PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Sebuah Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Tidak terasa usia kandungan Luna sudah memasuki bulan ke 9. Yang artinya waktu Luna untuk melahirkan tinggal menghitung hari. Semua orang sudah menantikannya, tak terkecuali Ken. Ditengah kebahagiaan yang dia rasakan, tersimpan kekhawatiran dan ketakutan yang semakin besar.


Takut akan kehilangan Luna telah mendarah daging dalam tubuh Ken. Ken takut jika hal buruk sampai menimpa istrinya, dia takut Luna tidak mampu bertahan di tengah perjuangannya. Dan masih banyak sekali ketakutan yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Tepukan pada bahunya membuat perhatian Ken sedikit teralihkan. Pria itu menoleh dan mendapati Luna berdiri dibelakangnya sambil mengurai senyum lebar. "Apa yang sedang kau pikirkan, Ken?" Kemudian dia berpindah dan berdiri disamping suaminya.


Ken menggeleng. "Tidak ada, dimana cardiganmu? Udara hari ini lumayan dingin. Kau tidak boleh kedinginan apalagi sampai jatuh sakit." Ucap Ken dan tatapannya begitu serius.


"Aku tidak memakainya karena merasa gerah. Aku lapar, bisakah kita keluar? Aku ingin makan sesuatu yang pedas, segar dan dingin. Kita keluar ya," Mohon Luna sambil menatap Ken penuh harap.


Ken mendengus geli, dia paling tidak tahan jika melihat Luna sudah memasang wajah seperti seekor kucing imut yang menggemaskan. "Memangnya kau ingin makan dimana?" Tanya Ken memastikan.


Luna menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tau. Mungkin di kedai tempat kita biasanya makan malam, yang jelas aku tidak mau restoran mewah apalagi berbintang. Karena rasanya tidak seenak di kedai pinggir jalan." Jelas Luna.


"Tidak masalah. Sebentar, aku ambil mantel hangatmu dulu," ucap Ken, Luna mengangguk.


Luna mengangkat wajahnya dan menatap langit malam. Bulan bersinar dengan begitu agungnya di atas sana. Dengan jutaan manik-manik langit yang mengiringinya. Luna tersenyum, sudut bibirnya terangkat naik. Sungguh malam yang sangat sempurna, pikirnya.


"Aduhh..."


Luna tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Sebenarnya rasa sakit itu sudah Luna rasakan sejak dua hari belakangan ini. Tapi dia tidak terlalu menghiraukannya. Dia juga tidak bilang pada Ken bila perutnya sudah mulai mulas.


Tapi kali ini rasa sakitnya semakin lama semakin terasa menyiksa dan membuat Luna semakin tidak tahan. Keringat mengucur deras dari keningnya, sebelah tangannya berpegangan erat pada kusen jendela. Nafasnya naik turun tak beraturan.


"Luna!!"


Ken yang baru saja kembali terkejut melihat wanita itu yang tampak kesakitan. Tau Luna akan segera melahirkan. Tanpa membuang banyak waktu Ken pun segera mengangkat tubuh Luna dan membawanya ke rumah sakit.


.


.


Luna mencoba untuk mengatur napasnya yang tersengal, menghitung setiap tarikan dan hembusan untuk menstabilkan dirinya agar tidak panik.


Rasa sakit yang begitu tidak tertahankan bahkan berkali-kali lipat menghantam tubuhnya, jika diibaratkan seperti rahimnya mau runtuh. Kram di perutnya hampir membunuh kesadaran Luna saat ini, ia kelelahan, jiwa dan raganya sungguh tidak mampu bertahan lagi.


Luna menggenggam tangan Ken yang duduk dan menjadi sandarannya, ia menjerit sementara nenek Zhao yang juga ada di mobil itu terus menenangkannya agar tetap sadarkan diri. Teriakan histeris Luna membuat Ken semakin ketakutan, ditambah nenek Zhao yang tidak berhenti bicara.


"Tarik napas, Sayang. Hembuskan pelan-pelan," instruksi Nenek Zhao. Luna hanya mengikuti, meski jeritan itu tak hentinya terus bergema nyaring. "Luna, kau masih bisa bertahan, kan? Kita akan sampai ke rumah sakit secepatnya."


"Huft, huft, huft. Sakit, Nenek. Huhuhu, Ken sakit..." Luna terisak, ia tidak pernah merasakan sakit seperti ini dihidupnya. "Ken.."


"Luna bertahanlah, kita akan sampai sebentar lagi." Bisik Ken mencoba setenang mungkin, meskipun pada kenyataannya dia sangat cemas dan takut.


Terus mengatur pernapasannya, Luna mencoba untuk bertahan, meskipun ia ingin sekali menghentikan semua rasa sakit ini.


Tubuhnya hampir tidak mampu lagi untuk bergerak, energinya terkuras, ditambah rasa stres yang membuat kepalanya serasa dihantam batu, sakit bukan main. Seandainya saja bukan karena Ken dan bayinya yang menunggu untuk melihat dunia, mungkin Luna sudah memilih untuk pergi.


Ken yang selalu berada disisinya selalu memberinya kekuatan, Luna tidak boleh menyerah sekarang, dia harus berjuang untuk tetap hidup meskipun harapan yang dia miliki hanya 0, sekian. Dan bayi ini memberinya harapan, janin dari cinta yang sudah mereka buat berhak merasakan kehidupan di luar rahimnya.


Apapun yang terjadi, Luna akan berusaha semampunya, bertahan untuk melahirkan buah cintanya dan Ken. Hidup untuk Ken dan juga anak-anaknya. Jika pun dia harus pergi hari ini. Namun, bayinya layak untuk tetap hidup, sesuatu yang suci akan lahir dari rahimnya, bayinya adalah keajaiban yang murni tanpa dosa.


.


.

__ADS_1


Ken terus mondar mandi di depan ruang bersalin. Dia benar-benar tidak bisa merasa tenang. Rasa takut akan kehilangan Luna semakin membuncah dan mengambil alih kewarasannya. Ditambah dengan keadaan Luna yang semakin lama semakin melemah.


Derap langkah kaki yang memenuhi lorong rumah sakit yang sepi seketika menarik seluruh atensi dua orang itu. Ken dan Nenek Zhao menoleh pada asal suara, terlihat Tuan Valentino dan Aiden berlari menghampiri keduanya.


Tuan Valentino langsung pergi ke Seoul saat dia dikabari jika Luna akan segera melahirkan. Kecemasan juga terlihat pada raut muka ayah dua anak tersebut. "Bagaimana keadaan Luna, Ken?" Tanya Tuan Valentino. "Dia baik-baik saja, kan?" Sekali lagi dia mematikan. Ken menggeleng.


"Aku juga tidak tau, Pa. Dia sendirian di dalam sana." Jawab Ken setengah lemas.


Pukk...


Tepukan pada pundaknya mengalihkan pandangan Ken. Aiden tersenyum padanya. Meyakinkan pada sang ipar jika semua akan baik-baik saja. "Luna adalah wanita yang kuat, aku yakin dia akan bertahan dan melewati masa-masa tersulitnya ini." Ken hanya mengangguk.


Sudah lebih dari satu jam. Tapi masih belum ada kepastian tentang bagaimana keadaan Luna sekarang. Ken tak henti-hentinya berdoa. Dia berharap sebuah keajaiban itu datang meskipun kemungkinannya sangatlah kecil.


Dia tidak bisa kehilangan Luna seperti ini, anak-anak masih terlalu kecil untuk hidup tanpa ibunya. Apalagi bayi yang akan Luna lahirlah, dialah yang paling membutuhkan ibunya saat ini.


"Luna, aku mohon bertahanlah." Air mata Ken jatuh begitu saja. Sepanjang mengenal cucunya, ini pertama kalinya Nenek Zhao melihat Ken menitihkan air mata.


Nenek Zhao bangkit dan menghampiri Ken. Dipeluknya pria berusia 39 tahun tersebut. Meyakinkan pada Ken jika semua akan baik-baik saja. Nenek Zhao sungguh tidak tega melihat keadaan Ken saat ini, dia begitu tertekan.


Oee... Oee.. Oeee...


Suara tangis bayi memecah dalam heningnya suasana. Ken mengangkat kepalanya. Dia berusaha untuk masuk ke dalam namun pintu itu masih tertutup rapat. Dia tidak bisa bersabar dan menunggu, Ken harus memastikan bagaimana keadaan Luna saat ini.


Selang beberapa saat. Seorang perawat keluar membawa bayi yang masih merah dalam pelukannya lalu memberikannya pada Ken. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu terus menangis ketika berada di pelukan sang perawat, namun dia mulai tenang ketika sudah berada di delapan ayahnya.


"Selamat, Tuan Zhao. Bayi Anda laki-laki, dan Nyonya Luna ingin agar Anda memberinya nama Kevin."


"Lalu bagaimana dengan dia? Apa Luna baik-baik saja?" Tanya Ken memastikan.


Mata Ken membelalak. Masih dengan membawa bayi itu dipelukannya. Ia menerobos masuk ke dalam ruang bersalin. Tubuh Ken lemas seketika dan seluruh sel-sel dalam tubuhnya seakan tak berfungsi lagi ketika melihat tubuh yang telah terbaring dengan mata tertutup rapat itu.


Dengan langkah tertatih, Ken mendekati Luna. Air matanya jatuh tanpa mampu dia cegah. Luna meninggalkannya, dia benar-benar meninggalkannya. Dia gugur diperjuangan terakhirnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi Luna pergi tanpa ada salam perpisahan.


"Luna," suara Ken tercekat. Dengan gemetar dia menyentuh wajah Luna yang sedikit pucat. Pria itu menangis. "Kenapa kau tidak menepati janjimu untuk tetap disisiku? Kenapa kau harus meninggalkan aku seperti ini?! Kenapa!!"


Nenek Zhao, Tuan Valentino dan Aiden masuk ke dalam ruang bersalin beberapa saat kemudian. Air mata mereka pun tumpah begitu saja. Rasanya masih tidak percaya jika wanita itu telah pergi dan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.


Aiden menjatuhkan tubuhnya, dia meringkuk memeluk lututnya jatuh terduduk menangisi Luna, Tuan Nero menahan air matanya, Nenek Zhao benar-benar terisak, dan untuk pertama kalinya Ken menangis dengan pedih dengan isakan yang menyayat hati.


Wanita itu membuat tiga orang pria yang tak pernah kenal cinta dan membutuhkan cinta itu menangis di sampingnya. Tiga pria yang di sayangi dan di cintai Luna, tiga pria yang teramat mencintai Luna, akhirnya hanya harus merelakan dia pergi.


Tidak boleh ada penyesalan, hanya kerelaan yang mau tak mau harus mereka curahkan untuk melepas wanita itu gugur, merelakan senyum yang selalu membawa kehangatan ini gugur terbawa angin kematian.


"Hentikan, Ken. Biarkan Luna beristrahat dengan tenang." Kata Nenek Zhao mendekat dan menepuk pundak cucunya. Nenek Zhao tau begitu pedih kematian ini untuk mereka semua, namun dia tak ingin Lina tidak tenang setelah kepergiannya.


"Maka hentikan aku. Tolong hentikan aku, Nenek." Ucap pria itu dengan frustrasi dan air mata yang menyayat hati.


39 tahun ia hidup di dunia untuk pertama kalinya ia meminta tolong dan menangis, untuk pertama kalinya ia membuang semua sikap keras kepala dan segala sikap yang melambangkan kearoganan yang melekat dalam dirinya.


Oee... Oee... Oee...


Suara tangis bayi dalam pelukan Ken tiba-tiba pecah. Sepertinya bayi tak berdosa itu merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan oleh ayah, dan seluruh orang di dalam ruangan itu. Dia juga tidak merelakan kepergian sang ibu untuk selamanya.


Ken mendekatkan bayi yang masih merah itu ke samping Luna. Jari-jari bayi itu yang tak terbungkus sempurna menyentuh wajah sang ibu dengan suara tangis yang sangat keras. Sebuah keajaiban datang, tiba-tiba mata yang tertutup rapat itu menitihkan cairan bening.

__ADS_1


Kelopak mata yang sebelumnya tertutup rapat perlahan terbuka menunjukan tanda-tanda kehidupan.


Dengan lemah dia menoleh, jarinya menyentuh pipi mungil itu, dan ajaibnya tangis sang bayi redam seketika. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Dengan lirih dia berkata...


"Putraku...!!"


Membuat semua mata yang semula tertutup oleh tangis itu membelalak. Semua orang terkejut, mata itu kembali terbuka setelah dokter menyatakan jika dia telah tiada. Sebuah keajaiban yang akhirnya membawanya kembali. Ya, suara tangis bayi tak berdosa itulah yang membawa jiwa yang telah terpisah dari raganya itu kembali. Sebuah keajaiban, Luna kembali dari kematian setelah mendengar suara tangis bayinya.


"Luna, terimakasih telah kembali untuk kami."


.


EPILOG:


.


"Anak-anak, pamanmu yang super tampan dan keren ini datang!!!"


Perhatian sepasang anak kembar teralihkan oleh suara teriakan bak Guntur dari teras depan. Si bocah laki-laki berlari keluar untuk menyambut kedatangan paman tercintanya itu. Sedangkan si gadis memilik ke dapur untuk membantu sang ibu menyiapkan makan malam.


Malam ini adalah malam yang special. Adik kecilnya telah genap berusia 1 tahun. Tidak ada perayaan besar-besaran. Hanya makan malam sederhana bersama seluruh keluarga besarnya.


Banyak makanan lezat yang tersusun diatas meja. Sang ibu dan beberapa pelayan bekerja keras hari ini untuk menyiapkan semua makanan-makanan lezat itu. "Ma, apakah ada yang Riri bantu?" Tanya bocah perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Marissa.


Luna menggeleng. "Semua sudah selesai, Sayang. Sepertinya Kakek dan Papanmu juga sudah datang. Kau sambut dan temani mereka dulu ya. Mama ke kamar dulu untuk memanggil Papa dan adik kecil," ucap Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Marissa.


"Oke, Ma."


Luna tersenyum lebar. Dia menatap putrinya yang semakin menjauh dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Dia merasa bersyukur karena Tuhan memberinya kesempatan untuk melihat anak-anaknya tumbuh dewasa.


Wanita itu menaiki satu persatu tangga melingkar yang mengarah pada kamarnya. Senyum lembut tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Langkah Luna terhenti di depan sebuah kamar. Dengan perlahan dia memutar kenop pintu di depannya.


Dia melangkah ke dalam dan menghampiri sang suami yang sedang menyiapkan putra kecil mereka. "Wah, lihatlah anak Mama sudah tampan rupanya." Ucap Luna lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.


"Semua sudah siap?" Luna mengangguk.


"Papa dan Kak Ai juga sudah datang. Makan malam juga sudah siap. Segera ganti pakaianmu setelah ini kita turun sama-sama." Ucap Luna yang kemudian dibalas anggukan oleh Ken. "Aku dan Kevin keluar dulu."


Luna menuruni tangga dengan si kecil digendongannya. Aiden dan Devan langsung menghampiri mereka dan berebut ingin mengendong si kecil. Dan akhirnya tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menggendong baby Kevin. Karena Tuan Valentino yang lebih dulu mengambilnya.


Luna terkekeh. Mereka memang selalu seperti itu ketika datang berkunjung. Ada yang berbeda tahun ini, karena Nenek Zhao tidak ada diantara mereka. Dia telah tutup usia sekitar 6 bulan yang lalu karena memang sudah tua.


"Apa yang kau lamunkan?" Luna menoleh saat merasakan sentuhan pada punggungnya. Wanita itu tersenyum kemudian menggeleng.


"Tidak ada, hanya memperhatikan mereka saja. Malam ini semua orang terlihat sangat bahagia. Dan kehadiran Kevin membawa kebahagiaan dalam keluarga ini, andaikan Nenek masih ada dan bersama kita. Pasti kebahagiaan ini lebih sempurna."


Ken memeluk Luna dan mencium keningnya. Dia juga merasa sedih karena kepergian Nenek Zhao yang terlalu cepat. "Tidak perlu merasa sedih, dia telah bahagia di Surga dan berkumpul kembali dengan suaminya. Ayo, semua orang menunggu kita." Luna tersenyum kemudian mengangguk.


Apa yang terjadi hari itu terasa seperti mimpi. Dalam sekejap Tuhan mengambil Luna dari sisinya, tapi dalam sekejap pula Tuhan mengembalikan wanita itu ke dalam pelukannya. Putra merekalah yang membawa keajaiban, Luna kembali setelah mendengar tangisan Kevin.


Kali ini Ken akan lebih menjaga Luna lebih baik lagi. Dia tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari sisinya walaupun hanya satu detik saja. Dan apa artinya hidup Ken tanpa wanita itu disisinya.


-


THE END:

__ADS_1


Ending SS 1. Cerita dilanjut ke kisah si bungsu Kevin ya. Dijamin ceritanya gak kalah seru dari kisah Ken-Luna. Karena karakter Viona gak kalah bar-barnya seperti Luna.


__ADS_2