
Luna tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Hidupnya menjadi sempurna dengan kembalinya si kembar ke dalam pelukannya. Marissa dan Marcello.. Si kembar yang hilang selama dua tahun.
Luna merubah nama anak-anaknya. Nama yang ingin sekali Luna berikan sejak mereka masih berada di dalan kandungannya.
Marisa yang berarti lautan, dan Marcello yang berarti Pemberani. Ken tidak merasa keberatan dengan nama yang diberikan oleh Luna pada si kembar, meskipun sebenarnya dia juga sudah memiliki nama untuk mereka berdua.
"Sudah siap?" Ken menghampiri Luna yang sedang sibuk mengganti pakaian si kembar. Wanita itu mengangkat wajahnya lalu mengangguk.
Rencananya hari ini mereka sekeluarga akan kembali ke Seoul. Tuan Valentino memutuskan untuk ikut bersama mereka, dia juga memiliki tempat tinggal di kota kelahiran putra-putrinya. Devan dan Daniel tidak jadi datang Ke London, Ken melarangnya karena mereka yang akan pulang ke Seoul.
"Pa, bisakah kau menggendongku?" Marisa menghampiri Ken sambil merentangkan kedua tangannya.
Pria yang selalu irit tersenyum itu menarik sudut bibirnya dengan lebar. "Tentu saja, Nak." Jawab Ken lalu membawa Marissa ke dalam gendongannya.
"Lalu bagaimana denganku? Masa hanya si cengeng Marissa yang Papa gendong?! Aku juga mau!!" Marcell pun tak mau kalah. Ken terkekeh, kemudian dia menggendong keduanya.
Luna yang melihat bagaimana manjanya mereka pada sang ayah hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Mereka begitu menggemaskan.
Tapi Luna juga tidak bisa menyalahkan sikap mereka, karena selama ini Marissa dan Marcell tidak pernah merasakan pelukan hangat seorang ayah ataupun Ibu. Dia bisa memakluminya.
"Pa, baju yang Papa pakai jelek. Kenapa Papa harus pakai baju ini?! Sehalusnya pakai baju yang sama sepelti yang Papa pakai kemalin malam." Celoteh Marissa dengan gaya cadelnya.
Alis Ken saling bertautan. "Yang mana?"
"Yang kemalen itu loh, Pa. Masa Papa lupa!!" Gadis kecil itu merengutkan wajahnya.
Lalu Ken menoleh pada Luna. Kemudian Luna memberi isyarat dengan menunjuk Vest yang Ken pakai sebagai luaran kemeja lengan panjangnya. Dan sekarang dia mengerti apa yang dimaksud oleh putrinya tersebut.
Ken menghentikan langkahnya begitu pula dengan Luna. Wajah gadis kecil itu masih tetap murung karena ketidakpekaan ayahnya.
__ADS_1
"Jadi Marissa ingin supaya Papa pakai baju lengan terbuka lagi?" Ken menatap putrinya itu. Seketika Marissa mengangkat wajahnya dan mengangguk semangat.
"Ya, ya, ya, yang itu!!" Jawabnya bersemangat.
Ken mendengus berat. Lalu dia menoleh pada Luna yang tampak menggelengkan kepala sambil mengurai senyum tanpa dosa. Marissa benar-benar photo copy Luna, sama-sama memiliki selera yang aneh.
Namun sebagai seorang Ayah yang baik, Ken juga tidak bisa menolak permintaan putrinya yang menurutnya sangat sederhana itu. Lagipula pesawat yang mereka gunakan adalah pesawat pribadi, dan jika dia merasa dingin di pesawat tinggal memakai jas, maka beres.
"Kalau begitu Papa akan ganti baju sekarang juga, Marissa dengan Mama dulu ya." Kemudian Ken menurunkan kedua buah hatinya dan pergi begitu saja.
Marcell yang melihat permintaan aneh saudari kembarnya hanya bisa mendecih dan menggelengkan kepala. Kini sifat asli Marissa benar-benar keluar, padahal sebelumnya dia tidak pernah menunjukkan sikap yang begitu menyebalkan seperti ini.
Kemudian Luna menatap si kembar. "Kita turun dulu ya, kita tunggu Papa dibawa saja." Ucap Luna yang kemudian dibalas anggukan oleh kedua buah hatinya.
.
.
Melihat kedatangan ayahnya membuat senyum Marissa terkembang lebar. Sedangkan Luna malah tidak berkedip sedikit pun, suaminya begitu tampan dan cool.
Seketika Luna merasakan sesuatu yang tidak nyaman di area bawahnya. Jika saja tidak ada anak-anak, pasti dia sudah menyerang Ken, penampilan suaminya yang seperti ini benar-benar mampu membangkitkan gairah dalam dirinya.
Ken yang menyadari sikap aneh istrinya hanya menyeringai, sedangkan Marcell menatapnya dengan aneh. Sebuah kalimat pun terucap dari bibir mungilnya. "Ada apa, Ma?! Kenapa Mama terlihat seperti cacing yang kepanasan?!" Marcell menyipitkan matanya.
Jlebb...
Rasanya seperti ada sebuah belati menancap di dada Luna karena pertanyaan menohok putranya itu. Aneh rasanya, Marcell yang baru berusia dua tahun bisa mengeluarkan kata-kata tajam seperti itu.
Luna tertawa hambar. "Hahaha.. Bukan cacing kepanasan, Sayang. Tapi Mama lagi kebelet pipis, kalian tunggu di luar ya. Kakek dan Pamanmu sudah menunggu di mobil. Ada yang Papa dan Mama lupakan saat berbenah tadi," ujar Luna memberi alasan. Keduanya lantas mengangguk.
__ADS_1
Selepas kepergian kedua buah hatinya. Luna langsung menarik Ken menuju kamar mandi. Dan di dalam sana dia langsung menyerang Ken dengan mel*mat bibirnya lebih dulu.
"Kenapa kau begitu agresif sekali, Sayang?"
"Kau harus bertanggung jawab, Ken. Lihatlah aku basah karena mu. Uhh, ini benar-benar membuatku sangat tidak nyaman. Dan salahmu sendiri kenapa kau malah harus menuruti permintaan putrimu padahal ini masih siang bolong. Kau menyiksaku, Dear."
"Salah sendiri kau begitu menyukaiku yang panas!!" Timpal Ken lalu balik mel*mat dan memagut bibir Luna.
Luna memeluk leher suaminya dengan sangat erat ketika Ken mulai memasukkan senjata tersembunyi-nya ke dalam Miss nya yang telah basah dan lembab.
Mereka bercocok tanam di dalam kamar mandi, karena ini darurat maka mereka tidak bisa melakukan adegan panjang seperti yang selalu mereka lakukan nyaris setiap malam. Des*han dan erangan berkali-kali keluar dari bibir Luna ketika Ken menusuknya semakin dalam.
Sementara itu...
Aiden, Tuan Valentino, Felix dan Tao sedikit bosan karena menunggu mereka berdua yang tidak keluar-keluar. Si kembar bilang ada yang mereka lupakan saat berbenah tapi, bahkan dengan polosnya Marissa mengungkit ibunya yang menurut Marcell seperti cacing kepanasan.
Dan keempat orang dewasa itu langsung mengerti arti kata ambigu yang disampaikan oleh Marissa. Tuan Valentino bisa mengerti, karena dia juga pernah muda. Sedangkan tiga bujang kita hanya bisa gigit jari karena belum juga memiliki pasangan yang bisa diajaknya bercocok tanam setiap saat.
"Pa, ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan masuk saja. Kita bisa mati kebosanan jika menunggu mereka yang sedang kuda-kudaan!!" Ucap Aiden tidak sabaran.
"Tidak perlu, mereka sudah datang." Jawab Tuan Valentino melihat putri dan menantunya itu.
Aiden tidak tau bagaimana cara mereka melakukannya. Bahkan penampilan mereka masih sangat rapi. Sungguh pasangan mesum yang sangat profesional, begitulah yang dia pikirkan.
Setelah Luna dan Ken masuk ke dalam mobil mewah itu. Mobil itu pun mulai melaju meninggalkan mansion mewah milik Ken. Felix dan Tao menggunakan mobil lain yang dikemudikan oleh salah seorang anak buah Ken.
Mereka menuju bandara, pesawat pribadi milik Ken ada di sana. Berbeda dengan di kota Seoul. Tidak ada landasan di mansionnya di kota ini. Itulah kenapa mereka harus ke bandara terlebih dulu.
-
__ADS_1
-
Bersambung.