
"Aaah.."
Bunyi deritan ranjang yang menggema memenuhi seisi ruangan membuat sepasang anak muda yang sedang dimabuk cinta ini tidak lagi memedulikan sekitarnya.
Baik kondisi ranjang yang tidak karuan, pendingin ruangan yang tidak berfungsi dengan baik bahkan dering ponsel yang sejak tadi berbunyi, juga tidak mereka hiraukan.
"Ah!"
Tubuh sang wanita tersentak-sentak ketika sang pria men*suknya semakin dalam hingga menyentuh bibir r@himnya. Ia mencari pegangan lain untuk dirinya bertahan selain rambut sang pria yang kini mencumbunya.
Remasan pada seprai menguat seiring tusuk@n sang pria yang semakin dalam. Peluh membasahi tub*h pol*s mereka berdua. Dari semua hal yang terpenting adalah pelepasan dan … klim@ks.
"Ah!"
Sang wanita membuka matanya ketika benda kenyal itu menyentuh bibirnya yang membengkak dengan posesif dan penuh kelembutan, setelah percint@an panas mereka. Dengan kondisi tub*h masih menyatu, ia belum bisa sepenuhnya sadar dengan kondisinya.
Maka, ketika tangan besar namun penuh kelembutan itu menyentuh pipinya dengan lembut, ia benar-benar tersadar dengan tekstur tangan dan segala kelembutan yang dimiliki sang pria.
Kedua matanya yang terbuka membulat. Wajah yang kini berjarak dua centi dari wajahnya sedang tersenyum. Senyum menyeringai yang membuat tubuhnya membeku bahkan ketika mereka masih meny@tu satu sama lain.
"Kau adalah milikku, Luna William!!" Bisik pria itu yang pastinya adalah Ken dengan seringai yang sama
.
.
"Kkyyyaa!!! Virginku sudah hilang!!!"
Kedua mata Luna membelalak sempurna. Gadis itu langsung bangun setelah tersadar dari mimpi erot*snya. Sosok Ken berdiri di ambang pintu dengan wajah panik dan cemas secara bersamaan.
Ken langsung melesat menuju kamarnya, sangat jelas sekali teriakan Luna yang kencang langsung menarik perhatiannya. Pria itu kemudian menghampiri Luna, Ken sangat mencemaskannya. Apakah dia baru saja mengalami mimpi yang sangat buruk, sampai-sampai Luna harus berteriak sekeras itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ken yang hanya dibalas anggukan oleh gadis itu. "Apa kau bermimpi buruk? Aku dengar kau berteriak." Imbuhnya. Lagi-lagi Luna hanya mengangguk.
Kemudian Ken membawa Luna ke pelukannya dan mendekap tubuh itu erat. "Jangan takut lagi, aku akan menemanimu di sini. Sebaiknya kau tidur lagi." Pinta Ken.
__ADS_1
Namun Ken merasa ada yang aneh, jika Luna bermimpi buruk tapi kenapa dia tidak berkeringat apalagi gemetar ketakutan. Hingga Ken bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya Luna mimpi apa.
Ken melepaskan pelukannya dan menatap Luna penasaran. "Sebenarnya kau tadi mimpi apa, kenapa kau sampai berteriak?" Ia menatap Luna penuh selidik.
Alih-alih menjawab, gadis itu malah menundukkan wajahnya dengan wajah memerah seperti tomat matang. "Anu, itu.. Sebenarnya aku, mimpi melakukan itu denganmu." Suaranya terdengar lirih.
Alis Ken bertautan. "Maksudmu?"
"Aku mimpi bercocok tanam denganmu!!" Teriak Luna dengan suara sedikit meninggi. Ken menatap Luna selama beberapa detik dan seketika tawanya pecah.
"Hahaha...!! Astaga Luna, aku tidak menyangka jika kau akan bermimpi seerotis itu. Dan apakah dalam mimpi itu aku memuaskan mu? Lalu apakah kau menikmati apa yang kita lakukan?" Ken menyeringai nakal.
"Yakk!! Pertanyaan macam apa itu?! Tau begini aku tidak akan memberitahumu. Dasar menyebalkan!!" Luna mempoutkan bibirnya.
Lagi-lagi Ken hanya terkekeh geli melihat ekspresi Luna yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Tidak bisa dia pungkiri, bila mengganggu gadis ini memang sangat menyenangkan.
Gadis itu bangkit dari duduknya. "Sudahlah, lebih baik aku keluar saja. Lama-lama di sini aku hanya akan terkena tekanan darah tinggi!!" Luna menghentakkan kakinya dan pergi begitu saja. Ken benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Sedangkan Ken hanya terkekeh geli melihat tingkah kekanakan istrinya begitu menggemaskan itu.
"Cepat atau lambat kau sendiri yang akan datang padaku, Sayang."
🌺
🌺
"Kakak cantik!!"
Langkah Luna terhenti setelah mendengar seruan bocah laki-laki yang memanggilnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Daniel berlari menghampirinya. Ditangannya memegang sebuah buku gambar.
Lalu Luna mensejajarkan tingginya dengan Daniel. "Gambar apa itu, Sayang?" Luna menunjuk gambar ditangan Daniel.
Daniel mengangkat buku gambar ditangannya lalu menunjukkan pada Luna. "Aku tadi menggambar ini saat disekolah, yang ini kakak cantik, yang ini papa dan ini aku. Bagus tidak?" Daniel bertanya dengan mata berbinar-binar.
"Ini adalah gambar paling cantik dan paling bagus yang pernah kakak cantik lihat. Kau sangat hebat, Satang."
tiba-tiba Daniel menundukkan kepalanya. Mimik wajahnya berubah sendu. "Tapi teman-teman malah meledekku saat melihat gambar ini. Kata mereka aku kebanyakan berkhayal, karena aku menggambar kakak cantik disini dan mengatakan pada mereka jika ini adalah mamaku. Aku sangat sedih," kedua mata Daniel mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Uh, Sayang." Kemudian Luna membawa Daniel ke dalam pelukannya. "Bukankah sekarang kakak cantik memang mama Daniel, bagaimana kalau kita bungkam saja mulut jahil mereka? Besok kakak cantik akan ikut Daniel ke sekolah."
Wajah Daniel langsung sumringah."Sungguh?" Luna mengangguk. "Ye...Asik, Kakak cantik memang yang terbaik. Aku semakin menyayangi kakak cantik." Daniel mencium pipi Luna berkali-kali saking bahagianya.
"Kakak cantik juga sangat menyayangimu." Luna tersenyum lebar.
"Memangnya siapa yang mengizinkan menyayangi orang lain selain aku?" tegur seseorang yang sedang menuruni tangga.
Keduanya pun menoleh dan mendapati Ken yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua sambil memasang wajah angkuhnya. Wajah Daniel berubah Murung melihat kedatangan sang ayah, sedangkan Luna hanya memutar jengah matanya.
"Ken, jangan mulai lagi. Please,"
Ken menarik Luna dan menjauhkannya dari Daniel, lalu memeluk pinggangnya dengan posesif. "Ingat!! Jika kau Itu milikku, dan tidak ada orang lain yang boleh kau sayangi selain aku!! Tanpa pengecualian!!" ucap Ken menegaskan.
"Dasar papa bucin, menyebalkan, sudah sekarang aku tidak mau bicara dengan Papa lagi!!" sambil memasang wajah cemberut, kemudian Daniel meninggalkan mereka berdua.
Luna mendesah berat. Dia benar-benar tidak mengerti dengan pikiran pria satu ini, bagaimana bisa Ken berebut dengan putranya sendiri, dan lebih parahnya lagi dia tidak mau mengalah.
"Dasar kekanakan!!" sinis Luna dan pergi begitu saja.
"Uhh.. Perutku!!"
Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya ketika mendengar suara rintihan Ken, gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Ken yang tengah memegangi perutnya. Kedua mata Luna lantas membelalak melihat cairan merah segar, merembes mengotori kemeja putihnya.
"Ken, lukanya!!" pekik Luna panik. "Ayo ku antar kau kembali ke kamar, aku akan melihat lukanya. Sepertinya jahitannya terbuka." Luna memapah Ken dan menuntunnya untuk kembali ke kamar.
Dan sementara itu..
Seringai tampak tercetak jelas di sudut bibir Ken. Luka itu Ken sendiri yang sengaja membukanya, dengan cara menekan di bagian lukanya. Hal itu dia lakukan semata-mata agar mendapatkan perhatian dari Luna, dan berhasil. Luna tampak cemas dan khawatir.
-
-
Bersambung.
__ADS_1