
Aldo menyeringai tajam saat melihat mobil Ken tidak lagi terparkir di halaman luas Manson mewahnya. Dia tidak sabar menerima kejutan yang akan menggemparkan semua orang di kediaman Zhao, termasuk Luna.
Dengan langkah tenang dan hati berbunga-bunga, Aldo melangkahkan kakinya memasuki mansion mewah itu. Sesekali dia bersiul sambil memanggil nama Daniel, sayang tidak ada sahutan. Kemudian dia menghampiri Paman Wang yang sedang menyantap sarapannya.
"Paman, dimana Daniel? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Aldo.
"Oh, Tuan Kecil ikut pergi ke Busan bersama Tuan Muda dan Nona Luna," jawab Paman Wang dan membuat kedua mata Aldo membelalak.
"A..Apa kau bilang? Lu..na ikut pergi ke Busan bersama Paman?" Paman Wang mengangguk.
"Mereka berniat untuk pergi berlibur, ini adalah musim Semi dan Nona Luna ingin sekali melihat bunga Canola." Jelasnya.
Aldo menggeleng. Kemudian dia berjalan mundur sambil terus mengatakan Tidak, Tidak dan Tidak' Paman Wang yang tidak tau apa-apa hanya bisa mendengus. Dia berpikir jika Aldo kesal karena mereka pergi berlibur. Apalagi Paman Wang tau jika Aldo mencintai Luna.
-
-
Mobil sport hitam milik Ken melaju tenang pada jalanan kota yang padat kendaraan. Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena tak ingin membuat wanita disampingnya dan juga Daniel menjadi merasa tidak nyaman.
"Sepertinya Daniel sangat menikmati perjalanan ini, lihatlah dia sedang tertidur pulas." Ucap Luna sambil menunjuk ke belakang.
Ken menoleh dan melirik dari ekor matanya."Dia terlalu aktif, makanya lelah padahal perjalanan masih sangat panjang. Jika kau lelah, kau tidur saja, perjalanan kita masih sangat jauh." Ucap Ken.
Luna menggeleng. "Aku ingin menikmati pemandangan, jadi mana mungkin aku bisa tidur." Jawabnya. Ken hanya mengangguk sambil mengacak rambut coklat Luna.
Awalnya semua tampak baik-baik saja sampai Ken merasa ada yang salah dengan mobilnya. Remnya tiba-tiba tidak berfungsi dan itu membuat Ken menjadi sedikit panik. "Ken, ada apa?" bingung Luna melihat wajah panik suaminya.
"Remnya tiba-tiba tidak berfungsi." jawab Ken dan membuat mata Luna membelalak.
"A-Apa?" kaget Luna panik. Kedua mata Luna membelalak. Lalu pandangan Luna bergulir ke depan. Matanya membelalak melihat sebuah bus melaju kencang dari arah depan. "KEN, AWAS!!!" Teriak Luna. Ken menoleh dan...
BRAKKK...!!
Dan kecelakaan pun tidak dapat terhindarkan. Mobil milik Ken bertabrakan dengan kendaraan lain dan terguling sampai beberapa kali. Tubuh ketiganya sama-sama terpental sebelum mobil itu terperosok dan masuk ke dalam jurang.
__ADS_1
Sedangkan mobil yang bertabrakan dengan mobil Ken terbakar di tempat. Seorang wanita tampak terpental ke luar dan tubuhnya pun ikut terbakar. Di samping wanita malang itu kehilangan nyawa, tampak kalung dan gelang milik Luna yang tergeletak di sana.
Dalam keadaan sadar tidak sadar. Ken menyapukan pandangannya mencoba mencari keberadaan Daniel dan sang istri. "Daniel, Luna, kalian di mana?" lirihnya bergumam.
Dan hatinya mencelos ketika melihat seorang anak kecil terbaring di tengah jalan dalam keadaan bersimbah darah dan sosok wanita yang tengah terbaring tak jauh dari tempatnya berada dengan sekujur tubuh nyaris menghitam sehingga tidak dapat di kenali lagi.
"Lu..Na, Da..Niel...," Ken jatuh pingsan pada akhirnya.
Orang-orang berkerumun dan suara sirine ambulans memecah dalam keriuhan membuat suasana di lokasi kecelakaan menjadi semakin mencekam. Satu persatu mayat dinaikkan ke dalam ambulans begitu juga dengan Ken yang merupakan satu-satunya korban yang selamat. Dan insiden itu membuat jalanan menjadi macet total.
"Hei, siapa pun tolong ada satu korban lagi di sini dan sepertinya dia masih hidup."
Seorang pria tua berseru dengan lantang. Tapi riuhnya keadaan di sana membuat teriakannya tidak di dengar. "Ayah, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja. Dia bisa meninggal karena kehabisan darah, lihatlah seperti dia mengalami pendaran hebat." saran seorang pemuda yang pastinya adalah putra dari pria tersebut.
"Ka-kau benar. Segera cari taksi kita larikan dia ke rumah sakit."
"Baik, Ayah."
Tiba-tiba pria itu menyeringai menatap wajah cantik wanita yang sedang tak sadarkan diri dihadapannya. "Sepertinya kau akan sangat berguna untukku kedepannya!"
🌹
🌹
Langit sore tidak secerah biasanya. Mendung dan awan hitam menggulung di ujung cakrawala.
Angin musim semi berhembus lirih dan menerbangkan daun-daun kering di area pemakaman. Ken masih belum beranjak dan diam terpaku di atas kursi rodanya. Mata kanannya yang tidak tertutup perban tampak datar menatap gundukkan tanah basah didepannya.
Bibirnya terkatup rapat dan pandangannya kosong. Wanita yang sangat dia cintai telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya, menyisakan luka yang mendalam di hati Ken. Sedangkan Daniel selamat meskipun terluka parah dan saat ini bocah itu sedang di rawat di rumah sakit.
Rasanya baru kemarin mereka bercanda tawa, saling memadu cinta tapi secepat angin Tuhan merenggut Luna dari sisinya.
Dan masih sangat sulit untuk untuk Ken bisa percaya bila wanita yang selama beberapa bulan ini mendampingi hidupnya dalam keadaan suka maupun duka, tiba-tiba pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Dan hari yang seharusnya di penuhi dengan senyum bahagia malah berubah menjadi hari yang penuh duka dan air mata, karena kepergian Luna yang begitu tiba-tiba. Semua seperti mimpi.
__ADS_1
Seseorang yang sedari tadi berdiri di belakang kursi roda Ken menepuk bahunya seraya berucap pelan. "Sudah hampir malam. Sebaiknya kita pulang." Ucapnya namun tak di respon sama sekali oleh pria bermarga Zhao tersebut. dan kediaman Ken dia anggap sebagai jawaban.
Ken menatap sekilas pada gundukan tanah itu sebelum pergi dari sana. Dan dengan berat hati, Ken pergi meninggalkan area pemakaman, tempat di mana jasad istri disemayamkan.
Semua terjadi begitu cepat. Jika saja dia bisa lebih menjaga Luna. Pasti sampai detik ini dia masih baik-baik saja dan masih berada disisinya.
Selama perjalanan pulang. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir Ken. Pria itu hanya menatap kosong ke luar jendela sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobilnya.
Dan langit ikut merasakan kepedihan hati Ken saat ini dengan menumpahkan air matanya dalam jumlah besar. Tetesan demi tetesan bening itu terus berjatuhan dari langit yang kemudian berakhir di bumi, menghantarkan hawa dingin yang kian menusuk sampai kesum-sum tulang.
Liquid-liquid bening terus berjatuhan dari sudut mata Ke yang semakin lama semakin tak terhitung lagi jumlahnya. Ken menutup sejenak matanya dan kembali membukanya beberapa saat kemudian. Dalam hatinya Ken berharap jika yang terjadi hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang akan hilang ketika dia membuka kembali matanya esok hari.
Karena sampai kapan pun, Ken tidak bisa menerima kepergian Luna dari hidupnya, kepergian orang terkasihnya yang kini telah menyatu dengan tanah.
-
-
Tak lama setelah kepulangan Ken. Terlihat sebuah mobil sedan hitam berhenti diarea pemakaman. Dua pria berbeda usia keluar dari mobil tersebut, mereka adalah Aiden dan Tuan Valentino. Hati Tuan Valentino hancur saat mendengar kabar jika Luna telah tiada.
Dengan langkah tergopoh-gopoh. Tuan Valentino berjalan menuju makan putrinya yang masih basah. Ayah dua anak itu menangis histeris di depan pusara makam sang putri.
Tuan Valentino berteriak sambil memeluk nisan bertuliskan nama Luna. Aiden tak jauh berbeda, dia sama hancurnya tapi tidak separah Tuan Valentino. Aiden hanya menangis sesegukan sambil memeluk tempat peristirahatan terakhir adiknya.
"LUNA!!! KENAPA KAU MENINGGALKAN PAPA, NAK. KENAPA KAU HARUS PERGI SECEPAT INI. KENAPA KAU HARUS PERGI DISAAT KITA BARU SAJA BERTEMU, KENAPA?! TUHAN, KENAPA KAU MENGAMBIL DIA DARI SISIKU, KENAPA HARUS PUTRIKU YANG KAU AMBIL LEBIH DULU, KENAPA?!"
Baik Tuan Valentino maupun Aiden tidak bisa menyalahkan siapa pun atas insiden yang menimpa Luna, termasuk Ken. Karena Ken sama hancurnya dengan mereka berdua. Ken juga tidak menginginkan hal semacam ini terjadi.
"Pa..Pa... hiks, sebaiknya jangan tangisi lagi. Ki..kita pulang saja, hiks. Luna akan sedih jika melihat Papa seperti ini." Ucap Aiden sambil menangis.
Tuan Valentino menggeleng. "Kau pulang saja lebih dulu, Papa ingin menemani putri Papa di sini. Luna pasti kedinginan dan kesepian. Kau pergilah dan lihat kondisi Ken saat ini. Dia juga terluka parah, bukan hanya fisiknya tapi juga batinnya.
Aiden menatap Tuan Valentino dan mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu," ucapnya dan pergi begitu saja. Dia pergi dengan taksi, karena tidak mungkin Aiden membiarkan ayahnya menggunakan kendaraan umum di saat seperti ini.
-
__ADS_1
-
Bersambung.