
Apa yang menimpa Luna telah sampai ke telinga Ken. Ken juga sudah melihat aksi Luna ketika berkelahi melawan orang-orang yang hendak menculiknya. Rupanya ada yang merekam aksi Luna lalu mengirimkan videonya pada Ken.
Sungguh Ken tidak pernah menduga jika istrinya itu menguasai bela diri. Tapi itu bagus juga untuknya, karena dengan begitu dia tidak akan mudah untuk ditindas apalagi menjadi korban kejahatan.
"Papa, kau mau kemana? Kau masih sakit, Kakak cantik bisa memarahimu jika dia tau kau kelayapan."
"Papa ada urusan sebentar, ya sudah Papa pergi dulu."Ken menepuk kepala Daniel dan pergi begitu saja.
Daniel tidak tau hal penting apa yang mau Ken urus, sampai-sampai dia memaksakan untuk pergi padahal masih sakit. Bahkan perban masih belum mau beranjak dari keningnya.
Bocah laki-laki itu mengangkat bahunya, kemudian dia berbalik dan kembali ke kamarnya. Dia tidak seharusnya mengurusi urusan orang dewasa.
Daniel mau ganti pakaian, dia ingin makan di luar, dan Daniel akan meminta Paman Wang untuk menemaninya.
-
-
Ken hanya menatap datar pada sosok wanita yang tengah tak sadarkan diri itu. Dia adalah istri dari orang yang menjadi dalang, dibalik insiden penculikan yang nyaris saja menimpa Luna.
Jika pria itu menggunakan cara licik, maka Ken akan akan menggunakan cara yang lebih licik. Ken tau jika wanita ini adalah kelemahannya, dan dia tidak akan berani macam-macam sama wanita ini ada di tangannya.
"Bos, lalu bagaimana sekarang enaknya wanita ini kita apakan?" tanya seorang pria bertubuh tinggi dan berambut cepak. Dia menatap Ken penasaran.
"Biarkan saja, kita tidak perlu menyakitinya. Karena dia adalah senjata utama kita untuk membuat dia itu bertekuk lutut. Dan dia tidak akan berani macam-macam selama wanitanya ada di tangan kita!!" jelas Ken.
"Kami mengerti Bos, dan urusan wanita ini serahkan pada kami!!" Ken mengangguk.
Tidak ada urusan lagi di tempat ini, Ken memutuskan untuk pergi. Dia akan menyusul Luna, karena setahunnya Gadis itu pergi untuk bertemu dengan teman-temannya.
🌺
🌺
Ting...
__ADS_1
Perhatian Luna teralihkan oleh suara denting pada ponselnya. Gadis itu memicingkan matanya melihat nama Ken tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Dalam pesan singkat itu, Ken menanyakan dia ada dimana.
Kemudian Luna pun mengetik pesan balasan untuk Ken. Tak lupa dia juga menyematkan sebuah foto di dalam chat tersebut. Dan mengatakan jika dirinya sedang bersama kedua sahabatnya.
Ting...
Kembali, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Luna menjadi begitu sibuk berkirim pesan dengan Ken. Dan hal itu membuat kedua sahabatnya menjadi sangat penasaran, mereka penasaran dengan siapa sebenarnya Luna berkirim pesan.
"Kau serius sekali, memangnya dari siapa?" Tanya Sunny penasaran.
"Bukan siapa-siapa, hanya seorang teman," jawab Luna tanpa menatap lawan bicaranya.
"Teman, jika hanya teman tapi kenapa kau terlihat begitu sibuk, eh? Atau jangan-jangan yang kau maksud adalah si tampan waktu itu?" Tebak Chia 100% benar.
"Hm,"
"Maaf, aku datang sedikit terlambat."
Suara berat seorang pria yang berkaur di telinga menginterupsi perbincangan mereka bertiga. Ketiganya menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di samping meja mereka.
Pandangan pria itu lalu bergulir pada satu-satunya gadis yang bersikap acuh padanya. Bibirnya menyungging senyum tipis. Kemudian dia duduk di samping Luna. "Kau Luna kan? Perkenalkan, aku Albert." Ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Ya, aku Luna." Jawab Luna dingin.
Sunny langsung menginjak kaki Luna dan melotot padanya. Menurutnya Luna tidak sopan sama sekali. "Ck, jaga bicaramu Luna William. Apa-apaan itu tadi huh." Bisik Sunny.
"Kenapa harus bicara bisik-bisik, lalu aku harus bersikap seperti apa?"
"Dasar gadis ini!! Albert, maaf ya. Luna memang seperti itu orangnya. Dia suka ceplas-ceplos kalau bicara. Tapi sebenarnya dia baik kok orangnya. Kami berdua harap kau tidak tersinggung olehnya." Ujar Chia merasa tidak enak hati karena sikap Luna.
Albert tersenyum. "Tidak masalah, justru sikap Luna yang seperti ini membuat aku semakin tertarik padanya. Dan aku sangat berterimakasih karena kalian sudah mau mengenalkan aku dengannya." Tutur Albert menimpali.
Dari ucapan pria ini, luna bisa menebak jika Chia dan Sunny ingin menjodohkannya dengan Albert. "Lun, kau sangat beruntung karena Albert tertarik padamu," ucap Sunny dengan mata berbinar-binar.
"Dan kau tidak akan rugi jika berpacaran dengannya, ia adalah putra tunggal keluarga Im. Dan perusahaan ayahnya masuk 10 besar, sebagai perusahaan terbesar se-asia. Dan perusahaan ayah Albert ada di posisi ke-7. Hebat bukan?"
__ADS_1
Luna hanya memutar jengah matanya. Melihat wajah bangga Albert membuat Luna merasa muak, bagaimana dia bisa begitu bangga dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang tuanya?!
Lagipula itu tidak ada apa-apanya, karena suami Luna adalah salah satu dari 10 pengusaha terkaya di dunia. Lebih hebat mana? Tentu saja suaminya.
Ting...
Yang ada di atas pintu kafe berhenti menandakan ada pelanggan yang datang. Seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun dan pria berusia setengah abad, berjalan beriringan memasuki Cafe.
"Eo?!"
Bocah laki-laki itu tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat keberadaan Luna di salah satu meja yang dekat dengan seorang pria berusia setengah abad.
"Kakak cantik!!" serunya sambil menghampiri Luna.
Luna tersenyum lebar. Mimik mukanya sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu. "Sayang," Luna bangkit dari duduknya dan menghampiri Daniel sambil merentangkan tangannya.
"Huaa.. Ternyata kakak cantik makan di sini. Tau begitu aku tadi ikut bersama kakak cantik saja. Oh iya Kakak cantik, daniel ingin melapor sesuatu padamu." Mimik wajahnya berubah serius.
Luna memicingkan matanya. "Memangnya Daniel ingin melapor soal apa pada Kakak cantik?" tanya Gadis itu penasaran.
"Ini tentang papa. Hari ini Papa pergi dan tidak mendengarkan nasehat Kakak cantik, katanya ada urusan. Dan Daniel sendiri tidak tahu Papa pergi kemana, saat pulang nanti kakak cantik harus memarahinya. Padahal dia masih sakit, tapi tidak mau mendengarkan apa kata Kakak cantik!!"
Sepertinya Daniel ingin memprovokasi Luna supaya marah pada Papahnya. Meskipun mereka sudah berdamai, tapi tetap saja dan memiliki dendam pada sang ayah.
Bocah itu tertawa dalam hati. "Hehehe.. Apa Akhirnya aku bisa membalas dendam padamu," ujarnya membatin. Karena Daniel sangat yakin jika Luna pasti akan memarahi ayahnya.
"Jangan berharap terlalu banyak kau bocah, karena Luna tidak akan berani macam-macam padaku!!" sahut seseorang dari arah belakang.
Kedua mata Daniel membelalak. Dia menoleh dan?! "PAPA?!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1