PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Benih Kecebong


__ADS_3

"Ya Tuhan, Luna! Apa yang kau lakukan di atas sana?"


Ken yang baru kembali dari menerima telepon terkejut saat mendapati Luna berada di atas lemari pakaian. "Huaaa. Ken, jangan banyak tanya, cepat bantu aku turun dari sini." rengek Luna memohon.


Ken mendengus berat. Dia tidak tau bagaimana ceritanya Luna bisa berada di atas sana. Dan dia tidak menduga setelah ingatannya kembali, Luna menjadi sebar-bar dulu sebelum hilang ingatan. "Sekarang lompat, aku akan menangkapmu." Pinta Ken.


"Tapi bagaimana kalau aku sampai terjatuh dan amnesia lagi?"


"Tidak, aku akan menangkap mu dengan tepat," jawab Ken meyakinkan. "Sekarang lompat lah," pintanya sekali lagi.


"Baiklah, aku akan melompat sekarang. Tapi jangan meleset,"


"Tidak akan,"


Luna menarik napas panjang sambil menutup matanya. Dengan ragu dan tak yakin dia pun melompat turun dan Ken bisa menangkapnya dengan sempurna. Tapi dia masih begitu takut untuk membuka matanya.


Melihat wajah polos Luna ketika menutup mata membuat Ken terkekeh geli. Pria itu mendekatkan bibirnya lalu meraup bibir Luna dan mel*matnya. Dan apa yang Ken lakukan membuat kedua mata Luna terbuka seketika.


"Curang!! Berani sekali kau mengambil kesempatan dalam kesempitan?!"


Sekali lagi Ken mengecup bibir Luna dan kali ini tanpa lum*tan ataupun pagutan. "Kenapa? Apa ada undang-undang yang melarang seorang suami mencium istrinya sendiri?" Luna menggeleng sambil tersenyum.


"Tentu saja tidak ada, bahkan ketika kau menanam kecebong di dalam perutku pun juga tidak ada undang-undang yang melarangnya karena kita sudah sah Dimata hukum dan agama." Ujar Luna.


Ken menyeringai. "Bagaimana kalau sekarang juga kita tanam benih lagi, bukankah sudah lama sekali kita tidak bercocok tanam?"

__ADS_1


Luna menggeleng. "Tidak bisa sekarang, tamuku baru saja datang dan baru pergi satu Minggu lagi. Jadi kita harus menundanya sampai tamunya benar-benar sudah pergi," ujar Luna dan membuat mimik wajah Ken berubah kecewa.


"Dasar tamu sialan, kenapa harus datang disaat seperti ini. Menyebalkan!!"


Luna menangkup wajah Ken dan mengunci biner matanya. "Tidak perlu kesal dan kecewa. Kita masih memiliki banyak waktu untuk melakukannya, bukankah aku sekarang sudah kembali ke dalam pelukanmu?" Ucapnya lalu mengecup bibir kiss able suaminya.


Ken mengangguk. "Aku akan selalu sabar menunggu sampai tamu sialan itu benar-benar pergi. Apa sulitnya hanya menunggu satu Minggu saja, karena aku sudah pernah menunggu selama tiga tahun." Ujar Ken sambil mengeratkan pelukannya.


Luna menyeka air matanya yang hampir menetes setelah mendengar apa yang Ken katakan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Ken pada saat itu saat kehilangan dirinya. Dan betapa hebatnya dia yang mampu bertahan dalam kesendirian dan duka karena kehilangan.


Ken melepaskan pelukannya. Bibirnya mengurai senyum tipis. "Terimakasih karena sudah bertahan dan kembali untukku. Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungi mu. Tidak akan kubiarkan hal serupa kembali terjadi dan menimpa kita. Aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan, dan aku tidak ingin kehilangan lagi untuk sekian kalinya." Tutur Ken panjang lebar.


Luna menggeleng. "Kau tidak akan kehilangan aku lagi, Ken. Mulai sekarang kita akan selalu bersama-sama." Bisik Luna dengan suara parau seperti menahan tangis.


"Benahi make up-mu. Kita berangkat sekarang. Daniel dan Devan Ge sudah menunggu kita di bandara. Malam ini juga kita pergi ke London untuk bertemu dengan Papa, pasti dia sangat bahagia saat mengetahui jika putri tercintanya masih hidup." Ujar Ken yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.


-


-


Setelah melakukan perjalanan lebih dari 1,5 jam. Mereka tiba di bandara Incheon. Dari kejauhan Luna dan Ken melihat keberadaan Daniel dan Devan. Mati-matian wanita itu menahan air matanya ketika melihat keberadaan Daniel, betapa Luna sangat merindukan putra tirinya itu.


Wanita itu lantas menoleh saat merasakan genggaman lembut pada jari jemarinya. Luna tersenyum tipis. Ken memang belum memberitahu Daniel maupun Devan jika Jessline adalah Luna yang sedang hilang ingatan, dia ingin memberikan kejutan untuk putranya itu.


"Papa," seru Daniel seraya berlari menghampiri Ken lalu memeluknya. "Aku sangat merindukan, Papa." Ucap Daniel sambil mengeratkan pelukannya. Hampir dua Minggu mereka tidak bertemu, wajar bila Daniel sangat merindukan Ken.

__ADS_1


"Papa, juga sangat merindukanmu, Nak." Jawab Ken.


"Lalu, apakah Daniel tidak merindukan Kakak Cantik?" Sahut Luna dan membuat pelukan Daniel pada Ken terlepas seketika. Daniel memandang Luna yang sedang mengulurkan tangan padanya. "Kemarilah, apa kau tidak ingin memeluk, Kakak Cantik? Bukankah dulu Daniel selalu mengatakan akan menikahi Kakak Cantik setelah dewasa." Ujar Luna mencoba meyakinkan Daniel jika itu adalah dirinya.


Air mata Daniel tidak bisa dibendung lagi. Bocah laki-laki itu menyeka air matanya lalu berlari dan berhambur memeluk Luna. "Huaa.. Kakak Cantik," tubuh Luna sampai terhuyung kebelakang karena pelukan Daniel. "Hiks, aku sangat merindukan, Kakak Cantik. Kenapa Kakak Cantik tega sekali meninggalkanku,"


Luna memeluk Daniel dengan sangat erat."Maafkan Kakak cantik Sayang. Keadaan saat itu yang tidak memungkinkan untuk Kakak Cantik selalu berada di sini Daniel, tapi Kakak Cantik janji. Mulai hari ini kita tidak akan berpisah lagi," ujar Luna sambil mencium kepala Daniel.


Daniel mengangkat wajahnya dan menatap Luna dengan mata yang memerah karena menangis.


"Kakak cantik, aku tidak mau menikahi mu lagi. Aku tidak ingin melihat Papa menjadi gila jika ada yang merebutmu dari sisinya. Melihat Papa yang tersiksa selama 3 tahun kau menghilang, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku mengerti bila kehadiranmu sangat berarti untuknya."


Ken tersenyum tipis mendengar ucapan putranya. Daniel sudah semakin dewasa dan Ken merasa bangga memiliki putra sepertinya. Ken mendekati Daniel dan Luna lalu memeluk keduanya. Dan sementara itu, Devan hanya bisa gigit jari melihat keharmonisan mereka bertiga.


"Ya Tuhan, segeralah kirimkan jodoh untukku. Tidak perlu cantik dan sempurna. Aku hanya ingin pendamping yang memiliki rambut panjang dan indah. Kulit putih dan sehalus porselen. Wajah mungil seperti boneka, bibir tipis merona. Tubuh mirip gitar spanyol, kaki jenjang dan mulus alias tidak berbulu sama sekali. Tolong kabulkan permintaan sederhanaku ini, Tuhan."


Ken dan Luna saling bertukar pandang setelah mendengar permintaan Devan yang menurut dia sendiri sangat sederhana tapi nyatanya sangat muluk-muluk. Luna terkekeh begitu pula dengan Daniel yang juga merasa geli sendiri melihat tingkah pamannya itu.


Ken dan Luna saling mendekatkan wajahnya, tak lupa mereka menutup mata Daniel agar matanya tidak ternodai dengan apa yang mereka lakukan.


Sedangkan Devan hanya bisa membelalakkan mata melihat live kiss di depannya dengan nyata. Parahnya lagi mereka melakukannya di tempat terbuka seperti ini dan disaksikan banyak pasang mata. Tapi Ken tidak peduli, dia hanya ingin semua orang tau jika Luna adalah miliknya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2