
Sebuah pesawat komersial terlihat sedang mengudara di langit biru yang sangat cerah. Pesawat itu seolah menjadi aksesoris langit yang megah disamping awan yang seperti kapas-kapas tipis yang berterbangan di angkasa.
Jika di lihat ke dalam pesawat, terlihat sepasang suami-istri yang sedang duduk di kursi pesawat kelas eksklusif.
Si wanita berambut coklat terang terlihat duduk di samping pria berambut coklat gelap yang duduk di samping jendela pesawat. Wanita ini melirik pria yang telah resmi menjadi suaminya sedang menutup wajahnya dengan sebuah majalah bisnis yang sengaja ia bawa dari mansion.
Sebenarnya Luna merasa jengah, pasalnya semua gadis ataupun wanita yang duduk di dekat kursi pesawatnya dengan Sang Suami, Ken Zhao, terlihat sangat antusias berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya.
Tidak mungkin mereka—gadis dan wanita-wanita itu, tertarik untuk membicarakan dan berbisik-bisik sambil memasang mata genit untuk membicarakannya. Pasti yang ia bicarakan adalah suaminya. Ken memang cukup popular di kalangan wanita.
Setengah hatinya tidak rela melihat suaminya menjadi topik pembicaraan wanita lain, tapi salah Ken sendiri yang memiliki wajah terlalu tampan.
Akhirnya Luna hanya bisa menghembuskan napasnya dan tertunduk pasrah. Mau apa lagi coba? Kalau marah sama gadis-gadis itu dan menyuruh mereka tidak menatap suaminya seakan ingin memakannya juga percuma, yang ada dia malah menjadi pusat perhatian. Bisa-bisa Ken membuat perhitungan dengannya. Dan akhirnya Luna pun hanya bisa memilih diam dan membiarkannya saja.
-
-
Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Mereka berdua tiba di London. Luna dan Ken berjalan beriringan meninggalkan bandara, jemputan mereka sudah menunggu di luar.
Ken menarik sebuah koper besar yang berisi barang-barangnya dan Luna. Mereka sengaja tidak membawa koper masing-masing. Ken melarangnya, dia mengatakan lebih baik membeli pakaian ketika tiba di London dari pada harus membawanya jauh-jauh dari negara asal mereka.
Sebelah tangan Ken merangkul bahu Luna. Keberadaan mereka cukup menarik perhatian. Pasalnya diantara orang-orang yang berlalu lalang di bandara, hanya mereka berdua yang tidak terlihat seperti bule.
"Permisi, Tuan, Nona. Bisa minta fotonya sebentar?" Seorang warga pribumi tiba-tiba menghampiri Luna dan Ken dan meminta foto bersama.
Ken dan Luna saling tukar pandang. Lalu Ken menjawab 'Maaf, Tidak Bisa!!' dengan tegas. Karena mengajak foto seorang turis yang datang dari luar negeri adalah sebuah trik para pencopet untuk melakukan aksinya. Tujuannya agar aksinya tidak di curigai.
"Tapi, Ken. Kenapa kau menolaknya? Dia hanya mengajak kita berfoto, apa buruknya?" Tanya Luna sambil menatap Ken penuh keheranan.
__ADS_1
Ken menarik ujung hidung Luna dengan gemas. "Itu justru bisa merugikan kita, Sayang. Karena mereka akan mendapatkan keuntungan dari kita jika menuruti keinginan mereka. Mengajak foto turis pendatang adalah salah satu trik yang dipakai para pencopet ketika melakukan aksinya." Ujar Ken menjelaskan.
Luna pun mengangguk paham. Dia tidak berpikir sampai sana. Mereka telah tiba di luar bandara. Ken melihat tempatnya sudah menunggunya dan Luna.
Seorang pria terlihat keluar dari dalam mobil lalu menghampiri keduanya. Pria itu membungkuk lalu membukakan pintu untuk Ken dan Luna, barang-barang mereka di simpan dalam bagasi mobil. Dia adalah orang yang ditugaskan oleh Tuan Valentino untuk menjemput Ken dan Luna.
Ken menggenggam tangan Luna yang berkeringat. "Ada apa? Apa kau merasa gugup?" Tanya Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
"Aku sangat gugup, Ken. Bagaimana jika dia tidak menerimaku setelah bertemu. Jika aku boleh tau, memangnya ayahku itu orang seperti apa?" Tanya Luna penasaran.
"Dia orang yang baik, hangat dan ramah. Dan bagaimana bisa dia tidak menerimamu, sedangkan dia sendiri yang berharap bisa bertemu denganmu." Jawab Ken.
"Aku benar-benar gugup. Rasakan di sini, jantungku berdetak cepat sekali." Ucap Luna sambil mengarahkan tangan Ken pada dadanya. Dan Ken merasakan detak jantung Luna yang sangat cepat.
"Tenanglah, dan percayalah padaku semua akan baik-baik saja."
-
-
"Silahkan, Tuan Muda, Nona. Tuan sudah menunggu Anda berdua di dalam." Ucap pria itu.
"Ken?!" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Ken. Dia benar-benar sangat gugup sekarang.
"Ayo, dia sudah menunggumu." Ucap Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Setibanya di dalam. Luna melihat seorang pria paruh payah yang dia yakini sebagai Tuan Valentino berlari menghampirinya. Tubuh Luna sedikit terhuyung karena pelukan pria itu yang tiba-tiba. Dengan ragu, Luna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Tuan Valentino.
"Putriku, ayah bahagia karena akhirnya bisa bertemu kembali denganmu. Selama sembilan belas tahun lebih ayah menunggu pertemuan ini, Nak." Ucap Tuan Valentino sambil mengeratkan pelukannya. Tidak hanya memeluk, tapi dia juga mencium kedua pipi Luna dan keningnya beberapa kali, lalu memeluknya lagi.
__ADS_1
Di waktu bersamaan. Aiden datang bersama pasangan tua yang merupakan nenek dan kakek Luna. Mereka menghampiri Luna lalu memeluk perempuan itu. "Nak, aku Nenekmu dan dia Kakekmu. Kami sangat bahagia karena akhirnya kau di temukan, Cucuku." Ucap Nenek Valentino sambil terisak pelan.
"Sini, biar Kakek lihat wajahmu, Nak." Ucap Kakek Valentino. Pria tua itu tersenyum. "Luna, kau sangat cantik sekali, Nak. Persis seperti Nenekmu ketika masih muda dulu." Kakek Valentino tersenyum.
"Terimakasih, Kakek. Tapi aku tidak secantik Nenek." Luna terharu sampai tidak kuasa menahan air matanya juga.
"Hahaha... kau memang benar, Nak. Kecantikan Nenekmu memang tidak ada lawannya." Jawab Kakek Valentino lalu memeluk istrinya.
Tuan Valentino menghampiri Ken lalu memeluknya. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terimakasih pada pria ini karena telah mempertemukan kembali dirinya dengan sang putri setelah terpisah sangat lama.
"Bagaimana aku harus membalas kebaikanmu, Tuan Zhao?" Ucap Tuan Valentino sambil menyeka air matanya.
Tuan Valentino masih belum tau jika Ken dan Luna adalah sepasang suami-istri. Karena Aiden juga tidak mengatakan apa-apa pada sang ayah. Kemudian Ken tersenyum. "Anda hanya perlu mengijinkan saya menjaga Luna sampai kami sama-sama tuan, Tuan Valentino." Jawab Ken tersenyum.
"Jadi kau tertarik pada putriku? Tentu saja, Tuan Zhao. Kenapa tidak, saya akan merestui dan sangat setuju jika kalian berdua bersatu." Tuan Valentino begitu bersemangat.
Aiden tertawa. Dia geli sendiri melihat keatusiasan sang ayah. "Hahaha... Rupanya Papa belum tau ya, jika sebenarnya Ken dan Luna sudah menikah sejak tiga bulan lalu. Yang perlu Ayah lakukan sekarang hanyalah membuat pesta besar untuk merayakan kembalinya Luna ke dalam keluarga kita." Tutur Aiden.
"Benarkah?! Jadi kalian berdua sudah menikah? Bagus bagus, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot menyatukan kalian lagi. Baiklah Aiden, masalah pesta Papa serahkan padamu. Undang semua kolega dan rekan bisnis kita. Sebarkan 10.000 undangan. Pesta kita adakan di Hotel Daisy saja."
Mata Aiden sontak membelalak. "APA?! 10.000 UNDANGAN?!" Aiden memekik kencang dan jatuh pingsan. Bukannya panik, Tuan Valentino malah tertawa. Dia sudah menduga jika Aiden pasti akan terkejut mendengar jumlah undangan yang perlu di sebar.
"Kalian pasti lelah dan lapar. Ayo kita makan siang, pelayan sudah menyiapkan banyak makanan enak untuk kalian berdua. Dan masalah Aiden, kalian tidak usah panik apalagi cemas. Nanti juga sadar sendiri." Luna dan Ken di giring menuju meja makan.
Diam-diam Luna menarik sudut bibirnya. Kecemasan dan kekhawatiran yang sebelumnya menggerogoti perasaannya kini hilang sudah. Dia merasa lega.
-
-
__ADS_1
Bersambung.