PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Karena Luna Sebuah Pengecualian


__ADS_3

"Eh, dimana kak Aiden?"


Luna tampak kebingungan saat tiba di kamar Ken dan tidak mendapati sang kakak ada dikamar suami kontraknya itu. Alih-alih menjawab, Ken malah menarik lengan Luna hingga gadis itu jatuh ke atas pangkuannya.


"Ken, apa yang kau lakukan? Luka di perut mu bisa terbuka lagi!!" pekik Luna sedikit terkejut dengan apa yang Ken dilakukan.


Ken tidak menghiraukan ucapan Luna, pria itu menarik tengkuk gadis di pangkuannya lalu mencium bibirnya. Memagut dan melum@tnya, atas bawah bergantian.


Luna yang merasa tidak nyaman segera mendorong Ken dan memaksa pria itu melepaskan ciumannya. "Dimana, kak Ai?" Tanya Luna sekali lagi.


"Dia sudah pulang, dan sekarang hanya ada kita berdua di sini, Sayang." Ken kembali memagut bibir Luna, kali ini lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya.


"Ken, berhentilah bersikap keras kepala!! Kau ini sedang sakit, dan luka di perutnya bisa terbuka kapan saja!! Jadi cepat turunkan aku," Omel Luna namun kita tidak dihiraukan oleh Ken.


"Jangan berlebihan, Sayang. Lagi pula luka ini bukan apa-apa. Dan aku tidak akan mati meskipun lukanya terbuka!!"


Luna memutar jengah matanya, memang susah bicara dengan Ken yang keras kepala. Lantas Gadis itu bangkit dari pangkuan Ken dan meninggalkan pria itu begitu saja.


"Aaahhh..."


Sayangnya Ken tidak mengizinkan Luna pergi. Pria itu menarik lengan Luna lalu membantingnya ke atas tempat tidur. Kini Ken berada di atas tubuh Luna. Dia itu menyeringai, Luna mengedipkan matanya lucu.


"Kau pikir bisa kabur dariku begitu saja, hm?" ucap Ken dengan seringai yang sama.


"Ken, ma..mau apa kau?!" Luna tampak was-was.


Ken memandang Luna dengan seringnya yang sama. "Menurutmu," bisik Ken sambil menghembuskan angin di telinga kiri Luna.


"Ken!! Hentikan itu kau membuatku geli!!!"


Ken terkekeh. Lagi-lagi Dia memberikan tatapan menggodanya. Dan ditatap seperti itu oleh Ken membuat darah dalam tubuh lunak berdesir.


"Sayang, bukankah sejak menikah kita belum pernah melakukannya? Bagaimana jika malam ini kita baca cocok tanam?"


Kedua mata Luna Lantas membelalak. Buru-buru dia mendorong Ken menjauh darinya. "Jangan macam-macam jika kau tidak ingin mati!!" ancam Luna bersungguh-sungguh.


Lagi-lagi Ken terkekeh. "Aku hanya bercanda, Sayang. Kenapa kau begitu serius, hm. Tapi jika kau memang menginginkannya aku juga tidak akan menolaknya,"

__ADS_1


"Tidak!!" kemudian Luna bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja.


Ken menutup wajahnya sambil tersenyum, dia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Istilah anak muda, Ken bucin pada Luna. Dan Luna benar-benar membuatnya menggila.


🌺


🌺


"Hei, hei, adik ipar. Kenapa wajahmu memerah seperti kepiting rebus. Memangnya apa yang bocah itu lakukan padamu?! tegur seseorang.


"OMO!!" luna terlonjak kaget, kedatangan Devan yang begitu tiba-tiba membuatnya nyaris jantungan. "Yakk!! Bisa tidak, datang saja tidak usah mengejutkanku?!"


Devan terkekeh. "Hehehe, maaf adik ipar. Padahal aku cuma ingin memberimu kejutan." ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Guna memutar jengah matanya. Belum hilang kesalnya karena ulah Ken, kini datang 1 orang lagi yang membuatnya semakin buruk.


Luna meninggalkan Devan begitu saja dan pergi ke kamarnya. Bahkan dia melupakan tentang hantu yang membuatnya ketakutan selama 2 hari 2 malam.


Jika Luna mengingat kembali tentang hantu itu. Jangankan malam hari, bahkan siang pun ia tidak akan berani kembali ke kamar itu. Luna memang tidak takut apapun kecuali satu hal, hantu.


Devan hanya terkekeh. Menurutnya Luna sangat menggemaskan, dia memang sangat cocok dengan Ken yang seperti iblis. "Ken, kakakmu yang tampan ini datang!!" seru Devan dari arah pintu.


"Yakk!! Bocah iblis, pertanyaan macam apa itu?! Beginikah caramu menyambut Kakakmu yang paling tampan yang telah menyelamatkan nyawamu!! Huhuhu.. kau membuatku sedih, hiks.." kan hanya memutar matanya jengah l.


"Jadi untuk apa kau datang kemari, kakakku yang baik?" Ken bertanya sambil memutar matanya.


"Hahaha, nah begitu dong kan lebih enak didengar. Aku datang untuk mengganti perban mu, dan membersihkan luka di perut." jawab Devan memberi tahu maksud kedatangannya.


"Hm, kalau begitu Segera lakukan!!!"


Devan membuka peralatan medisnya, yang mengeluarkan beberapa benda seperti perban, plaster, gunting, kapas, obat luka dan lain-lain. Lalu menatanya di atas meja.


Depan bersiap untuk membuka perban buka di perut Ken, namun tiba-tiba...


BRAK!!


"KYYYAA!!! SETAN!!!"

__ADS_1


"Ayam ayam ayam..."


Ken dan Devan dikejutkan oleh teriakan Luna dan dobrakan akan pada pintu. Gadis itu menerobos masuk ke kamar bunyi di balik selimut pria bermarga Zhao tersebut.


"Luna, ada apa?" tanya Ken kebingungan.


"A..Ada hantu. A..Aku mendengar suara hantu menggaruk jendela." ucapnya terbata-bata.


Devan memicingkan matanya. "Hantu? Mana ada hantu siang-siang begini," ucapnya menanggapi.


"A..Aku tidak berbohong, memang ada hantu di kamar orang tua, Ken. Kalau tidak percaya lihat aja sendiri." Pinta Luna.


Devan menggeleng. "Amit-amit tujuh turunan. Daripada aku harus bertemu hantu, lebih baik aku bertemu dengan 100 gadis bug*l dipantai." ucapan yang langsung mendapatkan pukulan keras pada kepalanya.


"Dasar dokter mesum,"


Devan hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Ken mendesah berat, ternyata penyakit mesum kakaknya ini masih belum hilang juga.


"Memangnya siapa yang menyuruh kembali ke sana? Bukankah aku memintamu untuk tetap disini, salahmu tidak mau mendengarkan suaminya."


"Aku tidak akan kabur kalau kau tidak menyebalkan, Ken," Luna mempoutkan bibirnya.


Kan terkekeh geli melihat ekspresi Luna yang begitu menggemaskan. "Jangan memasang muka seperti itu, jika kau tidak ingin aku melahapmu bulat-bulat!!" ucap memberi sedikit ancaman.


Lagi-lagi Luna mempoutkan bibirnya. Bagaimana bisa Ken terus menggodanya, bahkan dia tidak peduli meskipun ada Devan di sana. "Kau semakin menyebalkan," Luna menundukkan wajahnya, pipinya sedikit memerah.


Devan menatap keduanya bergantian dan mendesah berat. "Bisa tidak, kalian jangan mengumbar kemesraan di depan Bu-Di sepertiku?! Kalian membuatku iri." Ujar Devan.


"Kalau tidak suka, keluar sana." Sinis Ken dan membuat wajah Devan semakin merenggut.


Ken tidak pernah berubah, tetap saja dingin dan bermulut tajam. Memang hanya pada Luna dia bisa bersikap berbeda. Karena Luna adalah sebuah pengecualian dalam hidup Ken.


Tak ingin melihat kemesraan mereka semakin lama lagi. Devan pun segera menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda, kemudian meninggalkan kamar Ken. Menyusahkan dua orang saja, Luna dan Ken berdua di sana.


"Luna William, kali ini kau tidak bisa lolos dariku lagi!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2