
Di sini mereka sekarang. Di sebuah cafe yang terletak di jalan Hongdae. Kai tidak tau apa alasan Viona memilih cafe itu. Padahal masih banyak cafe yang lebih baik dari cafe tersebut.
Apalagi menurut Kai tempat itu tidak ada bagus-bagusnya sama sekali, bahkan Kai telah merekomendasikan cafe lain yang jauh lebih bagus dan lebih berkelas dari pada cafe tersebut namun Viona menolaknya.
Kai sedikit sangsi dengan cafe tersebut karena menurutnya sangat tidak cocok untuk di datangi oleh orang berkelas seperti dirinya dan Viona.
Viona terutama, tidak seharusnya nona muda seperti dia berada di antara orang-orang dari kelas menengah kebawah.
"Kai, kau ingin memesan apa?" tanya Viona sambil membolak-balik buku menunya.
Wajah Kai yang semula tertuju pada jalanan yang padat dengan kendaraan yang berlalu lalang kini teralih pada Viona. Laki-laki itu memberikan tatapan datarnya
"Tidak ada, tempat ini membuatku tak berselera!" jawabnya sarkastik. Gerakan tangan Viona terhenti, gadis itu mendongakkan wajahnya dan menatap Kai penuh tanya
"Apa maksudmu?" Kai mengangkat bahunya acuh, lalu mengeluarkan ponsel pintarnya kemudian menghubungi seseorang.
Tidak sampai 5 menit, Kai sudah memutuskan sambungan telfonnya dan memasukkan ponsel itu kembali kedalam saku jasnya. "Kita pindah, aku sudah memesan tempat di golden cafe untuk kita berdua. Tempat itu lebih cocok untukmu di bandingkan cafe tak berkelas seperti tempat ini!"
Viona menutup buku menunya dengan sedikit sentakan hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Kai memandang gadis itu sedikit bingung di tambah tatapan tak bersahabatnya.
"Ada apa? Apa aku salah mengatakan sesuatu?" tanyanya polos.
"Tsk," Viona mendecih, bangkit dari duduknya dan menyambar tas bahunya.
Mengabaikan Kai, Viona berjalan meninggalkan cafe. Senyum Kai terkembang lebar, karena Ia pikir Viona bersedia untuk pindah cafe seperti keinginannya. Kai bangkit dari duduknya dan bergegas menyusul Viona.
"Maaf, sudah menunggu lama," ucap Kai pada Viona yang sedang berdiri di depan cafe.
"...." namun tidak ada respon. Gadis itu hanya menatap lurus kedepan, lebih tepatnya pada kendaraan hilir mudik. "Ck, menyebalkan," gadis itu bergumam pelan, sangat pelan namun sepelan apa pun suara Viona masih bisa terdengar jelas oleh Kai.
Laki-laki itu mengerutkan dahinya. "Kau mengatakan sesuatu?" tanya Kai.
__ADS_1
Viona menoleh lalu menggeleng. "Mungkin hanya perasaanmu saja!" jawabnya.
"Ayo, kita sudah terlambat 5 menit!" Kai merangkul bahu Viona. Merasa tak nyaman, Viona menyentak tangan Kai dari bahunya.
"Maaf, Kai. Tapi aku sudah kehilangan nafsu makanku. Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku ingin melihat pertunjukkan musik di sana," Kai mengikuti arah tunjuk Viona.
Laki-laki itu menatap Viona tak percaya. "Kau yakin? Tapi mereka hanya pengamen rendahan! Bagaimana kalau kita pergi ke cafe atau restoran besar, di sana kau bisa melihat pertunjukan musik yang lebih baik dari pada pengamen rendahan seperti mereka.
"KAI CUKUP!" bentak Viona yang mulai kehilangan kesabarannya. "Berhentilah menilai sesuatu berdasarkan materi. Kau tau, kata-katamu itu sangat menyinggung perasaan orang lain. Awalnya aku mengira jika kau berbeda dari Ibu dan adikmu sehingga aku rispack padamu, tapi ternyata penilainku salah. Kau tidak ada bedanya dengan mereka!" ujar Viona dan berlalu begitu saja.
Viona meninggalka Kai dan berjalan menuju jalan raya, gadis itu menyebrang jalan tanpa melihat kanan dan kiri bahkan tanpa menunggu lampu berubah warna. Gadis itu berjalan dengan mulut terus berkomat-kamit. Hingga Ia tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang melaju cepat kearahnya, melihat hal itu membuat Kai menjadi sangat panik.
"VIONA, AWAS!"
Dan teriakan lantang Kai menyita perhatian semua orang yang ada ditempat itu. Termasuk sosok pemuda yang baru saja turun dari mobil mewahnya.
Matanya membelalak, dia berlari secepat mungkin menghampiri Viona yang diam mematung, dia termangu melihat sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya. Bahkan dia menghiraukan teriakan gadis yang datang bersamanya.
Tanpa membuang waktu, Kevin segera menarik lengan Viona dan membawanya menepi. Tubuh Viona jatuh ke dalam pelukannya, tangan kanan Viona mencengkram lengan terbuka pemuda itu.
Mendengar suara yang sangat familiar itu, sontak Viona mengangkat wajahnya. Gadis itu sedikit terkejut mendapati sosok sosok dingin mirip kulkas tiga pintu itu berdiri di depannya.
Gadis itu memandang Kevin bingung, lalu dia menoleh kebelakang dan baru menyadari jika ternyata Ia berada di trotoar jalan. Sepertinya Viona masih belum sadar jika yang baru saja menyelamatkannya adalah Kevin.
"Kau tidak apa-apa?"
Di waktu yang sama Kai datang, dia membalikkan tubuh Viona hingga gadis itu menghadap padanya. Kai memegang bahu gadis itu, ada kecemasan yang terpancar dari sorot mata hitamnya.
"Aku tidak apa-apa!" jawab Viona meyakinkan.
Mata Viona terbelalak saat Kai menarik tubuhnya kedalam pelukannya dengan tiba-tiba, sedangkan Kevin berjalan menjauh. Pemuda itu berjalan mundur dan meninggalkan mereka berdua. Tangannya terkepal kuat, dia menatap pemandangan itu tidak suka.
__ADS_1
"Kau tau, betapa takutnya aku tadi!" lirih Kai sambil mengeratkan pelukannya. Namun tidak ada respon, bahkan Viona tidak membalas pelukannya sama sekali. Viona justru segera melepaskan pelukan itu.
Dia segera menyusul Kevin yang berjalan menjauh. "Kevin, tunggu." Seru Viona. Pemuda itu berhenti dan menatap Viona datar.
"Apa?"
Gadis itu menceritakan bibirnya. "Dasar menyebalkan!! Aku belum berterimakasih padamu, tapi kau malah pergi begitu saja." Kevin mendengus geli. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Viona.
"Apa maumu sekarang?"
"Temani aku sarapan, aku hampir mati kelaparan. Kita sarapan di cafe itu saja," Viona menunjuk cafe yang dia maksud. Dan Kevin mengangguk setuju.
"Baiklah,"
"Tidak Boleh//Tidak Boleh!!" Kai dan Vera menghampiri mereka dan langsung berseru kencang. Membuat langkah keduanya terhenti.
Vera menghampiri mereka lalu menarik Kevin menjauh dari Viona. Gadis itu menatap Viona tidak suka. "Dia datang bersamaku, jika ingin sarapan kau pergi saja dengan temanmu yang hitam itu," ucap Vera sambil menunjuk Kai.
"Ayo, aku sudah memesan cafe untuk kita berdua." Kai merangkul bahu Viona, namun segera di tepis olehnya.
"Kau sendiri saja. Aku mau sarapan di kedai Bibi Jang saja. Dan asal kau tau, Kai. Tidak semua kedai pinggir jalan itu makanannya tidak enak dan higienis," ucap Viona dan pergi begitu saja.
Kevin menarik sudut bibirnya dan mengukir senyum tipis. Gadis itu memang sangat sederhana, dan itu yang dia sukai dari sosok Viona. Kevin melepaskan pelukan Vera lalu mengejar Viona yang sudah semakin menjauh.
"Aku akan menemanimu," Viona menoleh, gadis itu tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah,"
Sedangkan Kai hanya bisa melihat kepergian mereka dengan kesal. Dia meninju tembok di sampingnya dengan keras. Dia yang mengajak Viona, tapi orang lain yang membawanya pergi. Kai meninggalkan tempat itu dan pergi ketempat mobilnya diparkirkan.
-
__ADS_1
-
Bersambung.