
Luna memagut dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan gaun pesta perpaduan warna gold dan merah dengan taburan berlian dan batu Swarovski.
Rambut panjangnya tergerai dan jatuh di atas punggungnya, tak ketinggalan sepasang anting dan sebuah kalung berlian yang kian menyempurnakan penampilannya. Malam ini adalah miliknya, pesta itu disiapkan untuknya, untuk itu Luna ingin terlihat menawan di depan semua orang.
"Wow, kau sangat cantik, Adik. Nyaris saja kakakmu yang super tampan ini tidak mengenalimu," seru seseorang dari arah pintu. Luna menoleh dan mendapati Aidan berjalan menghampirinya.
Pria itu terlihat tampan dan gagah dalam balutan setelan jas hitam dan kemeja putih sebagai dalaman jasnya.
Memang tidak bisa Luna pungkiri, jika kakaknya itu memang sangat tampan dan penuh pesona. Namun ketampanan yang Aiden dimiliki tentu tidak sebanding dengan Ken. Karena bagi Luna, tidak ada yang setampan suaminya.
"Kakak juga sangat tampan, dan Aku berani bersumpah, pasti gadis-gadis aku akan menjerit ketika melihatmu." Ujar Luna.
Aiden mengangkat bahu dan merentangkan tangan. "Itu sudah pasti, memangnya siapa yang bisa menandingi ketampananku?" ucapnya penuh percaya diri.
Luna berdecak sebal, dia sangat-sangat menyesal telah memuji Aiden. Aku Tarik kembali ucapanku, kau tidak tampan tapi jelek!!"
"Yakk!! Bagaimana bisa begitu, jelas-jelas kau sudah memujiku. Dan pujianmu tentu tidak bisa kau tarik kembali, karena sebenarnya aku ini memang sangat tampan, hahaha...hahaha.."
Luna memutar bola matanya Jengah. "Huh, terserah kau saja. Sudahlah aku keluar dulu, pasti Papa dan yang lain sudah menungguku!!" luna mendorong tahu Aiden dan melewatinya begitu saja.
"Yakk!! Luna Valentino, kenapa kau begitu durhaka pada kakakmu sendiri!!" teriak Aiden tak terima oleh perlakuan Luna.
"Masa bodoh!!!"
-
-
Ribuan tamu undangan memenuhi gedung pesta. Beberapa di antaranya sedang berbincang dengan ayah, nenek serta kakeknya, ada juga yang berbincang dengan Ken.
Tidak mengherankan bila suaminya itu mengenal banyak orang di pesta yang diadakan oleh ayahnya. Mengingat Ken adalah seorang pembisnis muda yang sukses.
Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatian banyak pasang mata. Terlihat seorang perempuan muda menuruni tangga dengan anggukannya. Membuat sepasang mata hitam tajam tak lepas sedikit pun dari sosok itu yang pastinya adalah Luna.
__ADS_1
Kemudian pria itu beranjak dan menghampiri Luna. Wanita itu tersenyum tipis. "Apakah Pangeran datang untuk menjemput sang Putri?" Luna menatap pria itu yang pastinya adalah Ken dengan senyum mengembang tersungging di sudut bibirnya.
"Menurutmu?"
"Bukan putri lagi, tapi sang permaisuri." Jawab Luna dengan senyum yang sama.
"Baiklah kalau begitu, akan ku temani permaisuri menjamu para tamu," Luna mengangguk. Lalu keduanya berjalan beriringan menghampiri Tuan Valentino.
Hari ini Tuan Valentino hendak mengenalkan putrinya itu pada semua orang. Karena hal baik, tidak baik jika harus disembunyikan terlalu lama. Begitulah yang dia pikirkan.
"Tuan Valentino, siapakah gadis cantik ini? Apakah dia calon menantu Anda? Tapi sepertinya dia sangat dekat dengan, Tuan Zhao?" ucap salah seorang tamu yang merupakan rekan bisnis dengan Valentino.
"Tuan Valentino menggeleng. Dia bukan calon menantu ku, tapi dia putriku. Putriku yang baru saja ku temukan setelah menghilang belasan tahun lamanya. Dan dia adalah istri dari, Tuan Muda, kita ini."
Kemudian Luna membungkuk, memberi hormat pada rekan-rekan bisnis ayahnya. Dia memperkenalkan diri dengan begitu sopan. Sebisa mungkin Luna menjaga sikapnya, dia tidak ingin mempermalukan keluarga Valentino.
"Tuan Valentino, tidak menyangka Jika anda memiliki putri yang sangat cantik. Sayang sekali dia sudah menikah, jika belum akan ku lamar dia untuk Putraku."
Luna hanya tersenyum simpul menanggapi setiap pujian untuknya. "Anda terlalu memuji, Paman. Saya tidaklah sebaik dan secantik yang Anda semua pikirkan." ucap Luna.
"Gadis cantik memang selalu merendahkan diri. Kami mengatakan fakta, Nak. Bukan hanya bualan saja, selamat untuk Anda, Tuan Valentino. Karena berhasil menemukan kembali Putri Anda yang telah lama hilang. Sebagai rekan bisnis Anda, kami turut bahagia."
Tuan Valentino tersenyum lebar. "Terimakasih, Tuan Danu. Silakan nikmati pestanya, maaf kami harus menemui tamu-tamu yang lain."
"Iya, silahkan."
Sementara itu..
Di tempat dan lokasi berbeda. Seorang pria Tengah tersenyum lebar, sebuah Seringai lebih tepatnya, memperlihatkan sebagian deretan gigi putihnya yang rapi. Di sela-sela jarinya mengapit sebatang rokok yang tinggal setengah.
"Tuan, silakan. Mobil Anda telah siap,"
"Baiklah, Ayo kita pergi dan memberi kejutan pada Valentino itu. Aku sungguh tidak sabar untuk segera bertemu dengan keponakanku yang cantik itu,"
__ADS_1
Pria dalam balutan jas hitam itu melenggang meninggalkan ruangan pribadinya. Di halaman Mansion mewah nya, sebuah mobil telah terparkir menunggu tuannya. Pria itu masuk ke dalam mobil tersebut dan diikuti pria lain yang kemudian duduk dibalik kemudi.
-
-
Pesta berlangsung dengan sangat meriah. Para tamu undangan, sedang menikmati hidangan yang disiapkan oleh si tuan rumah. Ada pula yang hanya berbincang sambil menikmati cocktail, wine dan Cinder.
Dan bagi mereka yang tidak terbisa meminum minuman beralkohol, bisa menikmati jus maupun minuman bersoda. Tuan Valentino tahu jika tidak semua tamunya bisa meminum, minuman beralkohol. Itulah kenapa dia juga menyiapkan minuman non alkohol.
Seorang bodyguard tiba-tiba menyelonong masuk dan menghampiri tuhan Valentino yang sedang kebijakan dengan para tamu undangannya. Bodyguard itu membisikkan sesuatu di telinga Tuan Valentino, dan membuat kedua matanya membelalak sempurna.
"Apa kau bilang, adik tiriku ada disini?!" Pria itu mengangguk.
Ia pun segera memisahkan diri dari pada tamunya dan bergegas keluar untuk memastikan apakah itu benar-benar dia atau bukan. Hans Valentino tidak akan membiarkan orang itu masuk dan membuat keributan di momen yang special ini.
Ken yang tidak sengaja melihat Tuan Valentino keluar dengan sedikit terburu-buru tampak memicingkan matanya. Dia tidak tau pria itu hendak pergi kemana, tapi wajahnya terlihat panik dan cemas.
"Ken, papa kau kemana? Kenapa dia terburu-buru dan terlihat cemas?" Tanya Luna yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Ken.
Ken menatap Luna lalu menggeleng. "Aku sendiri tidak tau," jawabnya.
"Sebaiknya kita susul dia untuk memastikannya. Aku takut dan cemas, mungkin saja ada bahaya yang sedang mengintai makanya dia pergi dengan panik dan terburu-buru." Ucap Luna yang segera di balas anggukan oleh Ken.
"Kalian berdua mau kemana? Ken, Luna.. Tunggu aku!! Nenek, Kakek, sepertinya terjadi masalah di luar. Aku pergi melihat dulu ya. Kalian tetaplah di sini, para tamu bisa kebingungan jika melihat kita semua keluar." Aiden menatap keduanya bergantian. Kakek dan Nenek Valentino lantas mengangguk.
"Baiklah."
-
-
Bersambung.
__ADS_1