PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Oh My God


__ADS_3

"Ka..Kau mau ke mana?"


Luna menahan lengan Ken, ketika pria itu ndak meninggalkannya sendiri di kamar. Lalu Ken pun berbalik, posisinya dan Luna saling berhadapan.


"Tidak kemana-mana, aku hanya mau mandi. Badanku lengket semua."


"Jangan tinggalkan aku sendirian di sini, biarkan aku ikut. Bagaimana jika hantunya tiba-tiba muncul di sini dan memakanku."


Ken memicingkan matanya dan menatap Luna dengan sebelah alis yang terangkat."Kau mau ikut aku ke kamar mandi?" tanya Ken memastikan.


Luna mengangguk. "A..Aku ikut. Aku mohon, jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Aku benar-benar takut." Rengek Luna memohon.


"Tapi aku mau mandi, apa kau siap melihatku tel@njang?"


Bushh...


Pertanyaan Ken membuat rona merah muncul di kedua pipi Luna. Gadis itu segera berbalik sambil memegangi kedua pipinya. "Kan aku bisa berbalik badan. Lagipula ada tirainya, jadi aku rasa aman-aman saja." Wajahnya menunduk dalam, Luna tersipu.


"Baiklah kalau begitu." Ken meraih pergelangan tangan Luna dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Glukk...


Susah payah Luna menelan saliva nya saat melihat Ken yang sedang membuka baju di depan matanya. Ia pun buru-buru berbalik dan posisinya sekarang memunggungi. Ken terus menatap punggung Ellena yang sedang menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa kau malah berbalik badan, Sayang? Aku pikir kau ingin menikmati keindahan tubuhku?" Ken menyeringai.


"Me..Memangnya kapan aku mengatakannya," Kata Luna terbata-bata.


"Aaahhh..."


Luna memekik kencang saat tiba-tiba Ken menarik lengannya dan membuat dia jatuh ke dalam pelukannya. Kedua tangannya bertumpu pada dada bidang pria bermarga Zhao tersebut.


Lagi-lagi mata Luna membelalak jari-jari lentiknya menyentuh sesuatu yang asing. Sesuatu yang bertekstur keras namun terasa hangat. Lalu Luna menurunkan pandangannya.


"Oh my God." Luna berkata lirih.


Dan pandangan Luna tertuju pada dada bagian kanannya, dia dapat melihat dengan sangat jelas sesuatu yang luar biasa, yang membentuk sebuah pola tertentu di sana, tribal tattoo.


"I...Ini sungguh tattoo?" Luna mengangkat wajahnya dan mengunci sepasang manik hitam milik Ken. Pria itu mengangguk. "Mereka sangat indah." bisik Luna sambil menatap takjub tato yang menghiasi dada kanan Ken.


"Kau ingin menyentuhnya?"


"Apakah boleh?"

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Karena semua yang ada di diriku adalah milikmu." bisik Ken lalu mencium bibir Luna.


Bukan ciuman panjang dan panas yang menuntut, hanya sebuah ciuman singkat yang tak kurang dari 10 detik.


Pandangan nu na kembali pada tribal yang menghiasi dada kanan Ken. Dan Luna tidak bisa memalingkan pandangannya dari tribal itu, dia benar-benar terpesona.


"Kau sudah memandangnya dari tadi. Apa kau masih belum puas, Nona Muda?" bisik Ken dan segera menyadarkan Luna."Sebenarnya kau terpesona pada tribal tattoo itu, atau pada tubuhku?"


Luna membelalakan matanya. Iya langsung tersadar. Dan buru-buru Luna menjauh dari Ken. "Si..siapa yang terpesona pada tubuhmu?! Jelas-jelas aku hanya memandang tribal itu." Wajah Luna memerah.


Berburu Luna meninggalkan kamar mandi. Dia tidak ingin semakin terlihat konyol di depan Ken. Pasti Pria itu akan terus menggodanya.


Ken menatap kepergian Luna dengan tatapan senyum tipis tersungging di bibirnya. Kemudian dia terkekeh geli. Dan entah sejak kapan, menggoda dan mengganggu Luna menjadi salah satu hobinya.


🌺


🌺


Luna meninggalkan kamar Ken sambil terus menggerutu. Bibirnya terus komat-kamit tidak jelas. Tak jarang berbagai sumpah serapah keluar dari bibirnya, dan semuanya dia tunjukkan pada Ken.


Gadis itu menghentikan langkahnya di depan lemari pendingin. Mengeluarkan sebuah soda dari dalam kulkas lalu meneguknya. Wajahnya lagi-lagi memerah setiap kali teringat kata-kata Ken tadi. Dan karena terlalu larut dalam dunianya, sampai-sampai Luna tidak menyadari kedatangan si kecil di sana.


"Kakak cantik, ada apa dengan wajahmu itu? Kenapa memerah seperti kepiting rebus? Apa kau sakit?!"


Luna terlonjak kaget karena kemunculan Daniel yang tiba-tiba. Sontak ia menurunkan pandangannya, dan iris Hazel nya bertemu pandang dengan sepasang mutiara hitam milik Daniel.


"Daniel, sejak kapan kau berdiri disitu?! Ini sudah malam kenapa kau belum tidur dan malah kelayapan kemari?" tanya Luna pada bocah laki-laki itu.


"Aku haus dan juga lapar, kakak cantik, bisakah kamu memasakkan sesuatu untukku?" pinta Daniel dengan tatapan memohon.


Luna membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan tingginya dengan Daniel.


"Maaf, Sayang. Bukannya kakak cantik tidak mau memasarkannya untukmu. Tapi masalahnya kakak cantik tidak pandai memasak. Tapi kalau ramen, Kakak cantik masih bisa. Bagaimana kalau makan ramen saja." Usul Luna.


Daniel tampak berpikir, lalu mengangguk. Iya rasa ramen tidak buruk juga, daripada tidak ada yang dimakan.


"Baiklah, Daniel mau."


"Kalau begitu, Kakak cantik masukkan sekarang ya." Daniel mengangguk.


"Oke, kakak cantik."


BRAK...

__ADS_1


Luna dan Daniel dikejutkan dengan suara keras dari arah depan. Gadis itu berlari di ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi.


Kedua matanya membelalak saat melihat segerombol pria berpakaian hitam dan bermasker menerobos masuk, dan saat ini tengah berkelahi dengan beberapa bodyguard yang berjaga di depan.


"Kakak cantik ada apa?" Daniel datang dengan wajah panik.


"Daniel, sebaiknya kau segera pergi ke kamarmu dan bersembunyi. Di luar sangat berbahaya dan jangan sampai mereka melihatmu." pinta Luna memberi nasehat.


"Tapi Kakak cantik, siapa mereka dan Kenapa mereka menyerang rumah kita?" Daniel tampak panik dan ketakutan.


Luna menggeleng. "Kakak cantik sendiri tidak tahu, turuti kata-kata kakak cantik dan cepat pergi bersembunyi." Pinta Luna sekali lagi.


"Lalu bagaimana dengan kakak cantik? Apakah kakak cantik tidak mau bersembunyi juga?"


"Kakak cantik akan tetap disini untuk melihat situasi, jika memungkinkan Kakak cantik akan segera melapor pada polisi."


"Itu tidak perlu!!" sahut seseorang dari arah belakang.


Sontak keduanya menoleh dan mendapati Ken tengah menuruni tangga sambil membawa sebuah pistol di tangan kanannya. Wajahnya terlihat dingin dan suram.


Melihat Ken ketika menatapnya membuat Luna merinding sendiri, tidak pernah Ken menatapnya sedingin itu. Tatapannya menusuk dan penuh intimidasi, berbahaya seperti tatapan iblis.


Dan Luna merasakan Aura tidak biasa ketika Ken menghampirinya. Apakah pria itu sungguh Ken yang selama ini dia kenal? Melihat Ken yang seperti ini seperti, seperti melihat dia yang memiliki 2 kepribadian ganda.


"Sebaiknya kau pergi ke kamar bersama Daniel. Keadaan di luar sangat berbahaya, jangan sampai mereka melihatmu dan menyadari jika kau adalah kelemahanku!!"


"Tapi Ken~"


"JANGAN MEMBANTAHKU!!" luna terlonjak kaget karena bentakan Ken. Pria itu berbicara dengan nada sedikit meninggi. Dan sepanjang mengenal Ken, Ini pertama kalinya dia berbicara dengan nada keras pada Luna. "Daniel cepat pergi ke kamarmu!!"


"Ba..Baik, Pa. Kakak cantik ayo, jangan sampai Papa membentakmu lagi!!"


Daniel menarik lengan Luna dengan paksa dan membawanya menuju kamarnya. Sedangkan pandangan Luna tak lepas sedikitpun dari Ken yang berjalan ke arah pintu.


Dalam hatinya ia bertanya-tanya Apakah agar mampu mengalahkan mereka, yang jelas-jelas jumlahnya tidak sedikit.


"Ken, kau harus selamat!!"


🌺


🌺


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2