PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Malas Berdebat!!


__ADS_3

Hukuman dari Luna benar-benar membuat Cello seperti hidup dalam dunia abu-abu. Bagaimana tidak, dia dilarang bermain ponsel, game konsol, menonton televisi kecuali akhir pekan. Padahal bocah laki-laki itu tidak bisa hidup tanpa benda canggih tersebut.


Berbeda dengan Marcello. Marissa justru bersikap biasa saja. Tidak seperti Cello, dia justru tidak peduli. Karena Marissa memang tidak terlalu suka apalagi ketergantungan pada ponsel. Dia lebih suka membaca buku dari pada bermain benda tipis nan canggih tersebut.


"Ck, tidak bisakah kau diam sebentar. Aku pusing melihatmu yang mondar-mandir seperti setrikaan rusak!!" Cibir Marissa yang mulai terganggu dengan apa yang dilakukan oleh saudara kembarnya itu.


"Huhuhu... Riri, kau ini adik macam apa?! Kenapa kau tidak ada simpatik-simpatiknya sedikit pun pada kakak sendiri!!"


Marissa mendecih. "Cih, memangnya siapa yang adikmu?! Jelas-jelas aku yang Kakak disini, karena aku lahir lebih dulu!!" Ucap Marissa menegaskan. Dia tidak mau disebut sebagai adik oleh Cello.


Cello menatap Marissa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kenapa kau ini keras kepala sekali sih, mengalah saja sama saudara sendiri. Kau ini adik, dan aku Kakak karena lahir setelah dirimu!!!" Kata Cello menegaskan.


Lagi-lagi Marissa mendecih dan meninggalkan Cello begitu saja. Dia malas berdebat terlalu lama dengan saudara kembarnya itu. Lebih baik Marissa membantu ibunya menyiapkan makan malam di dapur.


.


.


"Ma,"


Luna menoleh setelah mendengar suara cempreng putri kecilnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat kedatangan Marissa. Wajahnya terlihat sebal dan kesal. Dan Luna berani bersumpah jika itu ada hubungannya dengan Cello.


Marissa memeluk Luna lalu mengadu pada sang ibu jika saudara kembarnya itu sudah membuat dirinya kesal setengah mati. Dan Luna hanya bisa menghela napas panjang, dia tidak lagi merasa heran sama sekali, karena hal semacam itu sudah sering terjadi.


"Ya sudah, lebih baik bantu Mama menyiapkan makan malam." Kata Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Marissa.


Meskipun masih kecil dan usianya baru genap 10 tahun. Tapi Marissa sudah pandai dalam urusan masak memasak. Karena dia sering membantu Ibunya memasak. Dan Marissa akui, jika masakan ibunya adalah yang terbaik.


"Ma, aku bantu mencuci buah saja ya." Ucap Marissa sambil tersenyum. Luna mengacak rambut Rissa lalu mengangguk.


"Baiklah, Sayang."

__ADS_1


Jam dinding masih menunjuk angka 18.30, artinya masih ada waktu sekitar 30 menit lagi sebelum makan malam. Dan mungkin Ken akan pulang sebentar lagi, karena dia bilang tidak lembur malam ini.


Dan semua makanan yang Luna masak malam ini adalah kesukaan Ken, Daniel dan si kembar. Luna tidak mau jika mereka malah pilih-pilih makanan jika tidak sesuai selera, apalagi Daniel dan Cello. Karena mereka paling rewel soal makanan.


-


-


Ken memijit pelipisnya yang terasa pening. Ayah tiga anak itu melepas kaca mata berframe hitam yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya.


Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Bagaimana tidak, Ken membutuhkan sekretaris baru dan Leon malah membawa wanita Jadi-Jadian ke kantor. Leon bilang dia adalah kandidat paling tepat untuk menjadi sekretaris barunya.


Dan tentu saja Ken menolak dengan keras. Dia membutuhkan seorang sekretaris yang profesional, bisa diandalkan dan juga bertanggung jawab. Dan Leon malah membawa mahluk dua alam, w*ria. Datang ke kantornya.


"Kau belum pulang?" Ken mengangkat wajahnya dan mendapati Devan menghampirinya. Di tangannya menggenggam dua cup kopi yang baru saja di seduh lalu menyerahkannya pada Ken. "Masih memikirkan masalah tadi siang?" Tebak Devan 100% benar.


"Hn, dan bisakah kau tidak membahasnya lagi!!" Ken menatap Devan tajam.


Sekretaris lama Ken mengundurkan diri karena sedang hamil besar dan sebentar lagi melahirkan. Itukah kenapa dia sangat membutuhkan sekretaris untuk saat ini.


"Akan ku bicarakan lebih dulu dengan Luna. Aku tidak bisa asal mengambil keputusan tanpa berbicara dulu dengannya."


"Aku mendukungmu, brother. Kau mau pulang kapan? Mobilku masuk bengkel dan aku ingin menebang, sekaligus numpang makan. Sudah lama aku tidak ikut makan malam bersama kalian."


"Tidak masalah. Kebetulan Luna masak lumayan banyak malam ini. Sepertinya anak-anak juga sudah merindukanmu. Sejak kau memutuskan untuk pindah ke apartemen milikmu sendiri, kau jadi jarang bertemu dengan mereka." Tutur Ken.


"Betul juga, kalau begitu aku tunggu kau di luar sekalian aku mau mengambil barang-barangku lebih dulu."


"Hn,"


-

__ADS_1


-


Luna baru selesai mandi saat pintu di buka dari luar. Sosok Ken dengan wajah lelahnya memasuki kamar mereka. Luna yang selesai masak merasa gerah, itulah kenapa dia memutuskan untuk mandi lagi.


Wanita itu masih dengan handuk yang melingkari dadanya berjalan menghampiri Ken yang sibuk menanggalkan jas dan dasinya. "Kau terlihat lelah, Ken. Apa pekerjaan hari ini sangat melelahkan?" Luna membantu Ken melepas jasnya.


"Hn," Ken hanya berdehem sambil mengangguk pelan.


"Kalau begitu segeralah mandi. Setelah ini kita makan malam sama-sama. Anak-anak sudah menunggu dari tadi." Ucap Luna, dia hendak beranjak dari hadapan Ken, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah Luna. "Ada apa?!"


"Setelah menggodaku dengan handuk sialan ini kau berniat kabur begitu saja, eh?! Tidak semudah itu, Nyonya!!" Ken menyeringai. Dia meraih tengkuk Luna lalu ******* bibirnya. Sebelah tangannya menarik pinggang Luna dan membunuh jarak diantara mereka.


Luna tidak menolak apalagi meronta dan berusaha melepaskan ciuman suaminya. Dia malah menerima ciuman itu dengan sangat baik. Dia membalas ciuman Ken dengan mel*mat dan menghisap bibir bawahnya.


Namun sayangnya ciuman mereka tak berlangsung lama, tak lebih dari satu menit. Karena jika diteruskan mereka bisa kebablasan dan membuat semua orang menunggu.


"Kita lanjutkan nanti malam. Aku mandi dulu," Ken mengecup kening Luna dan pergi begitu saja.


Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Ken. Kemudian Luna meninggalkan kamarnya untuk memanggil anggota keluarganya yang lain. Makan malam kali ini bertambah satu orang lagi, yakni Devan.


Saat ini Devan sedang menjadi bulan-bulanan Marcello dan Daniel. Lagi-lagi dia menjadi korban dari kenakalan dan kejahilan mereka berdua. Dan Luna hanya bisa menggelengkan kepala melihat bagaimana kenakalan dan kejahilan mereka berdua.


Tak mau ambil pusing. Luna melenggang menuju dapur. Dia masih harus menyiapkan kopi untuk Ken dan Devan, namun teriakan keras dari teras menghentikan langkah kakinya.


"ANAK-ANAK, NENEK BUYUT PULANG!!"


"NENEK BUYUT!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2