
"Luna, sebenarnya kau minta traktiran apa ingin merampokku?!"
Aiden menatap nanar isi dompetnya yang terkuras habis. Sedikitnya 10 juta dolar yang harus Aiden habiskan untuk membelanjakan apapun barang yang Luna inginkan. Alih-alih merasa bersalah, Luna hanya nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih.
Wanita itu kemudian merangkul bahu Aiden sambil mencubit gemas pipinya. "Ayolah, Kakakku yang paling tampan dan paling baik, jangan pelit kenapa. Jika kau pelit, bisa-bisa kuburan mu sempit nanti." Ujar Luna sambil terkekeh geli. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Luna.
Alih-alih marah, wanita itu malah tertawa lepas sambil berjalan meninggalkan Aiden yang terus berkomat-kamit tidak jelas. Kali ini Luna hanya pergi berdua saja bersama Aiden, Ken tidak ikut karena ada urusan yang harus di selesaikan.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Aiden melihat Luna yang tiba-tiba berhenti.
"Aku lapar, bisakah kita makan siang dulu. Kali ini biar aku yang traktir, bagaimana?" Rengek Luna memohon.
Tampak Aiden berpikir dan mempertimbangkan ajakan Luna. "Oke deh, kebetulan aku juga sangat lapar." Jawab Aiden menyetujui ajakan Luna.
Tanpa Aiden sadari, sebuah seringai misterius tercetak di bibir wanita itu. Entah apa yang Luna rencanakan kali ini. Mungkinkah dia akan merampok Aiden sekali lagi? Entahlah, kita serahkan saja pada waktu agar menjawab semuanya.
-
-
Ken meninggalkan sebuah gedung bertingkat yang sudah setengah terbakar. Di dalam sana banyak orang-orang bergelimpangan dalam keadaan bersimbah darah, sepertinya baru terjadi pertempuran sengit di dalam sana, karena Ken keluar juga tidak dalam keadaan baik-baik saja, dia juga terluka meskipun tak seberapa.
Beberapa pria berjas menghampiri Ken dan langsung menunduk ketakutan ketika melihat tatapan mematikan bosnya itu. "Kalian datang terlambat," ucap Ken dingin sambil melewati mereka begitu saja. Dan mereka hanya menunduk dan tidak berani bersuara.
Tanpa berkata apapun lagi. Ken meninggalkan mereka semua. Jari-jarinya kemudian menarik turun benda hitam yang menutup mata kirinya, lalu menyeka darah yang mengalir dari pelipisnya.
Tidak ada yang salah pada mata kiri Ken, mata itu baik-baik saja dan berfungsi dengan normal. Dan alasan kuat kenapa Ken menutupnya adalah bekas luka yang ada disekitar matanya. Dan dia tidak ingin jika orang lain sampai melihatnya.
Ken menepikan mobilnya di sebuah taman yang letaknya tak terlalu jauh dari kediaman Valentino. Dia mengeluarkan kotak P3K dari dasbor mobilnya. Setelah membersihkan darah yang berasal dari luka tersebut.
Kemudian Ken menutupnya dengan kasa dan plaster lalu menimpanya dengan eyepacht agar tidak ada yang menyadari luka tersebut, Luna terutama. Dia bisa diberondong berbagai pertanyaan oleh istrinya itu jika Luna sampai melihat luka tersebut.
Ponsel milik Ken tiba-tiba berdering, 'My Wife' terlihat menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Ken tersenyum tipis. Dia menggeser tanda hijau di ponsel canggihnya lalu menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali angkat telfonnya?! Ken, cepat jemput aku. Mobil Kak Aiden tiba-tiba mogok di tengah jalan, dan aku tidak menemukan satu taxi pun yang lewat."
"Kau ada dimana?"
"Aku sendiri tidak tau, yang jelas dekat dengan taman yang ada patung dan air mancurnya."
"Kebetulan aku tidak terlalu jauh dari sana, tunggu sebentar. Aku akan segera ke sana,"
"Baiklah, aku tunggu. Jangan ngebut, Love You."
"Love you to, My Wife," kemudian Ken memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Ken melepas kemeja hitamnya yang penuh dengan noda darah dan memasukkan ke dalam tong sampah yang ada di samping kiri mobilnya.
Kemudian dia mengambil sebuah Vest yang tergantung di bagian belakang mobilnya lalu memakainya. Ken memakai Vest itu tanpa pakaian d*lam apapun. Begini lebih baik daripada harus memakai kemeja yang penuh darah ataupun bert*lanjang dada.
-
-
Luna tidak berhenti mengoceh dan mengomel karena mobil Aiden, selama perjalanan pulang, mobil itu sudah mogok sebanyak tiga kali, dan dua kali dia harus dorong supaya mobil tersebut mau jalan lagi.
"Ck, berhentilah mengomel dan mengeluarkan sumpah serapah, Nona Muda. Lebih baik bantu aku dorong mobil ini supaya bisa jalan lagi."
"Ogah!! Dorong saja sendiri, ini mobilmu tapi kenapa malah aku yang kerepotan. Dan lihat karena ulahmu, make up ku jadi luntur dan pakaianku kusut. Belum lagi bau matahari dan keringat, aarrrkkhhh... Hari ini benar-benar hari tersialku. Dasar mobil jelek menyebalkan!!"
BROK...
Luna memukul mobil itu dengan keras, saking kerasnya pukulan itu sampai-sampai membuat Aiden terlonjak kaget. "Yakk!! Jangan sembarangan memukul mobilku. Ini adalah mobil antik dan langkah, seharusnya kau menyayanginya, bukan menganiayanya." Oceh Aiden panjang lebar.
"Masa bodoh!!"
Luna meninggalkan Aiden begitu saja. Dia pergi ke sebuah toilet umum yang terletak 10 meter dari tempatnya berada saat ini.
__ADS_1
Tak lupa dia mengirim pesan singkat pada Ken agar dia tidak kebingungan mencarinya ketika tiba. Luna juga membawa sebuah dress dan peralatan mandi, dia tidak bisa menemui Ken dengan keadaan berantakan seperti sekarang ini.
Selang beberapa saat, sebuah mobil sport berwarna hitam metalic berhenti di depan mobil antik milik Aiden. Seorang pria keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Aiden yang tampak frustasi karena mobilnya tidak mau jalan juga.
"Apa Luna belum kembali?"
"Belum, dia baru saja pergi satu menit yang lalu. Ken, bantu kakak ipar mu yang super tampan dan baik ini. Huhuhu, aku sangat tidak berdaya, mobilku tidak mau nyala apalagi jalan. Huhuhu, bantu dorong ya," rengek Aiden memohon.
"Boleh, asal kau yang mendorongnya dan aku yang membawa mobilnya,"
"Kenapa malah jadi kebalik? Aku kan yang punya mobilnya,"
"Bukankah itu juga yang kau lakukan pada Luna tadi, dia yang mendorong mobilmu dan kau enak-enakan di dalam. Jadi ayo kita lakukan,"
Aiden mempoutkan bibirnya. Jadi Ken mau balas dendam untuk Luna? Aiden mendesah berat, dengan terpaksa dia mengangguk dari pada mobilnya tidak mau jalan. "Dengan berat hati, aku akan mengatakan, Baiklah." Ucap Aiden pada akhirnya.
Mulut Aiden terus berkomat-kamit tidak jelas. Jika sudah berurusan dengan Ken, dia memang kalah telak dan Aiden sering kali dibuat tak berkutik olehnya. Dan yang bisa dia lakukan sekarang hanya pasrah.
-
-
Luna yang baru saja selesai mandi memicingkan matanya melihat mobil Ken tapi pemiliknya tidak ada, begitu pula dengan mobil Aiden. Kemudian Luna berjalan ke tepi jalan dan mendapati Aiden sedang mendorong mobilnya, yang artinya orang di dalam mobil Aiden adalah Ken.
Wanita itu terkekeh geli. Dia puas melihat Aiden yang tampak kesulitan mendorong mobilnya. Sepertinya Ken balas dendam untuknya. Luna mengangkat bahunya acuh, kemudian dia masuk ke dalam mobil Ken dan menunggu suaminya di sana. Kebetulan Luna sedikit mengantuk.
Sepuluh menit kemudian Ken datang dan dia mendengus melihat Luna yang tampak pulas di jok samping kemudi. Tidak tega membangunkan wanita itu, Ken pun memutuskan untuk menghidupkan mesin mobilnya dan tancap gas. Luna terlihat lelah, itulah yang membuat Ken tidak tega untuk membangunkannya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1