
Luna membuka matanya dengan malas, pergulatannya dengan Ken semalam benar-benar menghabiskan hampir seluruh tenaganya. Dia akui, jika suaminya itu memang sangat ahli dan mahir dalam urusan atas ranjang.
Dengan langkah tertatih dan menahan perih pada paha dalamnya. Luna berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat.
Mimik wajahnya menunjukkan jika dia sangat menderita sekarang. Jika saja Ken bisa lebih lembut sedikit saja, pasti dia tidak perlu sampai semenderita ini.
"Aaahhh..." Luna terkejut karena seseorang tiba-tiba mengangkatnya bridal style dan membawanya masuk ke kamar mandi. Siapa lagi jika bukan Ken. "Ken, kau mengejutkanku!!" Protes Luna.
"Jika cara jalanmu merayap seperti siput, berapa lama kau baru sampai dikamar mandi?!" Cibir Ken dan langsung mendapatkan pukulan pada dadanya.
"Kenapa malah menyalahkan cara jalanku?! Seharusnya yang kau salahkan adalah permainanmu semalam yang terlalu kasar dan bersemangat. Jika saja kau tidak terlalu keras, pasti pagi ini aku tidak akan menderita begini!!"
Ken menyeringai. "Tapi bukankah kau sangat menikmatinya semalam?! Bahkan kau terus saja mend*sah sambil memanggil namaku sepanjang kita melakukannya, kau juga memintaku agar lebih cepat lagi." Bisik ayah tiga anak itu dengan seringai yang sama.
Wajah Luna memerah padam. Ken sangat tau bagaimana cara menindas dirinya. "Yakk!! Jangan katakan lagi, itu terlalu memalukan. Dan kau!! Berhenti menindas-ku!!" protes Luna sambil menutup muka dengan kedua tangannya.
Ken terkekeh geli. Dimatanya saat ini Luna sungguh sangat menggemaskan. Dan hal itu membuat Ken tidak tahan untuk tidak menyergap bibirnya. Bibir Ken terus mel*mat bibir Luna, memagutnya dengan sangat tidak sabaran.
Sebelah tangan Ken menekan tengkuknya, sedangkan tangan satu lagi melingkari punggungnya. Meskipun saat ini mereka berada di tempat tak selayaknya, tapi Luna tidak merasa keberatan. Dia justru menikmati ciuman tersebut.
Dan Ken mengakhiri ciuman itu satu menit kemudian. "Mandilah, aku akan meminta pelayan menyiapkan sarapan untukmu. Kau tidak perlu turun, atau malah akan menjadi bulanan anak-anak karena jalanmu yang sedikit aneh," tutur Ken yang langsung dihadiahi delikan tajam oleh Luna.
"Itu semua karena dirimu juga, dasar suami kejam!! Selalu saja menindaki!!" Luna mem-pout-kan bibirnya. Ken tersenyum tipis. Dengan lembut dia menepuk kepala Luna.
"Kalau begitu aku keluar dulu." Ken bangkit dari posisinya dan melenggang pergi.
Luna mendesah berat. Dia ingin sekali marah tapi tidak bisa, kesal juga percuma. Karena Ken selalu memiliki cara untuk mengambil hatinya kembali. Dan jika Luna sampai marah apalagi mendiami Ken, maka Luna yang akan rugi sendiri. Karena dia tidak akan mendapatkan jatah sama sekali.
"Ken, kau benar-benar sangat menyebalkan!!"
__ADS_1
-
-
"Pa, dimana Mama? Kenapa Papa datang sendiri?"
Ken menepuk kepala coklat Marissa lalu duduk di kursinya. "Mamamu malas turun, dan dia tidak ikut sarapan dengan kita. Nanti biar pelayan yang mengantar sarapan untuk mama." Jelasnya.
"Minggu depan sekolah akan mengadakan kunjungan ke kebun anggur. Kami boleh ikut kan, Pa?" Marissa menatap sang ayah penuh harap.
"Apa perlu di dampingi orang dewasa?"
Cello mengangguk. "Jika anggota keluarga ada yang mau ikut. Sekolah mengijinkannya, katanya itu juga demi keamanan kami karena para guru tidak mungkin bisa mengawasi satu persatu siswa siswinya." Jelas Cello.
"Kalau begitu biar Paman Devan dan kakakmu yang ikut. Mereka juga bisa diandalkan." Ucap Ken yang mendapatkan anggukan setuju dari Marissa dan Marcello.
"Lalu bagaimana dengan Nenek, Ken?! Apa kau tidak ingin membiarkan Nenek ikut juga?" Sahut Nenek Zhao yang baru saja bergabung bersama cucu dan cicitnya.
Kemudian Nenek Zhao memperhatikan penampilannya yang menurutnya biasa-biasa saja dan tidak ada yang salah. "Memangnya ada apa dengan penampilan, Nenek? Nenek rasa tidak ada yang aneh," ucapnya memastikan.
"Itu menurut Nenek Buyut, tapi orang lain akan langsung sakit mata melihatnya!!" Sahut Marissa menimpali.
Nenek Zhao menatap Marissa tidak percaya. Dia benar-benar mewarisi sifat ayahnya. Bukan hanya ayahnya, tapi dia juga mewarisi sifat ibunya, karena terkadang Marissa menyebalkan seperti Luna.
"Aigo, ini adalah meja makan. Kita malah berdebat soal penampilan. Sudah-sudah, sebaiknya sekarang kita sarapan sebelum makanannya jadi dingin. Ngomong-ngomong dimana Luna? Kenapa dia tidak ikut sarapan dengan kita, Daniel juga tidak ada?"
"Biar aku yang menjawabnya." Seru Marcello sambil mengangkat tangannya . "Mama sedang malas turun dan kakak Daniel dia sudah pergi sejak pagi tadi." Ujar Cello menjawab kebingungan Nenek Zhao. Dan si nenek mengangguk paham.
Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Hanya terdengar denting suara sendok dan piring yang saling bersentuhan. Mereka berempat menyantap sarapannya dengan tenang.
__ADS_1
-
-
Daniel turun dari motor besarnya dan menghampiri Erica yang baru saja memasuki gerbang sekolah. Hari ini gadis itu terlihat jalan kaki, tidak seperti biasanya yang selalu datang dengan mobil mewahnya.
Erica tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Hai," sapa gadis itu ramah.
"Tumben jalan kaki. Tidak membawa mobil?" Tanya Daniel. Erica menggeleng. "Kenapa?"
"Aku sedang malas mengemudi. Jadi aku putuskan untuk naik kendaraan umum saja."
Daniel menghela napas panjang. "Lalu kenapa tidak menghubungiku? Seharusnya kau memintaku untuk menjemputmu," tukas Daniel. Erica menggeleng. Dia tidak ingin merepotkan Daniel jika harus menjemputnya.
Entah sejak kapan Daniel dan Erica menjadi dekat. Dan sejak bertemu dengan Erica, Daniel tidak pernah lagi menggoda Luna apalagi mengatakan ingin menikahinya. Dan hal itu tentu saja menguntungkan Ken, karena dia sudah tidak memiliki saingan lagi.
"Oya, bagaimana dengan lukamu? Apa sudah membaik? Maaf, karena diriku kau jadi terluka."
Daniel membuka jaketnya lalu menunjukkan luka yang dimaksud oleh Erica. "Lihatlah, sudah membaik. Lagipula hanya luka ringan saja, dan sebagai seorang teman, sudah sepantasnya jika aku membantumu. Bukankah begitu." Erica mengangguk.
Saat menolong Erica dari para preman. Tanpa sengaja Daniel terluka di bagian lengan kirinya akibat sabetan senjata tajam. Beruntung hanya luka gores saja, sehingga tidak memerlukan perawatan yang berlebihan.
Daniel merasa sangat bahagia karena bisa menyelamatkan sang pujaan hati. Dengan begitu Erica akan lebih simpatik padanya, dan mereka menjadi semakin dekat. Sehingga peluang untuk Daniel mendapatkan gadis itu semakin terbuka lebar.
Dan entah percaya atau tidak, para preman yang menggoda Erica adalah orang suruhan Daniel. Seperti di film-film, Daniel ingin terlihat keren.
"Sepertinya kelas pertama akan segera dimulai. Ayo," ucap Daniel dan dibalas anggukan oleh Erica. Keduanya berjalan beriringan menuju keras. Kebetulan mereka berada di kelas yang sama.
-
__ADS_1
-
Bersambung.