnya tanpa ampun, ia membiarkan air hujan mendinginkan kepalanya.
Viona memejamkan matanya, ia mulai merasa kedinginan. Ia membuka matanya, menatap langit yang mendung dan kelam itu, butiran air mata mengalir deras ke pipinya, ia tak tahu itu air mata atau rintik hujan yang mengenai wajahnya.
"Apa kau sudah Hilang akal? Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu terguyur air hujan seperti ini?!"
Sebuah suara dingin nan datar membuatnya menoleh, dan ia tidak merasakan butiran air hujan membasahi tubuhnya lagi. Sebuah payung menutupi kepalanya, ia melihat kearah pemilik suara tadi, orang yang sama dengan yang memayunginya sekarang ini.
"Kakak," Viona langsung berhambur ke dalam pelukan Vincent dan menangis semakin keras.
Vincent tau apa yang Viona rasakan saat ini. Ia memahami betul apa yang dirasakan oleh sang adik. Bukan pria itu yang Viona inginkan sebagai pendamping hidupnya kelak, tapi orang lain. Seorang pemuda yang telah berhasil mencuri hati adiknya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa kau harus menyiksa dirimu seperti ini?!"
"Aku sungguh-sungguh tidak ingin bertangan dengannya, aku tidak mau memiliki suami anak mami itu. Kakak, bantu aku, bantu aku menghentikan pertunangan ini. Aku mohon,"
"Aku tidak mengerti dengan kau dan dia. Kalian saling mencintai tapi kenapa harus saling menyakiti. Apa yang membuat kalian sama-sama tidak mau mengakui perasaan masing-masing? Kalian berdua sama-sama membuatku frustasi."
Kemudian Vincent melepaskan pelukan Viona. Jari-jarinya menghapus butiran air mata di pipi adik kesayangannya itu. Ini pertama kalinya Vincent melihat Viona menangis setelah kepergian orang tua mereka beberapa tahun yang lalu.
"Ayo pulang, kita bisa membicarakan ini dengan Kakek. Jika Kakek masih bersikeras, biar Lucas Hyung yang turun tangan." Ucap Vincent yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
Vincent merangkul bahu Viona. Keduanya berjalan ke tempat dimana mobil Vincent diparkirkan.
-
-
Bersambung.
__ADS_1