PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Aiden Selalu Ternistakan


__ADS_3

"Aaahhhh...."


Devan terlonjak kaget mendengar suara jeritan dari kamar Luna dan Ken. Kebetulan hanya ada dia sendiri di rumah itu karena Tuan Valentino dan Aiden sedang menemani anak-anak bermain di pantai. Sedangkan para pelayan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Devan berlari menghampiri pintu bercat elegan itu, semakin dekat langkahnya, maka semakin terdengar jelas suara des*han dan erangan dari dalam sana.


Devan merinding sendiri mendengar suara yang begitu mengerikan tersebut. "Aaahhh, lebih dalam lagi, Ken. Ahhhh... Lebih dalam lagi, ouhhh..." Dari dalam sana terdengar suara Sexy Luna, dia penasaran betapa hebatnya Ken hingga membuat Luna berteriak sekencang itu.


"Ya Tuhan, kenapa kau begitu kejam padaku?! Kau memberikan pasangan pada adikku, tapi kenapa kau tidak memberikan pasangan untukku. Padahal aku juga ingin merasakan bagaimana indahnya bercinta."


Tuing...


Mata Devan membelalak. Senjata tempurnya berdiri tegak dan membuat bagian bawahnya terasa sesak. Devan yang begitu tersiksa segera berlari dan mencari tempat yang tepat untuk melakukan pelepasan dari pada dirinya harus tersiksa terlalu lama.


"Eehhh.." Devan terkejut saat melihat salah seorang pelayan yang sedang bermain solo di dekat tangga samping toilet. Parahnya lagi pelayan itu bermain solo dengan menggunakan sebuah mentimun seukuran lengan orang dewasa.


Pelayan itu jika diperhatikan cukup cantik juga. Dia memiliki kulit yang putih, rambut yang indah terurai dan mata yang bulat bersinar. Tiba-tiba Devan menyeringai. Dia menghampiri pelayan itu lalu merebut mentimun itu darinya. Dan membuat dia terkejut dan hampir memekik.


Devan pun segera membekap mulut pelayan itu dengan bibirnya selama beberapa detik."Tuan, apa yang kau lakukan?!" Kaget pelayan itu.


"Kurang menyenangkan jika bermain solo, lebih baik bermain denganku saja. Milikku juga tak kalah besar dari mentimun ini, bagaimana?! Sayang jika kecebong-ku terbuang sia-sia."


"Tapi bagaimana jika aku sampai hamil?! Tuan Besar bisa mengusirku keluar dari sini." Pelayan itu menundukkan wajahnya.


"Jika itu yang kau takutkan. Kalau begitu ayo kita menikah saja!! Jika kau mau aku akan menikahi mu detik ini juga, bagaimana?!"


Pelayan itu menggeleng. "Tapi aku tidak suka pria,"


"Hah!!!" Devan terbengong mendengar apa yang pelayan itu katakan. "Ya, aku tidak suka jenismu, tapi aku suka bermain solo." Jelasnya.


"Tidak masalah, kita cukup menjadi rekan bermain saja, bagaimana? Dan sekali bermain aku akan memberimu 10 juta won, setuju?!"

__ADS_1


"Sepertinya bukan ide buruk. Kita pergi ke kamarku sekarang." Pelayan itu bangkit dari duduknya.


Dia dan Devan pergi menuju kamarnya. Devan pun sangat senang, meskipun hanya pasangan bercinta, tapi setidaknya dia memiliki lawan dan tidak solo lagi. Ahh, betapa Devan sangat bahagia karena akhirnya bisa merasakan yang namanya surga dunia di usianya yang sudah ke 41 tahun ini.


-


-


"Paman Ai, sebenarnya kau ini pria atau wanita sih?! Berlari 10 meter saja tidak kuat, dasar payah!!"


Marissa melayangkan sebuah cibiran pada Aiden karena pria itu tidak kuat berlari sejauh sepuluh meter. Aiden merasa kelelahan dan menyatakan mundur karena tidak kuat lagi berlari.


Dan Aiden yang mendapatkan cibiran dari keponakannya itu hanya bisa melongo, pasalnya ini pertama kalinya Marissa mencibirnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, mulutnya begitu tajam seperti mulut Ken dan sifatnya menyebalkan seperti Luna.


"Aigo, Princess. Kenapa kau jahat sekali pada Pamanmu yang tampan ini, huh?!"


"Tampan dari mana, jelas-jelas muka Paman mirip topeng. Memangnya berapa lapis bedak yang Paman pakai?! Sekalian saja Paman pakai rok saja!!"


Marissa baru saja mempermalukannya dan menjatuhkan dirinya ke dalam jurang yang sangat dalam. "Hahaha.. Ai, kau dengar itu. Cucu Papa sangat cerdas, masa kau bego. Makanya jangan terus-terusan melakukan perawatan muka biar tidak disamakan dengan topeng. Hahaha..."


Aiden memanyunkan bibirnya. "Aisshh kenapa kalian semua begitu kejam padaku. Celo, menurutmu Paman bagaimana? Tampan bukan?!" Dia mencoba mencari dukungan dari Marcello.


Celo menggeleng. "Paman mirip kardus!!" Tapi dia malah mendapatkan cibiran yang sama.


"Yakk!! Ternyata kau sana saja!! Huhuhu. Tidak adik, tidak ipar, tidak keponakan, kenapa semua begitu kejam padaku?! Bahkan Papaku sendiri juga sangat hobi menindas ku, ya Tuhan betapa malangnya nasibku ini."


Daniel kemudian menghampiri Aiden lalu memberikannya sebuah minuman kaleng bersoda.


"Jangan sedih, Paman. Bukan hanya kau yang selalu ternistakan di sini. Aku juga sering dinistakan oleh mereka, bagaimana kalau kita bergabung dan mencari kesenangan sendiri. Siapa tau pasukan bikini segera lewat sini." Ujar Daniel yang segera di setujui oleh Aiden.


"Baiklah, kita satu tim sekarang. Tim yang selalu ternistakan, huhuhu..."

__ADS_1


Tuan Valentino hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua yang begitu konyol dan menggemaskan. Pria itu kemudian melanjutkan aktifitasnya dan kembali bermain dengan cucu-cucunya.


-


-


Seperti yang sudah di rencanakan tadi. Luna dan Ken pergi ke bukit untuk melihat danau dan memetik bunga. Karena cuaca agak terik hari ini, makanya Luna memakai sebuah topi pantai yang berhiaskan pita cantik dan beberapa butir Tiara.


Ia dan Ken menaiki bukit sambil bergandengan tangan. Tak jarang Luna berhenti ketika melihat bunga liar yang tumbuh subur di bukit dengan memotretnya.


Dan setelah berjalan kurang dari 30 menit. Mereka berdua tiba di bukit. Luna duduk dibawah pohon sakura begitu pun dengan Ken. Ada yang aneh dengan pohon sakura ini, padahal ini bukan musim semi, tapi bunga itu malah berbunga lebat.


"Kau lelah?" Tanya Ken pada sosok perempuan yang sedang bersandar di bahunya itu.


Luna mengangguk. "Hum, tapi cuma sedikit. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa kelelahan dan malas tanpa sebab. Dan hal itu mengingatkanku pada saat hamil si kembar dulu. Dulu saat hamil mereka aku juga sering kelelahan dan tiba-tiba malas seperti ini." Ujarnya.


Namun Ken tidak berpikir sampai sana, apalagi memperkirakan jika Luna sedang hamil muda, karena Luna sendiri yang mengatakan jika dia tidak mungkin bisa hamil lagi pasca kelahiran si kembar 10 tahun yang lalu.


"Mungkin karena kau terlalu kurang istirahat, kalau begitu aku akan mengurangi waktu bercocok tanam kita. Aku tidak ingin jika kau sampai jatuh sakit karena diriku,"


"Tapi aku rasa itu tidak ada hubungannya. Dan jika kau mengurangi waktunya, bagaimana aku bisa merasa puas?! Dan itu tidak akan menyenangkan lagi. Kalau bisa jangan di kurangi, tapi di perpanjang saja, bagaimana?!"


Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Luna. "Mesum!!" Dan wanita itu malah terkekeh geli, kemudian dia menyandarkan kembali kepalanya pada bahu Ken dan memeluk lengan terbukanya.


Luna belum pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya. Hidupnya begitu sempurna dengan kembalinya si kembar ke dalam pelukannya. Dan sebagai seorang Ibu, dia berjanji akan menjaga mereka dan tidak membiarkan mereka lepas lagi dari pelukannya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2