
Ken menghentikan mobil mewahnya di parkiran rumah sakit yang berada di pusat kota. Pria itu segera turun dari mobilnya begitu pula dengan Jessline. Jessline menatap bangunan bertingkat dihadapannya dan lagi-lagi dia merasa familiar.
"Rumah sakit ini?"
Jessline merasa seperti pernah mendatangi rumah sakit ini sebelumnya tapi lagi-lagi dia tidak ingat kapan itu. Dan hal yang sama lagi-lagi terulang untuk yang kesekian kalinya.
Sebuah bayangan tiba-tiba memenuhi kepalanya bagaikan sebuah roll film yang berakhir di setiap episode-nye. Dan nyaris saja Jessline jatuh pingsan jika saja Ken tidak sigap menahan punggungnya.
"Sentuhan ini! Kenapa rasanya begitu familiar? Ken Zhao, siapa kau ini sebenarnya? Kenapa semua yang ada pada dirimu begitu familiar untukku?" batin Jessline sambil mengunci iris mata hitam milik Ken.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ken memastikan. Jessline segera mengangguk dan meyakinkan pada Ken jika dirinya baik-baik saja. "Tunggulah sebentar di sini. Aku akan segera kembali,"
Tak lama setelah kepergian Ken. Terlihat seorang pria berjalan menghampiri Jessline. Kedua mata itu membelalak sempurna saat melihat sosok pria yang ada dihadapannya."Kim Marco." Batin Jessline menjerit. Dan laki-laki itu menyeringai tajam ke arah Jessline.
"Hahaha! Mau lari kemana lagi kau, Jessline Jung? Kau pikir bisa selamanya lari dariku?"
Jessline menggelengkan kepalanya saat melihat Marco berjalan semakin mendekat kearahnya. Wanita itu berjalan mundur hingga tanpa sengaja punggungnya berbenturan dengan dada bidang seseorang. Sontak Jessline mengangkat wajahnya dan wanita itu mendesah lega saat melihat siapa yang berdiri dibelakangnya.
Ken menarik lengan Jessline dan menempatkan wanita itu di belakang punggungnya. Posisinya dan Marco saling berhadapan. "Siapa kau. Hah? Sebaiknya tidak usah ikut campur. Pamannya memiliki banyak hutang pada bosku dan dia menggunakan keponakannya yang cantik ini sebagai jaminan semua hutang-hutangnya jadi cepat serahkan dia padaku."
Ken memiringkan sinia dan menatap Marco dengan seringai meremehkan. "Memuakkan."
Kemudian Marco mengeluarkan senjata dari balik jasnya dan menodongkan pada Ken. Ujung pistol itu mengarah pada kepala pria itu. Tidak ada rasa takut sedikit pun tersirat dari sorot matanya yang dingin.
Pria itu terlihat tenang-tenang saja meskipun ujung pistol menempel pada keningnya. Tapi hal berbeda justru ditunjukkan oleh Jessline. Wanita itu menggeleng, dia takut bila Ken sampai terluka hanya untuk melindungi dirinya.
"Aku akan memberimu dua pilihan. Serahkan wanita itu padaku dan kau boleh pergi atau mati di sini?"
Ckreekkk...!!!
Ken balik menodongkan senjatanya pada Marco sambil mengurai seringai setipis kertas."Kau pikir kau siapa bisa mengancamku?" sinis Ken sambil menatap tajam pada pria dihadapannya. "Sebaiknya kau segera kembali dan katakan pada, bosmu, yang idiot itu jika aku tidak akan menyerahkan wanita ini padanya."
"Sialan! Cari mati kau rupanya!!"
Doorr..!!!
Tanpa ragu Ken langsung melepaskan tembakkannya pada Marco. Tubuhnya ambruk seketika setelah timah panas yang berasal dari senjata Ken menembus kaki kirinya. "Si-sialan kau! Apa yang kau lakuk-"
Doorr...!!!
"AARRKKKHHH....!!!"
Sekali lagi sebuah timah panas Ken lepaskan begitu saja dan kali ini giliran kaki kanannya. Ken menghampiri Marco kemudian mensejajarkan posisinya dengan pria itu. Salah satu tangan Ken mencengkram rahang Marco dengan keras. Tatapan tajam Ken yang seolah menel*njangi membuat pria itu bergidik ngeri.
"Itu hanyalah sebuah peringatan kecil untukmu. Jangan pernah menguji kesabaran ku jika kau masih ingin hidup dalam keadaan tubuh yang utuh. Dan aku tidak akan segan-segan untuk memenggal kepalamu jika kau masih berani mengganggunya. Sampaikan itu pada bosmu. Kita pergi dari sini."
Ken meraih tangan Jessline dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Tidak mungkin juga Ken membawanya pulang tanpa mengetahui bagaimana keadaannya saat ini.
🌹
🌹
__ADS_1
Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Sudah lebih dari sepuluh menit setelah mereka meninggalkan rumah sakit. Mobil sport mewah milik Ken membelah jalanan yang sedikit lengang.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ken maupun Jessline. Sesekali Ken melirik wanita yang duduk di samping kanannya dari ekor matanya. Wanita itu terus saja diam sambil menatap ke luar jendela.
"Setelah insiden itu, apa kau masih bersikeras untuk pergi dan kembali menjalani hidupmu seperti dulu?" sontak Jessline menoleh dan menatap Ken yang juga menatap padanya. "Aku harap kau mau memikirkan kembali tentang keinginan bodoh mu itu."
Kali ini Jessline tidak merespon sama sekali. Dia terlalu malas untuk menulis dan memilih tetap diam. Perlahan wanita itu menutup matanya, menyembunyikan sepasang mutiara hazel nya di balik kelopaknya. Sungguh Jessline merasa lelah, bukan hanya tubuhnya tapi juga batinnya.
Kedua mata itu kembali terbuka saat Jessline merasakan jika mobil Ken tidak bergerak lagi. Sosok tampan itu tidak ada lagi disampingnya hanya jas hitamnya saja yang tergeletak di jok kosong di samping kirinya.
Pandangan Jessline kemudian bergulir dan dia mendapati Ken berdiri di tepi sebuah danau dalam posisi memunggungi. Wanita itu memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan menghampiri Ken.
"Tempat ini adalah salah satu tempat yang dulu sering aku datangi bersama mendiang istriku. Semasa hidupnya, danau ini adalah salah satu tempat favoritnya. Dan tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan." Ken mengambil jeda dalam kalimatnya.
"Aku minta maaf jika kata-kataku pagi ini sudah melukai perasaanmu. Aku memang tidak suka bila barang-barang milik Luna di sentuh oleh sembarangan orang. Begitu banyak kesamaan antara kau dan dia."
"Jujur saja. Bukan hanya paras kalian saja yang serupa namun caramu tersenyum, caramu berjalan, caramu bermain piano, tulisan tanganmu sampai caramu berpakaian. Sempat terfikir olehku jika kau adalah Luna yang sedang hilang ingatan, tapi setelah aku pikir lagi itu tidaklah mungkin karena saat ini dia sudah tenang di Surga." Tutur Ken panjang lebar.
Jessline menatap sendu pria disampingnya. Dia melihat kesedihan dan keputusasaan dari sorot matanya yang dingin namun terlihat rapuh. Sehancur itukah hati Ken karena kepergian Luna?
Meskipun di depan orang lain Ken terlihat kuat dan tegar, tapi Jessline tau jika sesungguhnya pria disampingnya itu sangatlah rapuh.
Entah di sadari atau tidak. Beberapa liquid bening mengalir dari sudut matanya yang perlahan turun dan membasahi wajah cantiknya.
Jessline merasakan pilu pada hatinya setelah mendengar apa yang Ken sampaikan tadi yang seperti mengiris-iris perasaannya. Dan hatinya selalu berdenyut sakit setiap kali melihat tatapan pilu yang Ken tunjukkan.
Tau harus melakukan apa. Jessline segera menulis sesuatu pada buku kecilnya kemudian menunjukkan pada Ken. "Aku sedikit kelaparan, bisakah kau mentraktirku makan sekarang?" Kevin mendengus geli apalagi saat melihat ekspresi wajah Jessline yang begitu menggemaskan.
"Jessline jung!!!"
Langkah keduanya terhenti setelah sebuah seruan keras seseorang yang memanggil nama lengkap Jessline menggema dan berkaur di telinga mereka. Sontak Jessline dan Ken menoleh dan mendapati seorang wanita serta dua pemuda berjalan menghampiri mereka.
Tubuh wanita itu terhuyung kebelakang karena terjangan mereka bertiga yang pastinya adalah Via, Sammy dan Key. Sedangkan Ken memilih diam dan melihat apa yang mereka lakukan.
"Aku lega melihatmu baik-baik saja. Dan apa kau tau bagaimana paniknya aku kemarin saat bocah ini memberitahuku jika pria gila itu menjual mu lagi demi melunasi hutang-hutangnya. Aku sampai frustasi karena ponselmu tidak bisa dihubungi. Tapi syukurlah kau dalam keadaan baik-baik saja. Aku merasa lega." Ujar Via sambil mengeratkan pelukannya.
Jessline mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan teman-temannya. Sungguh dia tidak ingin membuat mereka terutama Via terlalu mencemaskannya. Tapi kemarin Jessline memang tidak sempat untuk menghubungi mereka dan memberitahukan keadaannya.
"Maaf." Wanita itu berbisik lirih dan nyaris tak terdengar, suaranya menghilang tersapu oleh hembusan angin malam. Dia tidak ingin mengambil resiko lagi dengan memaksakan diri untuk bicara
Setelah beberapa saat. Jessline melepaskan pelukannya dan mengenalkan Ken pada teman-temannya dengan sebuah tulisan yang memang telah Jessline persiapkan sebelumnya karena wanita itu memang berencana untuk mengenalkan Ken pada mereka. Jessline ingin supaya teman-temannya mengenal sosok malaikat yang sudah menyelamatkan hidupnya.
Dan sementara itu, Key dan Sammy sedikit merinding ketika melihat sorot mata tajam Ken ditambah lagi dengan benda hitam bertali pada mata kirinya yang membuat sosoknya semakin terlihat misterius.
Via membungkuk pada Ken sambil mengucapkan terimakasih. "Sekali lagi terimakasih, Tuan Zhao, karena jika tidak ada Anda entah bagaimana nasibnya. Mungkin hidup Jessline akan jauh lebih buruk lagi karena kelakuan bejad pria itu."
"Bukan hal yang besar, tidak usah dipikirkan. Kami akan pergi makan malam dan kalian bertiga boleh ikut jika mau."
"Boleh-boleh, kebetulan sekali kami bertiga memang belum makan. Bukankah begitu, Kak Via, Kak Key." Sahut Sammy dengan cepat.
Sammy memang selalu paling depan jika sudah berurusan dengan yang namanya makanan. "Sakit!" kedua mata Sammy membelalak karena injakan Via. Pemuda itu sedikit merinding melihat tatapan horor wanita bermarga Hwang tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih atas tawaran dan niat baik Anda, Tuan. Bukan maksud kami ingin menolaknya, tapi kebetulan kami masih ada urusan. Kami permisi dulu, tolong jaga baik-baik Jessline kami, karena kami yakin dia akan aman jika bersama dengan Anda."
"Hn."
Jessline dan Via kembali berpelukkan sebelum mereka berpisah. Dan selepas kepergian mereka bertiga, hanya menyisakan Jessline dan Ken saja berdua di sana. Ken merangkul bahu Jessline dan keduanya berjalan beriringan menuju tempat di mana mobil Ken diparkirkan.
🌹
🌹
Usai makan malam, Ken langsung mengantarkan Jessline pulang ke mansionnya sementara dirinya langsung pergi lagi karena masih ada urusan penting yang harus diselesaikan.
Setengah jam berkendara, Ken tiba di lokasi dan kedatangannya di sana langsung di sambut oleh Ren dan Jimin yang memang sudah menunggu kedatangannya sedari tadi.
"Bos, mereka menunggu Anda di dalam." Ucap Ren, Ken melewati Ren dan Jimin begitu saja untuk menemui tamu-tamunya.
Suasana di dalam ruangan itu seketika menjadi hening ketika sosok Ken tiba dan menempati kursinya. Mata kanannya menatap satu persatu kelima orang itu dengan tatapan dingin dan datarnya. "Apa kalian membawa barang yang aku inginkan?" suara dinginnya memantul dan berkaur di dalam telinga ke lima pria itu. Kelimanya mengangguk dengan segera.
"Tentu saja, Tuan Zhao, dan ini adalah barang yang Anda inginkan." Jawab salah satu dari ke lima pria itu sambil menyerahkan sebuah koper hitam berukuran mini pada Ken.
Ken membuka koper tersebut. Alisnya memicing dan matanya kembali menatap kelimanya dengan tajam. "Apakah barang yang kalian bawa ini asli?" tanya Ken memastikan.
"Tentu saja asli, Tuan. Dan lagi pula mana berani kami menipu dan membohongi Anda."
Ken memberi kode pada Ren. Ren mengangguk lalu menghampiri Ken dengan sebuah koper yang didalamnya penuh dengan uang.
Mata kelima pria itu langsung berbinar setelah melihat begitu banyak uang yang mereka dapatkan. Tapi belum sempat tangan-tangan itu menyentuh koper tersebut. Sebuah timah panas menembus kepala dan dada mereka.
"Tu-tuan Zhao, apa yang sudah Anda lakukan? Ke-kenapa Anda membunuh saudara-saudara saya?" tanya satu pria yang tersisa dengan marah.
"Karena itu adalah harga mahal untuk para penipu seperti kalian. Aku tidaklah sebodoh itu sampai-sampai mudah kalian bodohi. Ren, Jimin, bawa pria ini dan s!ksa dia sampai mati!"
"Baik, Bos!"
-
🌹Spoiler buat bab selanjutnya🌹
"Maaf, Bos. Hanya itu informasi yang berhasil kami dapatkan. Tidak ada keterangan apapun tentang wanita bernama Jessline Jung itu."
"Kemungkinan besar dia adalah Luna yang sedang hilang ingatan, Ken."
"Aku akan meminta papa Valentino untuk datang, karena hanya dengan cek DNA kita bisa tau dia Luna atau bukan!!"
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1