
"Siapa kamu? Kenapa bisa tiba-tiba masuk kemari?" tanya Ustadz Fikri dengan nada yang khawatir, ketika melihat seorang pemuda bersorban memukul wajahnya tadi.
"Dasar santri baru! Bukannya menyapa dulu, malah masuk saja tanpa izin!" Ustadz Zainal memarahi Farhan yang masih berdiri di hadapan mereka.
"Maaf, Ustadz. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Lebih baik kita pergi saja," kata Ustadz Fikri kepada kedua Ustadz yang menegur Farhan.
"Tidak, tidak, tidak! Santri baru ini tidak sopan kepada kita sebagai Ustadz. Sebagai hukuman... hmmm... karena kamu santri baru, hukumanmu adalah membersihkan semua halaman Pondok. Jangan sampai ada kotoran yang tertinggal sedikit pun, paham?" ucap Ustadz Zainal.
Farhan membunyikan kedua pergelangan tangannya dan sepertinya sudah siap untuk memukul. Ustadz Zainal pun sedikit bingung melihat sosok pemuda bersorban yang berdiri di depannya, bahkan tidak takut sama sekali.
"Ustadz Zainal, sepertinya ini tidak baik. Lebih baik..." Ustadz Fikri dihentikan oleh suara hantaman yang mengenai dinding yang banyak dilapisi seng berkarat.
Ustadz Fikri masih memiliki niat baik untuk menyelamatkan kedua Ustadz tersebut dari Farhan, tapi mereka tidak mendengar dan terdengar suara yang sedang menghantam dinding yang banyak dilapisi seng berkarat.
__ADS_1
Saat Ustadz Fikri dan Ustadz Halim melihat apa yang menghantam dinding tersebut, mereka sangat terkejut karena melihat Ustadz Zainal yang sudah terkapar dengan mulut yang mengeluarkan darah.
Kedua Ustadz yang melihat hal itu pun hanya bisa menelan ludah sambil gemetar ketakutan.
"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Ustadz Halim.
"Hah, hah, hah... Aku sudah memperingatkan kalian. Kenapa kalian tidak mau mendengar?" ucap Ustadz Fikri perlahan saat melihat ke arah Farhan yang berjalan mendekat.
...****************...
Farhan menggelengkan kepala ketika dia membuka matanya. "Dasar bodoh, bisa-bisanya menghadapi seorang santri sampai harus meminta bantuan? Lemah sekali," gumamnya.
"Hahahaha... Astaghfirullah Hal'adzim Ya Allah... Sudah tahu ada musuh kuat langsung memanggil bantuan ya? Dasar lemah," ucap Farhan yang sekarang telah berdiri tepat di depan Ustadz Zainal yang sedang tergeletak lemas di lantai.
__ADS_1
Dengan ilmu yang dimilikinya, dia mendengar jelas bahwa Ustadz Zainal meminta bantuan kepada salah seorang temannya yang juga Ustadz dan sama-sama bermasalah. Namun, dia tidak takut dengan bantuan yang akan datang. Farhan hanya tersenyum tipis dan perlahan-lahan melirik ke arah belakangnya, dan menyadari ada sesuatu yang ada di pintu masuk.
Dari luar terlihat cahaya hitam yang hendak masuk ke dalam bangunan untuk menolong Ustadz Zainal. Namun, tiba-tiba ada sesosok makhluk yang berwarna hitam pekat dengan aura gelap yang sangat kuat berdiri dan menutup pintu dengan tubuhnya yang besar sehingga cahaya hitam itu tidak bisa masuk. Makhluk hitam tersebut juga seperti meniup cahaya hitam itu hingga hilang dari tempat tersebut. Sesaat setelah cahaya itu hilang, makhluk hitam itu pun juga menghilang.
"Apa, apa yang terjadi? Kenapa menghilang?" ucap Ustadz Zainal panik.
"Hahaha... Hufff... Ilmu dan kemampuanmu belum seberapa, tapi lagak dan sombongmu sudah kelewat batas. Aku sudah muak dengan kalian," ucap Farhan.
Tiba-tiba bangunan tersebut hancur lebur termasuk kaca-kaca jendela yang pecah berserakan. Aura dari Farhan menyebabkan lukanya Ustadz Zainal dan Ustadz Fikri semakin parah, baik luka luar maupun dalam. Ustadz Halim juga mengalami hal yang sama. Ketiganya terkapar di lantai.
Farhan pun berbalik badan dan sebelum kaki-kakinya melangkah keluar pintu, dia melihat sedikit ke arah tiga Ustadz itu sambil berkata, "Huff... Ini peringatan terakhir untuk kalian bertiga. Jika kalian masih berani mendekati keluargaku, bukan hanya ini yang akan kalian dapatkan. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Hah, hah, hah," jawab ketiga Ustadz itu, sambil mengatur pernapasan.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk... Huh, huh, huh... Astaghfirullah Hal'adzim... Huh, huh... Sepertinya aku sudah tidak bisa melanjutkan ini. Mereka yang masih melanjutkan, mereka akan mendapatkan lawan yang kuat. Aku rasa pemuda bersorban itu akan merubah Pondok Pesantren Darul Musthafa ini," ucap seorang Ustadz yang tadi memberikan bantuan untuk Ustadz Zainal.