
Suara burung gereja yang hinggap di dahan pohon berkicau riang menyambut datangnya pagi yang cerah ini. Mencoba membangunkan setiap Insan yang masih terlelap dalam mimpinya, agar tidak melewatkan momen terindah di awal harinya.
Mungkin persepsi itu sungguh sangat berbeda dengan gadis yang satu ini.
Di saat sebagian orang telah memulai aktifitasnya, gadis ini justru masih asik berkutat dengan selimut tebal di atas matras super nyaman miliknya.
Mengabaikan ketukan pada pintu kamarnya, gadis ini tidak terusik sedikit pun. Wajahnya begitu damai dengan kelopak mata tertutup sempurna dan menyembunyikan sepasang mutiara cerah berwarna Amber di sana.
Tokk...! Tokk..! Tokk..!
"Nona, Tuan Besar meminta Anda untuk segera bangun!" seru seorang wanita berseragam pelayan sambil mengetuk pintu kamar itu berulang-ulang.
"...." legang, tidak ada sahutan.
Tokk..! Tokk..! Tokk..!
"Nona, Viona!" sekali lagi pintu itu di ketuk dengan keras, namun lagi-lagi tidak ada sahutan.
Wanita itu bingung harus melakukan apa, karena tidak mungkin Ia masuk ke dalam kamar itu tanpa ijin dari sang empunya karena itu sangat tidak sopan. "Nona, Anda harus bangun sekarang. Tuan Besar dan yang lainn sudah menunggu Anda di meja makan!"
"Apa Viona belum bangun juga?"
Sontak wanita itu menoleh dan mendapati tuan besarnya berdiri tegap di belakangnya. Wanita itu segera menepi sambil menundukkan wajahnya "Maaf, Tuan Besar, nona Viona sangat sulit di bangunkan!" ujar wanita itu tanpa menatap wajah tuannya.
Laki-laki tua itu mengangguk "Aku mengerti, kau kembalilah bekerja. Biar aku sendiri yang membangunkan cucu pemalasku itu," wanita itu mengangguk sopan "Baik, Tuan Besar," setelah membungkuk hormat, wanita itu pun melenggang pergi.
Cklekkk...!!
Decitan pintu terbuka menggema di dalam kamar bernuansa putih dengan berbagai pernak pernik khas wanita, Jung Hilman mendengus geli melihat tubuh Viona yang terbungkus selimut tebal miliknya. Yang membuat gadis itu terlihat seperti ulat raksasa.
Kakek Hilman segera menarik selimut yang membungkus tubuh Viona. "Pemalas, ayo cepat bangun!" Viona mengguncang pelan tubuh gadis itu.
"...." hampa, tidak ada sahutan. Viona mengindahkan panggilan sang kakek dan tetap asik berkutat dengan mimpinya.
Kakek Hilman tidak tau hal indah seperti apa yang sedang di mimpikan oleh gadis itu sehingga Viona tersenyum di dalam tidurnya. Tak kehabisan akal, Kakek Hilman mengambil gelas bening berisi air putih yang tergeletak di atas nakas kecil samping tempat tidur Viona lalu mencipratkan beberapa tetes air ke wajah cucu kesayangannya itu sambil berseru lantang.
__ADS_1
"Banjirr..! Banjirrr..! Banjirr..!" seketika mata itu terbuka sepenuhnya, bangkit dan melompat dari tempat tidurnya.
"Banjir?! Kakek, di mana banjirnya?"
"Bwahahahah," bukannya menjawab, Kakek Hilman malah tertawa lepas.
Sadar baru saja di kerjai oleh sang kakek, Viona pun mencerutkan bibirnya. "Kakek, jadi kau hanya mengerjaiku saja?" pekik Viona sambil menatap laki-laki beruban itu tak percaya. Dan Jung Hilman hanya mengangkat bahunya acuh "Kakeekkk," geram Viona kesal
"Sudah jangan banyak protes, cepat mandi kemudian kita sarapan bersama. Bibi mu dan anak-anaknya sudah menunggu kita," ujar kakek Hilman.
Viona mengangguk lalu melesat masuk kedalam kamar mandi. Kakek Hilman mendengus geli, menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucu bungsunya.Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan kamar Viona.
-
-
"Kevin, apa yang terjadi pada pelipismu?!" Kaget Luna saat melihat sebuah perban membalut pelipis putra bungsunya.
Kevin menggeleng. "Tidak apa-apa, Ma. Hanya tidak sengaja terluka oleh kucing liar." Jawab Kevin lalu duduk di meja makan di samping sang ibu berdiri.
Sepertinya Luna tidak sadar jika kucing liar yang dimaksud oleh putranya bukanlah kucing liar yang sebenarnya. Melainkan seorang gadis yang sikapnya terlewat bar-bar.
"Kau salah paham, Lun. Kucing liar yang melukai putramu itu adalah seorang gadis yang sangat cantik, kemarin aku bertemu dengannya di kantor. Dia asisten pribadi putramu." Sahut Devan yang kemudian duduk diseberang Kevin.
Luna melongo. Lalu pandangannya bergulir pada Kevin. "Benarkah itu, Key? Jangan-jangan kau berusaha melecehkannya lalu dia tidak terima dan melukaimu?"
"Ck, bukan seperti itu ceritanya. Dia saja yang terlalu bar-bar. Melemparku dengan vas bunga sampai terluka."
"Kakak tau, pasti kucing liar itu adalah Viona kan? Aku dengar dia jadi asisten pribadimu selama satu Minggu karena kalah taruhan?" Tebak Marissa 100% benar.
Mendengar nama Viona membuat Luna langsung terkekeh. Dia teringat pada video yang Marissa tunjukkan malam itu, saat dimana Kevin dicium seorang gadis ditengah keramaian.
"Kalau kalian memang sedekat itu, segera bawa kemari dan kenalkan pada Mama-Papa." Pinta Luna sedikit menggoda.
"Ck, kenapa kalian malah bekerja sama menyudutkanku. Aku pergi dulu," Kevin bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja. Dia malas menjadi bulan-bulanan keluarganya karena seorang gadis.
__ADS_1
.
.
Kevin menghentikan mobilnya saat melihat keberadaan seorang gadis yang wajahnya tak asing berdiri di sebuah halte yang tak terlalu jauh letaknya dengan tempat tinggalnya. Ia pun segera turun dan menghampiri gadis itu.
"Dimana mobilmu?!"
"Omo!!" Dan gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Viona malah terlonjak kaget karena kemunculan Kevin yang tiba-tiba. "Yak! Apa kau ini adalah keturunan jelangkung, muncul dan hilang tiba-tiba. Hampir saja aku terkena serangan jantung karena ulahmu!!"
"Ck, kenapa kau berisik sekali. Ikut aku," Kevin menarik lengan Viona dan memaksa gadis itu untuk masuk ke mobilnya.
"Yakk!! Jangan tarik-tarik. Bagaimana kalau lenganku sampai putus karena tarikanmu yang terlalu kencang ini, huh!!"
Kevin hanya memutar jengah matanya. Kenapa gadis ini begitu banyak bicara?! Ini adalah akhir pekan, jadi tidak heran saat melihat Kevin dalam balutan pakaian casual. Sebuah jeans panjang, t-shirt lengan pendek yang dibungkus Vest V-Neck hitam.
Viona menatap pemuda disampingnya yang hanya berekspresi datar. Raut wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, pandangannya lurus pada jalanan di depannya.
Lalu pandangan Viona bergulir pada perban yang melekat di-pelipisnya, gadis itu menghela napas panjang. Timbul rasa bersalah ketika melihat perban itu, Kevin terluka karena dirinya.
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?" Tanya Viona memecah keheningan.
"Hanya jalan-jalan berkeliling kota."
"Hah!! Jadi maksudmu kita hanya berkeliling kota tanpa tujuan begitu? Dasar tidak jelas!!"
Keheningan kembali mewarnai kebersamaan mereka. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Kevin maupun Viona. Kevin fokus pada jalanan, sementara Viona menatap keluar jendela. Karena mereka sama-sama tidak tau harus membahas apa.
Jika yang bersamanya bukan patung es seperti Kevin, mungkin Viona masih memiliki hal menarik untuk dibahas. Tapi yang bersamanya adalah pemuda dingin yang mirip patung es berjalan.
-
-
Bersambung.
__ADS_1