PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Tidak Nyaman


__ADS_3

"Vera, sedang apa kau disini?"


Kevin yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai satu rumahnya menatap tak suka pada gadis yang sedang berbincang dengan Ibunya.


Perempuan itu bernama Vera, dia adalah teman Kevin sejak dia masih duduk disekolah dasar sampai duduk di bangku kuliah dulu. Vera ada rasa pada Kevin, tapi pemuda itu tidak terlalu menghiraukannya. Karena Kevin tidak suka pada gadis manja seperti Vera.


Mendengar suara yang familiar itu, Vera pun langsung menoleh. Gadis itu menarik sudut bibirnya. Dia bangkit dari duduknya lalu berlari menghampiri Kevin dan memeluknya. Tapi sayangnya pelukan itu segera dilepaskan olehnya.


"Jahat!! Padahal aku sangat merindukanmu dan beginikah caramu menyambut teman lamamu?"


"Ck, berhentilah bersikap konyol. Kau membuatku muak!!"


"Kevin, kau sangat jahat!!" Rengek Vera sambil menghentakkan kakinya.


Luna dan yang lain sudah terbiasa dengan kedatangan Vera. Luna dan ibu Vera juga berteman baik, dia tau sejak lama Vera menyukai Kevin, tapi sayangnya Kevin tidak pernah menyukainya.


Meskipun dia dan Ibu Vera berteman. Tapi tak ada keinginan di hati Luna untuk menjodohkan Kevin dengan gadis itu. Kevin sudah dewasa dan dia berhak menentukan hidupnya sendiri.


"Ma, kenapa kau ijinkan benalu ini masuk ke dalam rumah ini?! Mengganggu pemandangan saja, aku akan sarapan diluar. Moodku hilang gara-gara ulet keket ini!!" Ucap Kevin dan pergi begitu saja.


Tapi sayangnya Vera tak tinggal diam. Dia segera mengejar Kevin. "Kevin, tunggu Vera. Vera ikut."


"Jangan pegang-pegang, tanganmu banyak kumannya!!"


"Yakk!! Kevin jahat!!"


Luna mendengus dan menggelengkan kepala. Lalu pandangannya bergulir pada Devan. "Kak, menurutmu Vera dan kucing liar itu lebih cantik mana?" Tanya Luna memastikan.


"Tentu saja lebih cantik si kucing liar. Dia lebih natural, sedangkan Vera make up-nya terlalu tebal." Jawab Devan.


Luna terkekeh. Meskipun dia dan Viona belum pernah bertemu. Tapi entah kenapa Luna yakin jika Viona adalah jodoh masa depan putranya, banyak sekali kebetulan diantara mereka. Dan jika Kevin suatu hari menyukainya, Luna akan menjadi orang pertama yang memberi restunya.

__ADS_1


-


-


Jalanan kota Seoul memang selalu padat ketika hari menjelang siang. Lalu lalang kendaraan pribadi dan umum sudah menjadi pemandangan umum bagi setiap warga yang tinggal di sana.


Di antara kendaraan-kendaraan mewah yang melaju memadati jalanan. Sosok pemuda tampan terlihat melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan Ia tidak menghiraukan umpatan orang-orang yang mobilnya hampir terserempet oleh mobil sport miliknya.


Wajah tampan-nya terlihat datar, tidak banyak ekspresi dari wajah itu. Hanya tatapan dingin dan datar yang selalu Ia perlihatkan. Entah itu di hadapan teman atau kekasihnya sendiri, pemuda itu selalu memasang ekspresi yang sama.


Ckittttt...!!!


Pemuda itu menghentikan laju mobilnya ketika melihat rambu-rambu lalu lintas berganti merah. Yang berarti para pengendara harus berhenti


"Key, kita akan makan di mana?" tegur seorang darah jelita yang duduk di sanping pemuda itu!" melirik kebelakang menggunakan ekor matanya. Namun tak ada jawaban dan gadis itu hanya bisa menghela napas panjang.


Pemuda itu menyapukan pandangannya dan mata abu-abunya tidak sengaja bersirobok dengan sepasang mata berwana Amber miliki seorang gadis yang tengah duduk nyaman di jok belakang sebuah sedan mewah berwarna hitam. Pandangan pemuda itu tak lepas sedikit pun dari mata Amber yang meneduhkan itu.


Mobil itu melesat cepat ketika lampu berganti hijau. Bergantinya lampu lalu lintas segera menyadarkan pemuda itu, di tambah tepukan pada pundaknya. Pemuda itu melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi.


Mobil sport hitam itu menyalip beberapa mobil yang melaju di depannya termasuk mobil hitam yang di tumpangi oleh gadis bermata Amber tadi.


Dan secepat kilat, mobil sport itu melesat jauh meninggalkan keramaian lalu lintas yang kemudian berhenti di sebuah cafe yang menjadi tempat favoritnya ketika menghabiskan waktu luangnya bersama teman-temannya.


Pemuda itu turun dari mobil mewahnya, di ikuti oleh sosok gadis yang sejak tadi duduk di sampingnya. Gadis itu melepaskan. "Kita makan di sini saja, kalau tidak suka kau bisa pergi." ucap pemuda itu yang kemudian di tanggapi dengan anggukan oleh gadis itu.


"Kau jahat, Key. Di mana saja asalkan kau yang menentukan, aku tidak keberatan!" jawabnya sambil tersenyum manis.


Pemuda itu 'Kevin' hanya menyikapi senyum manis gadis merepotkan itu dengan tatapan putaran mata jengah. Gadis itu melingkarkan lengannya pada lengan Kevin, dan memperlihatkan deretan gigi putihnya ketika pemuda itu menatapnya.


"Jangan sembarangan menyentuhku, atau kupatahkan tanganmu!!"

__ADS_1


"Jahat. Kan biar terlihat seperti sepasang kekasih, jadi hal semacam ini tidak mungkin di haramkan!" Kevin berdecak sebal. Dia menyentak tangan Vera dan menatapnya tajam. Gadis itu memang selalu memaksakan kehendaknya dan bertindak semaunya.


Ckittt...!!!


Gesekan ban mobil dan aspal parkiran mengalihkan perhatian keduanya, keduanya menoleh dan mendapati sebuah sedan hitam berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sedan hitam itu adalah sedan yang sama yang Ia lihat saat di lampu merah tadi, tak lama setelahnya dua orang keluar dari mobil itu.


Seorang pria tua dan seorang gadis cantik berparas barbie "Kakek, apa kita akan makan di sini?" tanya si gadis pada pria tua yang berdiri di sampingnya "Ya, dan saat nenekmu masih ada. Cafe ini adalah tempat favorit kami, ayo kita masuk!" gadis itu mengangguk antusias.


Baru saja Ia membalikkan tubuhnya dan hendak memasuki cafe itu, namun mata Amber nya tidak sengaja bersirobok dengan mata abu-abu milik pemuda yang Ia temui di lampu merah tadi. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya terkekeh melihat wajah kesal si pemuda karana ulah gadis disampingnya.


Dalam hati Kevin, dia bersumpah akan memberi pelajaran pada gadis itu yang pastinya adalah Viona. Tatapannya sangat jelas jika dia sedang mengejeknya.


"Kakek, Viona,"


Seruan keras itu menghentikan langkah pasangan cucu dan kakek itu yang pastinya adalah Viona dan Kakek Hilman. Keduanya menoleh pada sumber suara dan mendapati Kai berjalan menghampiri mereka.


"Kai, kebetulan sekali kau ada di sini. Kau ingin sarapan di sini juga?" tanya Viona begitu antusias.


Kai mengangguk membenarkan."Baguslah, kita sarapan sama-sama saja. Dan kau harus merekomendasikan makanan dan minuman yang lezat padaku di cafe ini. Karena aku yakin kau juga sering berkunjung kemari!" lanjutnya dengan senyum manis tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya.


Pukk..!! Pukk..!!


Kai menepuk kepala Viona sebanyak dua kali tanpa melunturkan senyum hangat dari wajah tampannya. "Dengan senang hati," jawabnya. Viona tersenyum manis.


Tanpa Viona sadari, ada sepasang mata yang menatapnya tidak suka. Siapa lagi jika bukan Kevin. Entah kenapa Kevin merasa tidak nyaman melihat kedekatan Viona dan pemuda berkulit Tan itu.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2