PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Aku Bukan Hantu!!


__ADS_3

"OMO!! ....HANTU!!!"


Aiden dan Devan menjerit histeris saat tidak sengaja berpapasan dengan Jessline di dapur sampai-sampai Aiden yang memang dasarnya seorang penakut langsung melompat ke dalam gendongan Devan dan menenggelamkan wajahnya pada punggung pemuda itu.


Mereka datang karena sangat penasaran pada sosok perempuan yang berada di kediaman Zhao.


Siapa wanita itu dan seperti apa dia sampai-sampai meluluhkan hati Ken yang sedingin es dan sekeras batu, karena tidak mudah masuk ke dalam kediaman Zhao dan tidak semua orang memiliki keberuntungan untuk bisa memasukinya.


Sedangkan Jessline hanya bisa menatap mereka dengan miris, pasti mereka berdua sudah salah paham padanya. Lagi-lagi ada orang yang menganggapnya sebagai arwah penasaran.


Segera Jessline menggoreskan pena hitamnya pada sebuah buku kecil yang kemudian dia tunjukkan pada kedua pemuda itu.


"Kalian salah orang. Aku bukan, Luna, dan aku bukan hantu."


Aiden menyembulkan kepalanya dan membaca tulisan itu. Segera dia turun dari gendongan Devan. "Benarkah?" Luna mengangguk meyakinkan.


"Hahaha, aku sudah menduganya. Ini masih pagi jadi mana mungkin ada hantu yang berkeliaran. Lagi pula adikku sudah lama tiada, dan tidak mungkin dia bisa hidup lagi. Dev, kau saja yang terlalu parno." Cibir Aiden pada Devan.


Pletakk...!!


Sebuah pukulan mendarat mulus pada kepala Aiden. "Sembarangan, jelas-jelas kau yang ketakutan dan siapa coba yang pertama berteriak tadi sampai-sampai melompat dan memelukku seperti bayi?" sinis Devan pada pria itu.


Lalu pandangan Aiden bergulir pada Jessline dan menatapnya dengan berkaca-kaca. "Kau benar-benar sangat mirip dengan Luna, pantas saja jika kami mengira jika kau adalah hantu. Aku adalah Aiden Valentino, kakak dari Luna. Bolehkah aku memelukmu sebentar saja." Ucap Aiden sambil mengurai senyum sendu.


Jessline mengangguk. Aiden menyeka air matanya dan langsung memeluk Jessline dan menangis sejadi-jadinya. Betapa Aiden sangat merindukan sosok Luna, dan hari ini dia bisa melepaskan rasa rindunya itu meskipun dia bukan orang yang sama.


"Hahaha, dasar BU-DI l"knat. Kenapa kau jadi sangat cengeng, huh?" cibir Devan.

__ADS_1


Kemudian Aiden melepaskan pelukannya pada Jessline. "Jangan sembarangan menyebutku, Bocah L*knat, Dev. Jelas-jelas aku ini pria yang baik dan jujur." Ujar Aiden membela diri.


"Cih... Bocah, segera menjauh darinya. Kau tidak boleh mengganggunya. Sepertinya dia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jika kau memeluknya terus dia bisa kehabisan napas?" oceh Devan panjang lebar. "Oya, apakah kau bisu?" tanya Devan penasaran.


"Jaga mulutmu, Dev. Kau itu bicara sembarangan. Ucapan mu itu bisa melukai perasaan, Jessline, secara tidak langsung."


"Itu karena aku tidak tau, makanya aku bertanya!" jawab Devan tak mau kalah.


"Sama saja, Dev. Dan kau jangan cuma mengoceh saja, segera minta maaf pada dia, dan katakan kalau kau tidak akan cerewet lagi."


"Astaga Bocah ini, kenapa semakin hari kau ini semakin bawel saja sih? Sudah durhaka dan tidak mau memanggilku kakak senior yang tampan malah ceramah terus. Aku tidak tau saat hamil dulu Ibumu ngidam apa, sampai-sampai melahirkan anak sebawel dirimu."


"Itu tidak ada hubungannya dengan kebawelanku ini, Dev. Ini sudah bawaan lahir. Dan seharusnya kau tau jika kebawelanku inilah yang menjadi salah satu daya tarikku selain wajah tampan dan imutku ini."


Jessline menutup matanya rapat-rapat dan mendengus berat. Dirinya benar-benar terganggu dengan perdebatan mereka berdua yang tidak pernah ada habisnya. Dan jika saja pita suaranya tidak sedang bermasalah, pasti Jessline sudah mengomeli habis-habisan mereka berdua.


Ken melewatinya begitu saja tanpa melirik apalagi menyapanya. Jessline mendesah berat. Apakah Ken semarah itu padanya?


"Kenapa kalian ada di rumah?" tanya Ken pada kedua pria itu.


"Tiba-tiba saja perutku pusing dan kepalaku mules, Ken. Makanya aku dan Aiden langsung mampir kemari? Oya kau sudah mau berangkat ya." tanya Devan basa basi.


Ken memicingkan mata kanannya dan menatap dingin pria dihadapannya ini. Buru-buru Aiden bersembunyi di belakang Devan. Dia selalu ngeri sendiri melihat Ken yang sekarang.


"Adik ipar, jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku merinding." gerutu Aiden.


Ken mendengus berat. "Kalian menggelikan!!" sinis Kevin dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Sekilas Ken melirik wanita yang berdiri dibelakangnya melalui ekor mata kanannya. Hati Ken seperti mencelos ketika melihat tatapan sendu Jessline saat menatapnya. Namun Ken tidak ingin terlalu memikirkannya karena bagaimana pun juga Jessline bukanlah siapa-siapa, dan wanita itu hanyalah orang asing dalam hidupnya.


"Tuan Zhao, tunggu!" seru Jessline tiba-tiba. Suaranya tercekat di tenggorokannya. Dia memaksakan bicara untuk menghentikan langkah Ken.


Jessline menghampiri Ken yang berdiri memunggunginya. Wanita itu menunjukkan sebuah tulisan pada pria dihadapannya.


"Aku ingin pergi dari sini karena aku tidak ingin menjadi beban untukmu lagi. Urusan hutang antara dirimu dan pria itu sungguh aku tidak tau apa-apa. Sebaiknya kalian selesaikan berdua saja, bahkan aku tidak peduli meskipun kau membunuhnya."


"Lupakan saja keinginan bodohmu itu." Sinis Ken dan berlalu begitu saja.


Jessline mengejar Ken dan menghentikan langkahnya dengan merentangkan kedua tangannya. "A-awalnya kita adalah orang asing. Mungkin akan lebih baik bila kita kembali pada kehidupan kita sebelum kita saling bertemu dan mengenal. Seperti yang kau katakan sebelumnya. Aku hanyalah orang asing dan sampai kapan pun kenyataan itu tidak akan pernah bisa berubah." ujarnya panjang lebar.


Jessline menutup matanya. Dia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa pada tenggorokannya. Dia terlalu memaksakan diri untuk berbicara padahal dokter sudah melarangnya.


"Jessline Jung, kau kenapa?" panik Ken menyadari ada yang tidak beres pada wanita itu.


Karena tidak memungkinkan untuk berbicara lagi. Jessline segera menulis sesuatu di buku kecilnya dan menunjukkan pada Ken. Pria itu mendengus berat. "Dibandingkan orang lain, bukankah kau sendiri yang lebih tau kondisi tubuhmu? Dasar ceroboh!"


Kemudian Ken mengangkat Jessline bridal style dan membawa perempuan itu ke kamar mendiang orang tuanya yang sudah Jessline tempati selama beberapa hari selama dia tinggal di mansion ini.


"Sebaiknya sekarang kau istirahat dulu. Aku akan meminta salah satu anak buahku untuk mengantarkan mu ke rumah sakit."


Jessline menggeleng. Dia menggoreskan tinta hitamnya di atas buku kecil ditangannya."Tidak perlu, tenggorokanku akan membaik dengan sendirinya. Sebaiknya kau tidak perlu mencemaskan ku. Lagipula kita hanya orang asing, jadi kau tidak perlu bersikap baik padaku!!"


Ken mendesah berat. "Dan aku tidak suka dengan penolakan!!" Tegar pria itu dan pergi begitu saja.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2