PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Semirip Apa?!


__ADS_3

Sinar mentari pagi menelusup masuk melalui celah tirai. Menggantikan kegelapan malam yang sudah kehabisan waktu untuk menemani para manusia kelelahan. Malam yang dingin telah berlalu dan pagi di hari yang baru datang menjelang, memaksa para manusia kelelahan untuk segera bangun dan melanjutkan aktifitasnya.


Begitu pula dengan Ken. Dia bangun bukan karena sinar mentari yang semakin tinggi dan mengganggu tidurnya. Melainkan karena alunan melodi yang dimainkan dengan merdu dan indah oleh seseorang.


"Lagu ini," lirih Ken bergumam.


Melodi itu masih mengalun dengan lembut, merdu dan menenangkan jiwa. Benar-benar mencerminkan seorang pianis ternama. Melodi yang dimainkan sangat indah namun terasa rapuh.


Ken segera menyibak selimut tebalnya. Dengan langkah sedikit terburu pria itu berjalan meninggalkan kamarnya dan pergi menuju arah suara melodi itu berasal.


Dan setibanya di luar kamarnya, hawa dingin langsung menerpa kulit lengan dan dadanya yang terbuka. Angin musim dingin masih begitu terasa, sama seperti hatinya yang terasa dingin.


Ken memakai vest hitamnya tanpa menghentikan langkahnya. Dan langkah kakinya terhenti di ujung tangga ketika matanya melihat seorang wanita tengah duduk di depan sebuah piano sambil di temani bocah laki-laki berusia 9 tahun yang duduk disampingnya.


Tut-tus piano terus di tekan hingga menghasilkan sebuah melodi yang begitu lembut dan indah. Ken berjalan perlahan menghampiri wanita itu yang sepertinya masih belum menyadari kedatangan pria itu di sana, sampai suara dingin terlewat datar berkaur di dalam telinganya.


"Siapa yang mengijinkanmu memakai piano itu?"


Permainan piano itu berakhir. Sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jessline segera berdiri dan mendapati Ken berdiri dihadapannya dengan tatapan tajamnya, keterkejutan juga di tunjukkan oleh Daniel ketika melihat tatapan tajam sang ayah.


"Pa, jangan marah. Aku yang memintanya untuk~!!"


"Diam!! Siapa yang memberimu ijin untuk bicara, Daniel Zhao?! Sebaiknya kau kembali ke kamarmu!!" perintah Ken tak mau di bantah.


Melihat mimik wajah Ken membuat nyali Daniel langsung menciut, lalu dia menggulirkan tatapannya pada Jessline yang sedang mencengkram dress yang membalut tubuhnya.


"Maaf, Kak. Sebaiknya kau hati-hati, karena saat marah Papa sangat mengerikan. Aku pergi dulu," ucap Daniel dan pergi begitu saja.


Dengan gugup dan perasaan sedikit takut, Jessline menunjukkan sebuah buku yang tidak sengaja dia temukan di kamar yang dia tempati semalam. Ken mengambil buku itu dengan kasar.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan sentuh apapun yang bukan milikmu karena aku tidak suka jika benda milik mendiang istriku di sentuh oleh orang lain." Sinis Ken dan pergi begitu saja.


BLAMM!!


Dan bantingan keras pada pintu membuat Jessline terlonjak kaget. Hampir saja dia terkena serangan jantung dadakan. Sungguh dia tidak menduga bila Ken akan semarah itu padanya, dan Jessline sadar jika itu memang salahnya. Tidak seharusnya dia bertindak selancang itu dengan menyentuh sesuatu yang jelas-jelas bukan miliknya.


🌹


🌹


"Nomor yang Anda hubungi sedang tidak-"


Via memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Ini sudah yang kesekian kalinya dia menghubungi ponsel Jessline tapi selalu di luar jangkauan. Via tidak tau kemana perginya wanita itu karena Sammy sendiri tidak tau kemana dua pria itu membawa Jessline pergi.


Rasa cemas dan takut seketika memenuhi perasaan Via. Dia takut jika hal buruk sampai menimpa sahabatnya tersebut dan Via bersumpah akan membunuh ayah Sammy jika sampai terjadi sesuatu pada Jessline.


"Noona, bagaimana?" tanya Key dan Sammy hampir bersamaan.


"Dengan apa? Berjalan kaki? Noona, sebaiknya pikir pakai logikamu. Aku tidak memiliki motor apalagi mobil, dan jika aku menggunakan taksi, aku masih harus berjalan sepuluh menit dari rumah jadi bagaimana aku bisa menyusul mobil yang membawa, Jessline Noona?!!"


Via mendesah berat. Dia hanya bisa berharap semoga wanita itu baik-baik saja di mana pun saat ini dia berada.


Ting...!!


Wanita itu terlonjak kaget karena sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Kedua matanya membelalak melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "JESSLINE, MENGIRIMIKU PESAN!" serunya lantang membuat Sammy dan Key menoleh serentak.


"Benarkah? Noona, apa yang, Jessline Noona, katakan? Dia baik-baik saja kan?" tanya Sammy memastikan


Kemudian Via menunjukkan foto yang Jessline kirim pada Sammy dan Key. Dan melihat wanita itu baik-baik saja membuat keduanya menghela nafas lega. "Dia mengatakan sekarang berada di tempat yang aman. Seseorang menyelamatkannya dan melindungi dirinya. Jessline ingin bertemu dengan kita akhir pekan ini." Tutur Via.

__ADS_1


"Benarkah?" wanita itu mengangguk dengan mantap. "Syukurlah. Sam, bagaimana kalau kita lanjutkan bermain monopolinya?" usul Key membuat kedua mata Ren berbinar seketika.


"Setuju."


Via mendengus berat, melihat tingkah mereka berdua terkadang membuatnya ingin mengirim kedua pemuda itu ke kutub utara. Mengabaikan mereka berdua. Via berbalik dan pergi begitu saja.


-


-


Jessline melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya dengan kasar. Helaan nafas berkali-kali keluar dari bibirnya.


Jessline benar-benar merasa bosan berada di istana semegah ini karena tidak ada aktivitas apapun yang bisa dia lakukan. Jessline hanya diam panjang hari tanpa melakukan apapun.


Dan jika boleh memilih, dia lebih suka menikmati hidupnya di luar meskipun dalam bahaya, tapi dia masih bebas untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Daripada harus seperti seekor burung yang berada Di dalam Sangkar Emas.


Wanita itu bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan ke arah balkon kamar. Sepasang biner hazel nya, langsung dimanjakan oleh ratusan bunga mawar yang tumbuh subur di halaman belakang kediaman Zhao ini.


"Apakah pria dingin seperti dia menyukai bunga, rasanya tidak mungkin. Mungkin bukan dia, tapi orang lain yang menyukainya." gumam Jessline tanpa suara.


Di bawah sana, banyak orang-orang berpakaian formal dan bersenjata. Tempat ini dijaga begitu ketat orang yang gagah dan terlihat kuat. Tatapi tidak mengherankan, mengingat jika Ken adalah seorang bos mafia dan sudah pasti memiliki banyak anak buah.


Tiba-tiba Jessline teringat sesuatu. Wanita itu kembali ke dalam kamarnya lalu berdiri di depan cermin. Dia memperhatikan wajahnya dengan seksama, apakah semirip itu dirinya dan istri Ken yang telah tiada, sampai-sampai orang menganggapnya sebagai wanita itu.


"Apakah kami benar-benar semirip itu, sampai-sampai banyak yang mengira aku adalah arwah dari istri pria itu yang telah tiada?" gumam Jessline membatin.


Jessline jadi ingin melihat, semirip apa dirinya dengan wanita itu sampai bisa mengobati rasa rindu Ken pada mendiang istrinya yang telah tiada.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2