PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Nama Untuk Baby Zhao!!


__ADS_3

"OMO!!" Luna tersentak kaget saat cermin menangkap bayangan Ken yang berdiri di belakangnya. Sebelumnya Luna memang mendengar pintu kamarnya dibuka, tapi dia kira itu adalah pelayan yang sedang mengantar susu untuknya.


Luna pikir malam ini Ken akan lembur lagi dan pulang hampir tengah malam seperti kemarin, tapi dugaannya salah karena Ken pulang lebih awal dari biasanya.


"Tumben sudah pulang, aku pikir kau masih ada rapat hari ini." Luna kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Ken lalu berdiri berhadapan dengan suaminya itu.


"Aku sengaja pulang lebih awal karena mencemaskan mu. Apa kau masih mual?" Tanya Ken memastikan.


Luna mengangguk. "Hampir setiap waktu. Apalagi saat pagi hari, mual-nya sangat parah dan tubuhku juga agak sedikit lebih lemas. Ya meskipun tidak separah ketika mengandung si kembar dulu." Jelasnya.


Ken menghela napas panjang. "Itulah yang selalu membuatku cemas dan khawatir ketika meninggalkanmu. Mulai besok aku akan menemanimu, aku sudah melewatkan momen paling penting dalam hidupku. Dan sekarang aku tidak ingin melewatkannya lagi."


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?!" Luna menatap Ken dengan pandangan bertanya.


"Aku bisa mengerjakannya dari rumah. Tidak perlu ke kantor setiap hari. Lagipula masih ada Devan yang bisa membantuku menghandle beberapa pekerjaan di kantor."


"Baiklah, terserah kau saja. Dan bisakah sekarang kau menyingkirkan lengan kemeja itu dari hadapanku?! Aku belum melihat tribal-mu dari pagi." Luna menatap Ken dengan pandangan menuntut.


Pria itu mendesah berat. Dengan terpaksa dia melepas kemejanya dan sekarang dia bertel*njang dada. "Tapi tidak begini juga!! Kau ingin membuatku mangap-mangap kehabisan napas?!" Ken mendengus untuk kesekian kalinya.


Tangan kirinya meraih Vest yang ada di sampingnya lalu memakainya. "Begini?" Luna mengangguk. "Apa semua ibu hamil sepertimu ini?! Aneh!! Tapi syukurlah, kau tidak membuatku gila dengan ngidam yang neko-neko."


"Aku tidak ngidam ini dan itu. Asal selama di rumah jangan pernah menyembunyikan tribal ini dariku!! Bisa-bisa perutku mual terus menerus. Karena saat melihat tribal ini mual-nya jadi hilang." Jelas Luna panjang lebar.


"Baiklah, akan aku kabulkan!! Sekarang temani aku makan malam, aku lapar dan belum sempat makan malam tadi."


"Dengan senang hati, Papa Ken. Tapi setelah aku mendapatkan jatahku," rengek Luna sambil menunjuk bibirnya.


Ken menghela napas untuk kesekian kalinya. Ia menarik tengkuk Luna lalu mencium bibirnya. Sebelah tangan Ken memeluk pinggangnya dan menariknya lebih dekat. Luna yang kegirangan langsung memeluk leher suaminya.


Wanita yang sedang hamil muda itu tentu tak menyia-nyiakan kesempatan baik ini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Luna membuka mulutnya dan mempersilahkan lidah Ken untuk masuk ke dalam. Dia membiarkan lidah pria itu menyapu dinding-dinding mulutnya dan mengabsen deretan gigi putihnya.

__ADS_1


Bibir Luna kini dalam invasi Ken sepenuhnya. Dia mendominasi ciuman tersebut tanpa mengijinkan Luna untuk membalas apalagi mengambil alih ciuman tersebut.


Dan Ken kemudian mengakhirinya setah Luna mulai kehabisan napasnya. Pria itu menyentil kening sang istri dengan gemas. "Bagaimana, apa sekarang sudah puas?!" Luna mengangguk.


"Ayo, katanya kau lapar. Aku akan menemanimu sekarang."


-


-


"Sayang, kenapa kalian belum tidur?"


Tuan Valentino menghampiri cucu kembarnya yang masih asik bermain padahal waktu sudah menunjuk angka 21.00 malam. Keduanya kemudian mengangkat kepalanya dan menatap sang kakek.


Marissa menghampiri Tuan Valentino begitu pula dengan Marcello. "Kami sedang mencari nama yang tepat untuk adik bayi ketika lahir nanti, Kakek. Meskipun masih lama, bukankah bagus jika dipersiapkan lebih awal?" Ucap gadis kecil itu.


"Kau benar juga, Sweet Heart. Memangnya nama apa yang kalian bersiaplah untuk debay nanti?" Tanya Tuan Valentino pada kedua cucunya.


"Nama yang sangat cantik. Kakek setuju dengan nama pilihan kalian. Dan sekarang kalian pergi tidur ya, ini sudah larut malam." Pinta Tuan Valentino pada kedua cucunya.


"Siap, Kakek."


Tuan Valentino hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan kedua cucunya. Marcello dan Marissa memutuskan untuk tinggal dan tidak ikut pulang ke kota karena masih ingin bersama Kakek mereka. Apalagi liburan musim panas masih panjang.


Tuan Valentino juga meninggalkan ruangan keluarga dan pergi ke kamarnya. Dia sangat lelah dan ingin segera istirahat. Sedangkan Aiden sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu.


-


-


"Ken, bangun. Aku lapar. Buatkan ramen untukku ya." Luna mengguncang lengan suaminya. Memaksa pria itu untuk bangun meskipun sedikit enggan. Dan dengan terpaksa Ken membuka matanya yang masih sangat berat itu.


Pandangan Ken lalu bergulir pada jam yang menggantung di dinding dan mendesah berat. Sudah pukul 23.00 malam. "Kenapa kau harus lapar di tengah malam sih, Lun?! Kenapa tidak dari sore tadi, mengganggu orang tidur saja!!" Gerutu Ken seraya bangkit dari berbaringnya.

__ADS_1


"Bukan aku yang mau, tapi Baby di dalam perutku ini. Dia yang ingin makan ramen jam segini, bukan aku!!" Jelas Luna.


Ken mendengus berat. "Berhenti menggunakan dia sebagai alasan, Luna Zhao!! Ayo keluar, aku akan memasak ramen untukmu," pria itu bangkit dari berbaringnya lalu melenggang keluar. Diikuti Luna yang mengekor di belakangnya.


Mereka sampai di dapur dan Ken yang terlihat sibuk membuatkan ramen untuk Luna. Sedangkan wanita itu hanya berdiri disampingnya tanpa melakukan apa-apa. Luna sangat takjub dengan keterampilan suaminya yang sedang menyiapkan ramen untuknya.


"Emm, aromanya sangat wangi. Kau memang seorang koki yang handal, Ken."


"Untuk itu harusnya kau bangga memiliki suami yang serba bisa sepertiku ini!!"


"Aku memang selalu bangga." Jawab Luna dengan senyum terbaiknya.


Tiba-tiba seseorang datang dan mengejutkan Luna. Orang itu mencium aroma ramen yang lezat membuat perutnya keroncongan. "Hmm, sangat lezat. Masakan juga untukku dong!!" Pinta orang itu yang kini berdiri di belakang Luna.


Sontak Luna menoleh. Kedua matanya membelalak sempurna. "KYYYAAA!!! DEMIT!!" Luna berteriak histeris dan dengan refleks memukul kepala orang itu dengan spatula. Membuat pekikan kesakitan keluar dari bibirnya yang membuat Luna langsung sadar jika dia bukan hantu tapi manusia.


"Huaaa... Nyonya Bos, kau sangat kejam. Ini aku, kenapa kau malah memukulku?! Lihatlah, kepalaku jadi benjol kan!!"


"Salahmu sendiri, siapa suruh muncul di dapur dengan wajah putih mirip dedemit." Luna tak mau kalah.


"Wajahku sedang berjerawat dan aku melakukan perawatan untuk memuluskan kembali mukaku ini. Malah di bilang mirip demit, kau sangat kejam Nyonya Bos. Oh, itu ramen ya. Bos, aku juga mau dong." Pinta pria itu dengan mata berbinar-binar.


"Dasar anak buah durhaka. Bisa-bisanya kau meminta Bosmu membuatkannya. Jelas-jelas dia membuat Ramen ini untuk istri tercintanya, dan jika kau mau buat saja sendiri!! Ken, ayo temani aku makan ramen ini di meja makan."


"Huaaa... Kalian berdua sangat kejam padaku!!"


"Masa bodoh!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2