PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Nasib Sial Felix


__ADS_3

"KYYYAAA!!! SIAPA PUN TOLONG SELAMATKAN AKU DARI SI MESUM INI!!"


Sial tak dapat dihindari. Bukannya menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Ken dengan baik. Felix malah ketiban sial, dia diganggu dan di goda oleh om-om hidung belakang. Felix di seret ke sebuah ruangan, kaki dan tangannya diikat sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi menghajar mereka semua.


Felix menutup rapat-rapat matanya dan bibirnya. Saat salah seorang dari ketiga hidung belakang itu hendak menciumnya. Dia tidak Sudi jika ciuman pertamanya malah di ambil oleh sesama pria.


"Ayolah gadis cantik, jangan jual mahal. Kami akan memberimu bonus dan uang yang sangat banyak, plus malam yang panjang penuh gairah."


"Aku tidak Sudi!! Kalian bertiga buta ya? Aku ini bukan gadis tulen seperti yang kalian pikirkan!! Aku punya pistol sama seperti kalian, apa kalian mau jeruk makan jeruk??!!"


"Kebetulan sekali kita bertiga seorang, Bi. Yang artinya kita bisa bersenang-senang tanpa hambatan." Jawab ketiganya dengan kompak.


Felix menggeleng. Habis sudah jika seperti ini. Bi, artinya pria wanita tak ada masalah bagi mereka bertiga. Felix tidak tau jika nasibnya akan jadi seburuk ini, dia pikir pekerjaannya ini sangat mudah. Tapi teryata sulit dan amat sangat berbahaya.


Orang- orang itu semakin mendekat. Dan dengan lantang dia berteriak. "TIDAK!!!"


-


"Tribal!!!"


Luna merengek dan meminta Ken menunjukkan tribal nya. Seharian ini Ken terus saja menyembunyikan tribal itu di balik lengan kemejanya. Dan itu membuat Luna rindu setengah mati pada tribal tersebut.


Tapi sayangnya permintaan Luna tidak diindahkan oleh Ken, pria itu tetap sibuk dengan laptopnya.


Wanita itu menekuk wajahnya dan mempoutkan bibirnya. Dengan kesal dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ken dan merobek kain berharga mahal itu di bagian lengan kanannya.


"Luna!! Apa yang kau lakukan?!" Kaget Ken.


"Hehehe, salah sendiri menyembunyikan tribal ini dariku. Aku memintanya baik-baik tapi kau tidak mendengarnya. Jadi jangan salahkan aku jika aku berbuat sesuatu." Jelas Luna tanpa dosa.


Ken menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran wanitanya ini. Tapi Ken tak mau terlalu ambil pusing, Ken melepaskan kemeja itu dari tubuhnya, menyusahkan tank top hitam yang melekat pas di tubuh kekarnya. Luna tersenyum lebar. Sekarang dia lebih leluasa.


Luna terus saja menempel pada Ken. Kedua tangannya memeluk lengan terbuka prianya ini. Tapi pandangannya tertuju pada laptop yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan?! Apa ini semacam pekerjaan Hacker?" Tebak Luna 100% benar. "Tapi data siapa yang sedang kau retas ini?"


"Paman ketiga ku, orang terduga paling kuat sebagai pembunuh dan dalang utama di balik kematian keluarga Zhao."


"Apa masih belum ada kabar dan perkembangan sama sekali pada penyelidikan-mu?" Tanya Luna memastikan.


"Sudah, Tao sudah mendapatkan informasi yang sangat penting dan telah dikirimkan padaku. Tapi entah kenapa file nya tidak bisa di buka." Jelas Ken.


"Mungkin ada yang memantau si Panda itu dari jauh?"


"Aku tidak tau juga, dan dia belum kembali sampai detik ini. Begitu juga dengan Felix, dan ponsel mereka berdua juga tidak bisa dihubungi." Tutur Ken.


"Mungkin terjadi sesuatu pada mereka?" Tebak Luna.


"Jika ada masalah, seharusnya mereka mengirim sinyal padaku. Tapi tidak ada tanda-tanda mereka dalam masalah." Ujarnya.


Cemas terlihat pada mimik wajah Luna setelah mendengar jawaban suaminya. Apakah mereka berdua sungguh dalam bahaya.


Seharusnya Ken tidak tinggal diam dan harus segera mengambil tindakan, tapi dia terlihat santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Apakah Ken sudah memprediksikan sesuatu pasti terjadi? Sepertinya Ken sudah memiliki perhitungan yang matang.


"Ken, kita harus melakukan sesuatu. Bagaimana jika mereka benar-benar dalam bahaya. Bagaimana kalau kita berdua berpencar mencari mereka?"


"Tidak perlu, aku sudah mengiri. Alex dan Ren untuk mencari keberadaan mereka berdua. Mereka dan anak buahnya sudah lebih dari cukup. Sebaiknya sekarang kau tidur saja."


"Tapi~"


"Luna!!"


"Baiklah, dasar Tuan pemaksa!!"


Dengan kesal Luna bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Ken yang masih bertahan dalam posisinya. Suaminya itu sekali lagi membuatnya kesal. Sedangkan Ken hanya menggelengkan kepala melihat sikap kekanakan Luna.


"Boss!! Kami pulang!!"

__ADS_1


Selepas kepergian Luna, terdengar suara teriakan mirip Bom atom yang meledak dari halaman depan. Tak berselang lama sosok Tao dan Felix yang berantakan muncul dan membuat Ken memicingkan mata.


"Aku menemukan bocah ini sedang di perebutkan oleh tiga hidung belang. Dan parahnya lagi mereka adalah seorang Bi."


"Lalu kenapa kau sampai mematikan ponselmu dan membuat panik semua orang?" Tanya Ken mengintimidasi.


Tao menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian dia menjelaskan pada Ken kenapa ponselnya bisa sampai mati, dan pria itu hanya bisa mendengus. Ken yang malas mendengar penjelasan konyol Tao kemudian bangkit dan pergi begitu saja.


"Tao, informasi itu aku ingin dengar besok pagi. File yang kau kirim tidak bisa di buka."


"### Siap, Bos!!"


-


Ken sampai di kamarnya dan mendapati Luna yang sedang duduk sila di atas tempat tidur sambil komat-kamit tidak jelas. Ken mendengus, setelah menutup dan mengunci pintu, dia menghampiri Luna dan langsung menyerangnya dengan ******* habis bibirnya.


Luna yang tidak bisa menghindar hanya bisa membelalakkan matanya. Dia terkejut, ingin memberontak tapi tangannya di cengkram oleh Ken dengan kuat. Pria itu terus mel*mat dan memagut bibirnya.


Meskipun awalnya terkejut dan merasa terancam, namun pada akhirnya Luna tetap membalas dan menerima ciuman itu dengan sangat baik. Bahkan Luna membalas dengan bergantian mel*mat bibir Ken.


Tak ingin dianggurkan, sebelah tangan Ken meremas salah satu gundukan Luna dan sedikit memilih bagian bijinya. Membuat des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibirnya.


Dan Ken baru mengakhiri ciumannya setelah melihat Luna yang mulai kehabisan napasnya."Masih ngambek?" Luna menggeleng.


Wanita itu memeluk leher Ken sambil tersenyum lebar. "Bagaimana mungkin aku masih tetap ngambek setelah kau menebusnya." Jawabnya dengan senyum yang sama.


"Dasar kau ini." Dengan gemas Ken menjitak kepala Luna. Dan lagi-lagi Luna hanya terkekeh, dia tidak marah ataupun kesal meskipun Ken menjitak kepalanya.


Ken membawa Luna untuk berbaring bersama. Ken menjadikan kepala Luna sebagai tumpuan dagunya. Sedangkan Luna memeluk Ken yang berbaring disampingnya dengan erat. Wajahnya berhadapan dengan dada bidang yang tersembunyi di balik tank top hitamnya.


Napas Luna yang hangat menerpa, napasnya beraturan namun tidak dengan detak jantungnya. Jantung Luna berdegup kencang dan berdebar tak karuan. Ken tersenyum tipis. Kecupan pada kening Luna mengantarkannya menuju alam mimpi.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2