Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Ikut Ayah


__ADS_3

Setelah Shalat Maghrib berjama'ah di Masjid Pondok, seperti biasa seorang santri selalu memperbanyak dzikir bersama. Terlihat Farhan berada di shaf kedua Masjid dan ada 4 Ustadz yang tadi sore sempat berseteru dengan Farhan, satu di antaranya telah kalah bertarung dengan Farhan melalui jarak jauh.


Mereka berempat berada tepat di belakang Farhan dan khusuk berdzikir. Sesekali, pandangan mereka menatap ke depan dan langsung menundukkan kepala karena merasakan ada aura yang sangat kuat mengelilingi tubuh Farhan.


"Untuk kedepannya aku tidak akan menyinggung orang itu lagi. Sangat menyeramkan."


"Jangan menatap matanya jika ingin selamat."


"Ya Allah, lindungi hamba-Mu ini."


Ketiga Ustadz itu berkomunikasi melalui telepati agar suara mereka tidak mengganggu para santri yang sedang berdzikir.


 


"Ayah?" dari balik tirai pembatas Shalat ikhwan dan akhwat, ada seorang gadis kecil bercadar yang sedang memanggil ayahnya dengan suara kecil sambil mencari tempat Shalat para ikhwan cari sang ayah. Tak lain gadis itu adalah Syifa.


Syifa berjalan perlahan dari tempat Shalat akhwat menuju tempat ikhwan, mencari Farhan. Dengan sopan, ia meminta izin kepada para santri ikhwan yang ia lewati untuk berjalan ke depan dan mencari ayahnya.


Setelah berjalan menuju shaf depan untuk mencari sang ayah, Syifa berhenti di dekat salah satu Ustadz dan memegang bahu Ustadz tersebut dengan tangan kirinya. Ustadz Fikri menjadi sangat ketakutan karena Syifa berada sangat dekat dan memegang bahunya.

__ADS_1


"Ya Allah, tolong jauhkan aku dari anak ini. Aku tidak ada niat jahat, beneran deh," batin Ustadz Fikri sangat ketakutan.


"Kamu tahu ayahnya Syifa nggak?" tanya Syifa dengan suara pelan dan sopan kepada Ustadz Fikri.


"Astaghfirullah, ayah kamu, di depan nak," jawab pelan Ustadz Fikri sedikit gemetar.


Setelah mendengar jawaban dari Ustadz Fikri, Syifa melihat ke depan dan mencari dengan teliti sang ayah yang ia cari dengan melihat satu persatu para ikhwan yang memakai baju putih di barisan tepat di depannya.


"Ayah," ucap Syifa senang karena menemukan sang ayah. Ia langsung berjalan ke depan untuk menghampiri sang ayah.


"Huh, huh, huh, Astaghfirullah Hal'adzim. Padahal anak kecil itu cuma megang bahu ku tapi kenapa aku seperti merasa tertekan ya?!" ucap Ustadz Fikri lega karena Syifa sudah menjauh.


 


"Eh, Syifa? Ngapain? Kenapa kesini nggak ikut Mama?" ucap Farhan yang tak lain adalah ayah Syifa.


"Syifa mau ikut ayah," ucap Syifa dengan mata berkaca-kaca.


"Iya-iya, husst, diem berisik. Sini duduk sama ayah," ucap Farhan mengisyaratkan Syifa untuk tetap tenang dan mengecilkan suaranya.

__ADS_1


Syifa perlahan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang ayah sambil mengikuti ayahnya yang sedang melantunkan dzikir. Menjelang do'a bersama, perlahan Syifa mengubah posisinya menjadi tiduran di pangkuan Farhan. Syifa pun dengan rasa ngantuknya perlahan menutup mata dan tidur di pangkuan sang ayah.


"Alhamdulillah gelang tasbih yang aku kasih ke Syifa bekerja dengan baik. Gelangnya yang ada di tangan kanan ini Insha Allah akan melindungi Syifa dari gangguan jin yang dimiliki oleh para bajingan itu," batin Farhan mengelus pelan kepala Syifa.


"Kasihan, mungkin Syifa juga masih kelelahan karena bermain terus dari tadi siang. Mengantuk, tidur… lucu banget kalau tidur... gemas ini anak," batin Farhan sedikit mengelus pipi Syifa yang tertutup niqob.


 


Setelah Shalat dan dzikir bersama, Farhan menggendong Syifa dan segera pergi ke luar masjid. Di teras masjid, Farhan bertemu dengan Dinda yang sedang mencari Syifa.


"Loh, Mas, Syifa sama kamu?" tanya Dinda.


"Iya, tadi waktu dzikir tiba-tiba Syifa masuk ke daerah ikhwan dan langsung nyari aku," jawab Farhan.


"Maaf, Mas Farhan. Aku nggak bisa jaga Syifa," ucap Dinda.


"Tidak apa-apa, Syifa memang tidak berisik dan tidak rewel. Dia tidur tadi sampai sekarang," ucap Farhan.


Dinda tersenyum lega karena Farhan tidak marah kepadanya melainkan justru senang bisa menggendong Syifa yang sedang tertidur. Farhan bisa mengelus-ngelus kepala Syifa dan sedikit memijit badannya karena merasa Syifa lelah. Farhan pun memberikan Syifa kepada Dinda untuk dibawa pulang ke rumah Pak Kyai dan diistirahatkan di kamar. Farhan merasa lega karena Dinda tidak pergi sendirian.

__ADS_1


__ADS_2