
"Aaahhh.... Aaahhh..."
Luna hanya bisa pasrah di bawah kungkungan tubuh Ken. Mereka sedang melanjutkan apa yang mereka mulai siang tadi.
Tanda merah memenuhi beberapa inci di tubuh Luna, dan yang paling banyak adalah tanda di dadanya. Tanda merah di leher adalah bukti nyata jika Luna hanyalah miliknya, yang artinya pria lain tidak boleh berharap untuk memilikinya.
Ken terus memompakan juniornya untuk masuk ke dalam Luna lebih dalam lagi hingga menyentuh bibir rah!mnya. Tubuh wanita itu tersentak-sentak seiring tusukan Ken yang semakin dalam.
"Aaahhh... Ken, pelan sedikit... Aaahhh... Oughhh..."
"Tidak, Sayang. Jika pelan mana terasa, nikmati saja dan biarkan aku memuaskan mu malam ini." Ujar Ken.
Ken dan Luna tidak pernah puas dalam melakukan hubungan b*dan, tidak peduli siang ataupun malam. Selama ada kesempatan, kapan pun oke. Di bawah kukungan tubuh Ken, Luna terus mend*sah, Ken benar-benar tau bagaimana memuaskan dirinya. Milik Ken yang berdiri tegap begitu terasa di dalam milik Luna.
Dan sementara itu...
Aldo yang tidak sengaja mendengar ******* panas Luna dari dalam kamar yang pintunya tertutup rapat itu langsung tersulut emosi. Kedua tangannya terkepal kuat, amarah dan emosi terpancar jelas dari sorot matanya yang menahan. Dalam hatinya dia bersumpah, bagaimana pun caranya akan memisahkan mereka berdua. Jika Luna tidak bisa dia miliki, maka Ken juga tidak boleh memilikinya!!
Aldo meninggalkan mansion mewah itu dengan hati panas. Pergi ke klub malam adalah pilihan terbaik untuk menenangkan perasaannya saat ini.
Tapp...
Aldo menghentikan langkahnya saat iris hitamnya tanpa sengaja melihat mobil Ken yang terparkir di samping mobilnya. Aldo menghampiri mobil tersebut. "Bukan Luna yang harus mati, tapi kau... Paman!!!" Kemudian Aldo mencabut rem pada mobil Ken.
Dia berubah pikiran. Bukan Luna yang harusnya dia singkirkan, tapi Ken. Karena jika Ken tidak ada, maka akan lebih leluasa dia memiliki Luna.
-
-
Percintaan panas mereka terus berlangsung. Entah sudah beberapa kalinya Luna melakukan org"sme malam ini, Ken belum mau berhenti meskipun hampir 3 jam. Entah terbuat dari apa tenaga Ken sehingga dia tidak merasa lelah.
"Uhh, kapan ini selesainya, Ken? Aku sudah tidak kuat lagi, sakit dan panas.." rintih Luna yang mulai kehilangan tenaga.
__ADS_1
Ken mencium bibir Luna lalu menatap dalam iris Hazel nya. "Akan kuakhiri sekarang juga," ucapnya sesaat setelah melepaskan tautan bibirnya. Dia tau jika Luna sudah tidak sanggup lagi, dan Ken tidak akan memaksakan diri untuk melakukannya lagi.
Ken kembali menanamkan bibirnya di bibir Luna, dan ********** semakin tadi. "Come with me baby." Mulutnya berbisik hanya beberapa centi dari bibir Luna.
"Oh Tuhan, Ken!" Dan detik berikutnya Luna bisa menjerit merasakan nikmat yang menghantam dirinya disusul dengan geraman pria itu di lehernya saat kej*ntanannya semakin jauh menghantam bibir rahim Luna, yang seketika menghangat oleh cairan prianya di dalam sana.
"Kau terasa luar biasa." Ken kembali menatap Luna yang tampak sayu dan tersenyum lembut seraya membelai pipinya.
"Begitu pula dengan kau." Lu a memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Ken singkat.
Lalu Ken menarik miliknya keluar dan membuat Luna sedikit meringis. "Kau tidak apa-apa?" Ken menempatkan dirinya di sisi Luna dan menarik wanita itu kedalam rengkuhannya.
Luna menggeleng. "Aku menikmatinya." Jawabnya sambil menangkup pipi Ken, Luna menggerakkan lehernya untuk menyamankan posisi kepalanya di bahu lebar Ken dan Ia terkekeh.
"Tidurlah, besok kita harus berangkat lebih awal agar tidak kesiangan tiba di Busan." Pinta Ken sambil membelai rambut Luna dan sentuhannya itu mengirim wanita itu menuju dimensi mimpi.
-
-
Aldo sempat terlibat perkelahian dengan pengunjung lain. Dia tidak terima di senggol oleh orang itu. Kemudian mereka saling memaki dan baku hantam. Aldo yang memang membutuhkan pelampiasan menghajar pria itu tanpa ampun.
"Berikan aku satu gelas lagi," pinta Aldo pada si bartender.
"Ini sudah gelas ke sepuluh mu, Tuan. Kau bisa mabuk berat, dan aku tidak ingin ada kekacauan di barku ini!!" Tegas bartender itu.
Aldo mengangkat wajahnya dan menatap pria itu tajam. "Sebaiknya kau diam jika tidak ingin bar ini sampai aku hancurkan. Siapkan saja minumanku dan jangan banyak bicara!!" Dan bartender itu hanya bisa mendengus, tidak ingin Aldo membuat kekacauan lagi dia pun menuruti permintaannya dan segera menyiapkan minuman untuknya.
-
-
"Pa, bagaimana panampilanku? Apakah bagus? Aku sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan kakek dan nenek Ma, aku ingin mengenalkan kakak cantik pada mereka berdua."
__ADS_1
Hari ini rencananya Ken akan membawa Luna dan Daniel pergi berlibur ke Busan. Nenek dan kakek Ma yang Daniel maksud adalah penjaga Villanya di sana. Ini bukanlah perjalanan bulan madu, jadi sah-sah saja jika Ken membawa Daniel bersamanya.
"Sempurna. Ya sudah, Papa lihat kakak cantikmu dulu. Apakah dia sudah siap atau belum," Ken menepuk kepala coklat Daniel dan pergi begitu saja.
.
.
Luna sedang duduk di depan meja riasnya saat pintu kamarnya di buka dari luar. Tubuhnya dalam balutan celana jeans ketat dan blus putih berendam dan terbuka di bagian bahunya.
"Sayang, sudah siap?" seru Ken seraya menghampiri Luna. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Ken, memangnya untuk apa kita pergi ke Busan. Memangnya tempat seperti apa yang akan kita bertiga kunjungi nanti?" tanya Luna penasaran.
Wanita itu menerima uluran tangan Ken dan sebuah tarikan lembut membuatnya jatuh ke dalam pelukan pria itu. "Jika aku mengatakannya sekarang maka bukan kejutan lagi namanya." ucap Ken sambil mencubit pelan ujung hidung mancung Luna.
"Sejak kapan kau menjadi suka main rahasia-rahasiaan seperti ini? Sungguh tidak seperti dirimu." protes Luna sambil menyipitkan kedua matanya.
Ken terkekeh pelan. "Dan kenapa kau semakin bawel saja?" Keluhnya.
"Mungkin karena kau belum terlalu lama mengenalku maka tidak tau seperti apa diriku yang sebenarnya." Jawabnya asal. "Dan bisakah kita berangkat sekarang? Aku sudah sangat tidak sabar untuk segera tiba di sana." Rengek Luna memohon.
Lagi-lagi Ken mendengus geli, dan keduanya pun berjalan beriringan menuju halaman di mana mobil Ken diparkirkan. Di sana Daniel sudah menunggu mereka, bocah itu terlihat begitu antusias.
DEGG..!!!
Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya membuat Ken ikut berhenti juga. Entah kenapa wanita itu merasa begitu gelisah. Dia merasa seperti akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Sebuah tragedi yang akan menguras emosi dan air mata. "Luna, ada apa?" tanya Ken sedikit bingung.
Luna tersenyum dan menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Aku pikir aku sudah melupakan sesuatu, tapi ternyata tidak. Ayo." Wanita itu mencoba untuk terlihat ceria guna menutupi keresahan hatinya.
Dengan manja Luna memeluk lengan Ken yang tersembunyi di balik lengan kemeja dan jasnya. Dan senyum itu pudar seketika ketika mereka melanjutkan langkahnya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.