PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Resmi Pacaran


__ADS_3

Viona berjalan santai ditrotoar diikuti Kevin yang mengekor dibelakangnya. Setelah memasukkan membeli rokok, Kevin menuruti permintaan Viona untuk berjalan-jalan sebentar.


Gadis itu terlihat begitu riang, sesekali ia menghentikan langkahnya untuk menyapa anak kecil yang ada dalam gendongan ibunya. Melihat tingkah Viona membuat sudut bibir Kevin tertarik ke atas, laki-laki bersurai blonde itu mengulum senyum tipis.


"Eo??"


Langkah Viona tiba-tiba terhenti saat mata Amber-nya tanpa sengaja melihat ada kedai penjual ice cream diseberang jalan. Udara panas dan lelah berjalan membuat Viona ingin singgah di kedai itu sambil menikmati dinginnya ice cream.


"Ada apa?" tanya Kevin yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Viona.


Gadis itu menoleh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum tiga jari. "Bisa kita mampir kekedai itu? Tapi aku tidak membawa uang sama sekali, bisakah kau membelikan satu cup ice cream untukku?" Viona menakupkan kedua tangannya dan memandang Kevin dengan tatapan memohon.


Kevin menghela nafas, dengan gemas pemuda itu menjitak kepala Viona lalu menggenggam tangannya dan membawa gadis itu menuju kedai yang berada diseberang jalan.


Setibanya di kedai, Viona langsung memesan ice cream dengan rasa favoritnya. Karena Kevin memang tidak menyukai manis, pemuda itu memilih rasa macha yang memiliki rasa pahit.


"Huaa segarnya!!" Seru Viona setelah memasukkan satu sendok ice ke dalam mulutnya.


Viona mengambil satu sendok lagi kemudian ia berikan pada Kevin. "Aaakkk!" Kevin mengerutkan dahinya dan hanya menatap datar sendok yang Viona sodorkan padanya.


"Ck, kenapa malah dilihat saja? Buka mulutmu, aaaakkkk!!" Viona tersenyum ketika Kevin membuka mulutnya. "Bagaimana?? Enak bukan ice cream milikku?" Ucapnya lalu memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya sendiri,


Kevin menggeleng. "Milikmu terlalu manis, dan aku benci manis!" katanya menimpali.


Viona menyapukan pandangannya ke-segala penjuru arah, tanpa sengaja mata Amber-nya melihat satu keluarga yang terdiri dari Ibu, ayah dan kedua anaknya duduk dimeja diujung kedai.


Melihat kedekatan dan kehangatan yang ditunjukkan keluarga itu membuat Viona tersenyum hambar, ia menjadi teringat ibu dan ayahnya yang sudah ada di Surga. Tanpa bisa dicegah, air matanya bercucuran membasahi wajah cantiknya.


"Kau baik-baik saja?"


Viona mengangkat wajahnya dan mengangguk. Kevin mengikuti arah pandang gadis itu. "Kau merindukan keluargamu?" lagi-lagi Viona mengangguk.


"Aku merindukan mereka!" ucap Viona parau seperti menahan tangis.


Kevin bangkit dari duduknya dan menghampiri Viona, diraihnya bahu gadis itu dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Menyandarkan dagunya pada kepala coklat Viona.


"Jika ingin menangis, menangis saja, tidak perlu ditahan!" kata Kevin sambil mengusap punggung Viona dengan gerakan naik tutun.

__ADS_1


Hati Kevin bagaikan disayat mendengar isakan pilu gadis itu. Rasanya begitu menyakitkan, dan Kevin lebih menyukai ketika gadis itu tersenyum. Kevin menutup matanya, tangannya terus mengusap punggung gadis itu, mencoba memberikan ketenangan pada Viona.


Dirasa cukup tenang, Kevin melonggarkan pelukannya, jari-jari besarnya menghapus sisa air mata di pipi Viona. "Sebaiknya segera habiskan ice creammu sebelum semakin mencair!" Viona mengusap wajahnya kemudian mengangguk.


Setelah menghabiskan ice creamnya dan membayar, mereka berdua meninggalkan kedai. Perasaan Viona juga sudah lebih baik dari sebelumnya. Bahkan gadis itu sudah bisa tersenyum lebar.


Saat ini keduanya sedang berada di wahana bermain. Viona merengek dan memaksa Kevin untuk naik kincir angin, dan tentu saja Kevin-lah yang membayar tiket masuknya karena Viona tidak membawa uang sama sekali.


"Kau percaya, Jika sepasang kekasih berciuman diatas kincir angin saat mencapai puncaknya, maka cinta mereka akan kekal!!" Ucap Viona sambil menatap Kevin yang duduk di depannya.


Pemuda itu menggeleng. "Aku belum pernah mendengarnya, jadi mana bisa aku percaya!!" jawabnya seperti biasa, datar.


"Saat masih kecil aku memiliki sebuah impian. Ketika dewasa, aku ingin menaik sebuah kincir angin bersama laki-laki yang mencintaiku dan aku cintai, kemudian kami berciuman saat kincir itu tiba di puncaknya!" Viona tersenyum, wajahnya memerah, ia merasa geli dengan impian masa kecilnya dulu.


"Dan kau sudah mewujudkannya??" Viona menggeleng, gadis itu tersenyum tipis.


"Bagaimana mau mewujudkannya, jika pasangannya saja belum ada!" katanya yang merasa miris dengan nasib cintanya yang tidak pernah berakhir manis. Dan saat jatuh cinta lagi, tapi cintanya itu malah bertepuk sebelah tangan.


"Untuk itu, aku akan mewujudkan impianmu!"


Mata Viona terbelalak saat merasakan benda lunak dan basah menyentuh permukaan bibirnya. Reflek, gadis itu mencengkram lengan terbuka Kevin. Kevin mencium bibir Viona ketika kincir angin yang mereka naiki tepat pada puncaknya. Namun ciuman itu tidak berlangsung lama dan tanpa balasan, karena yang dicium masih terlalu syok.


Viona nyaris saja tidak percaya mendengar ucapan Kevin. Ia tidak percaya bila Kevin juga memiliki rasa yang sama seperti yang ia miliki. Viona menyeka air matanya dan berhambur memeluk pemuda itu, Kevin tersenyum. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan sang kekasih.


"Aku mencintaimu!" ucap Kevin setengah berbisik.


Viona semakin mengeratkan pelukannya lalu membalas ucapan Kevin. "Aku juga!!"


Kevin melepaskan pelukannya kemudian berpindah kesamping Viona. Keduanya tidak duduk saling berhadapan lagi melainkan duduk bersebelahan. Kevin mengangkat lengan kirinya yang kemudian ia gunakan untuk memeluk bahu Viona, gadis itu menyandarkan kepalanya pada bahu tegap sang kekasih.


Laki-laki itu tersenyum tipis "Oya, Key! Semalam aku bermimpi aneh!" Viona mengangkat wajahnya dan menatap wajah Kevin yang juga menatapnya.


Kevin mengerutkan dahinya, ia penasaran dengan mimpi Viona. "Mimpi??" Ia mengulangi apa yang Viona katakan.


Viona mengangguk. "Aku bermimpi mabuk kemudian menciummu dan mengakui perasaanku padamu!" ujarnya. Kevin melepaskan rangkulannya kemudian tertawa terbahak-bahak.


Viona memiringkan kepalanya dan menatap sang kekasih penuh kebingungan. Entah kenapa Viona malah bergidik sendiri melihat Kevin tertawa selepas itu. Selama mengenal pemuda itu, ini adalah pertama kalinya dia melihat Kevin tertawa seperti itu.

__ADS_1


Kevin menjitak gemas kepala Viona sambil terkekeh. "Dasar pikun. Itu bukan mimpi, tapi kau memang melakukannya!!" kata Kevin dan membuat mata Viona terbelalak.


"Hueee!!! Benarkah?? Apa aku benar-benar melakukannya??" tanya Viona memastikan,


Kevin mengangguk.


Viona meringis ngilu membayangkan apa yang sudah ia lakukan semalam pada Kevin. Ia sangat-sangat malu sekarang. "Aisshhh!! Ini sangat memalukan!" Ia pun menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Kevin menarik tangan Viona dan menurunkan dari wajahnya. "Kenapa harus malu? Karena jika kau tidak bertindak bodoh seperti itu, aku tidak akan pernah tau bagaimana perasaanmu padaku. Dan kita--!! Tidak mungkin bisa seperti ini!" ujar Kevin sambil membelai wajah cantik Viona.


Kincir angin berhenti berputar, Kevin mengulurkan tangannya dan membantu Viona untuk turun. "Kau ingin kemana lagi setelah ini??" tampak Viona berfikir, menimbang penawaran Kevin.


"Eemm!!! Bagaimana kalau kita makan saja? Aku lapar!" Viona mengusap perutnya yang sudah keroncongan.


Kevin mengangguk, mengiyakan "Baiklah!"


Ditengah perjalanan Viona bertemu Minna dan teman-temannya. Mata Minna berbinar melihat keberadaan Kevin, namun tatapan tidak suka Minna lemparkan pada Viona. Gadis itu tidak suka ketika melihat Viona dan Kevin berjalan dengan begitu mesra.


"Bukankah dia gadis yang tinggal di rumahmu!!" Ucap Kevin yang segera dibalas anggukan oleh Viona.


"Oppa!!"


Minna mendorong Viona hingga tautan tangannya dan Kevin terlepas. "Oppa, kau masih mengingatku?? Aku Kim Minna, cucu dari kakek Hilman!!"


Kevin pun menyentak tangan Minna dari lengannya dan memberinya tatapan datar."Yakk!! Oppa, kenapa kau kasar sekali pada wanita!" protes Minna yang tidak terima dengan sikap tak bersahabat Kevin.


Minna menarik sudut bibirnya, dengan penuh percaya diri, Minna memeluk lengan Kevin lagi dan bersandar pada bahu kokohnya. Dari raut mukanya, sangat jelas jika Kevin merasa tidak nyaman.


Tubuh Minna tertarik dan terhuyung kebelakang karena tarikan Viona pada bajunya. Sepertinya dia tidak terima melihat kekasihnya dipeluk seperti itu oleh Minna


"Jangan asal memeluk kekasih orang jika kau tidak ingin kugunduli disini!" kata Viona penuh ancaman.


Viona memeluk lengan terbuka Kevin dan membawa laki-laki itu meninggalkan wahana bermain, termasuk Minna yang terlihat kesal karena ulahnya. Keduanya pun mengurungkan niatnya untuk makan siang diluar dan memilih untuk pulang. Viona membungkus makanan dari restauran favoritnya. Dan Kevin tidak keberatan dengan hal itu.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2