Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Aku Tunggu Kedatanganmu


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Ustadz Ronald sedang memperhatikan gerak gerik si gadis bercadar yang sedang bermain bersama kawanan kelinci itu, ada Ustadzah Siti yang sedang mengawasi pula.


Tapi raut wajah Ustadzah Siti nampak pucat, ia tidak bisa mendekat ke arah Afifah untuk menjemputnya, karena ia takut bertemu dengan Ustadz Ronald.


"Sejak kapan Ustadz Ronald kembali?", batin Ustadzah Siti bersembunyi dibalik pohon yang tak jauh dari situ.


" Kalau Ustadz Ronald kembali,,, berarti adiknya si Ustadz Roland juga sudah kembali ", batin Ustadzah Siti mengawasi sekitar.


Kenapa Ustadzah Siti begitu takut bila bertemu dengan Ustadz Ronald, karena ia adalah saksi mata dari kasus yang dialami oleh Ustadzah Indah, karena sifatnya yang memang jahat dan licik Ustadz Ronald mengancam Ustadzah Siti untuk tutup mulut. Bahkan Ustadz Ronald sendiri tidak tahu bahwa Ustadzah Indah melahirkan anaknya.


Untuk sesaat Ustadzah Siti hanya bisa membiarkan Afifah bermain bersama kelinci sambil diawasi dari kejauhan, jika Ustadz Ronald bertindak kepada Afifah maka Ustadzah Siti mau tidak mau harus keluar dan membawa Afifah pergi.


"Hmm,,, kenapa aku merasakan ada aura milikku didalam tubuh anak itu?", batin Ustadz Ronald.


" Mungkin cuma perasaan ku saja", lanjut nya.


...****************...


"Itu anakmu wahai orang bodoh!! "


Tak lama Ustadz Ronald mendengar ada suara yang tertuju kepada nya, tapi suara itu hanya bisa didengar oleh nya.

__ADS_1


"Siapa itu?! ", Ustadz Ronald pun panik dan langsung berdiri, melihat sekeliling nya untuk mencari sumber suara tersebut.


Untunglah jarak Ustadz Ronald dan Afifah lumayan jauh sehingga Afifah tidak mendengar suara Ustadz Ronald saat berteriak tadi.


"Apakah kamu tidak mengenali anakmu sendiri?", suara itu pun kembali terdengar oleh Ustadz Ronald.


" Siapa kamu,,, tunjukkan wajah mu,,,!!! ", Ustadz Ronald pun mulai marah dibuatnya.


Sedangkan Ustadzah Siti yang sedaritadi bersembunyi pun melihat tingkah dari Ustadz Ronald yang seperti mencari sesuatu itu dengan wajah merah seperti mulai marah.


"Ada apa dengan Ustadz Ronald?!", ucap Ustadzah Siti.


Setelah itu nampak Afifah yang berlari mendekat ke arah Ustadzah Siti, Ustadzah Siti pun langsung merasa lega karena Afifah sudah selesai bermain walau hanya sebentar, ia pun langsung menggendong Afifah dan segera pergi dari situ.


...****************...


Disisi lain, akhwat bercadar yang mengantar Syifa pulang juga langsung balik ke asramanya ketika Syifa sudah bertemu dengan mama nya dan Bu Nyai.


"Syifa,,, ayah mana sayang?", Dinda yang tidak melihat keberadaan Farhan pun bertanya kepada Syifa. Sebab tadi waktu Syifa pergi keluar tujuannya adalah untuk mencari Farhan.


Syifa pun menjelaskan bahwa Farhan sedang ada urusan lain setelah beberapa bertemu dengan nya, maka Syifa pun dititipkan oleh kelima akhwat bercadar untuk bermain.


Dinda dan Bu Nyai pun lega karena Syifa sudah bertemu dengan Farhan tadi, mereka pun langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


...****************...


...*Di tempat lain*...


Di sebuah kota yang padat akan penduduk nya yang lalu lalang mengendari mobil dan motor, tak sedikit pula yang berjalan kaki untuk beraktivitas.


Di dalam rumah yang bisa dibilang mewah, ada seorang pemuda bersorban yang sedang duduk di kursi kamar nya sembari melihat keluar jendela.


Pemuda bersorban itu berpenampilan seperti Farhan, menggunakan penutup wajah yang hanya menutupi daerah mulut dan hidungnya saja, dan hanya menampakkan kedua matanya, dan dibalut dengan sorban putih membuat aura nya begitu mendominasi.


*Kriiing kriiing*


Mendengar telepon kamarnya berbunyi pemuda bersorban itu langsung mendekat ke arah telpon dan langsung mengangkat nya.


"Assalamu'alaikum"


Dari seberang telpon terdengar suara seorang pemuda yang langsung membuatnya sedikit tersenyum.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh"


"Aku tunggu kedatanganmu ke Ponpes Darul Musthafa dalam 1 minggu"


"Baik"

__ADS_1


Setelah obrolan singkat itu sang pemuda yang ada di Ponpes Darul Musthafa itu langsung mematikan telepon nya, pemuda tersebut tak lain adalah Farhan. Walau hanya sekedar bicara singkat, tapi itu membuat pemuda bersorban itu langsung tersenyum karena bisa mendengar suara Farhan.


__ADS_2