Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Waktu 3 Hari


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana di rumah Pak Kyai pun menjadi hening karena Farhan dan Utsman sedang beristirahat, Utsman beristirahat di dalam kamarnya dan Farhan beristirahat di sofa.


Bahkan suasana di luar rumah Pak Kyai juga sangat sepi, tidak ada satu santri pun yang lewat, karena semuanya masih berkumpul di sekitar lapangan dan di dapur Pondok, belum ada yang balik ke asrama nya masing masing.


"Assalamu'alaikum"


Dan setelah suasana hening itu Pak Kyai dan Bu Nyai pun telah pulang, Pak Kyai membuka pintu dan kedua langsung mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh".


Farhan yang masih tidur juga mendengar ucapan salam itu, perlahan ia membuka mata dan melihat siapa yang masuk, lalu menjawab salam.


" Udah pulang?", tanya Farhan sedikit menguap.


"Iya Farhan,,, Alhamdulillah udah selesai acaranya", jawab bibi nya sambil tersenyum.


" Alhamdulillah kalau begitu", ucap Farhan bangun dan duduk berselenden di sofa.


"Utsman mana?", tanya bibi nya setelah duduk di sofa yang ada di seberang Farhan.


" Di kamar,,, lagi istirahat ", jawab Farhan.


" Tugas mu sudah selesai?", tanya Farhan kepada sang paman yang ikut duduk di sampingnya.


"Beri paman waktu Farhan,,, nggak langsung selesai gitu aja,,, masih dalam proses,,, nggak sampai seminggu kok,,, paman janji akan menyelesaikan tugas ini,,, paman nggak akan mengecewakan kamu,,, dan almarhum kakek kamu", ucap sang paman bersungguh sungguh.


"Baguslah kalau begitu,,, kalau tugas sisa ini aja nggak selesai,,, pergi aja", ucap Farhan tanpa menoleh ke arah pamannya dan perlahan berdiri dengan malas.


Sang paman pun hanya terdiam, ucapan Farhan barusan berhasil membuat dirinya bergetar, ia hanya diberikan sisa sisa dari semua masalah, jika tidak bisa menyelesaikan sisa kecil ini saja, maka ia sudah menyia nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Farhan kepada nya.


Farhan pun mengangkat kandang kelinci yang berukuran sedang itu dari bawahnya, lalu mulai berjalan menuju arah belakang.


Paman dan bibinya pun saling pandang dan merasa bingung, kenapa Farhan membawa kelinci dan dimasukkan kedalam kandang?, kapan ia membuatnya?.

__ADS_1


"Bangun bangun,,, Shalat Dzuhur!! "


Farhan yang melewati kamar Utsman pun mengetuk pintu kamarnya dan membangunkan Utsman, karena memang jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.


Farhan pun tidak membuka pintu kamar dan lanjut mengarah ke dapur sambil membawa kelinci di dalam kandang, ia berjalan dengan malas. Tak lama setelah itu pintu kamar pun terbuka dan nampak Utsman yang sedikit mengucek matanya.


Utsman pun berjalan menuju ruang depan dan menghampiri paman bibinya.


...****************...


"Utsman,,, kamu baru bangun?", tanya bibi Anjani dengan senyuman di wajahnya.


" Iya bi,,, tadi waktu Utsman pulang mas Farhan nyuruh Utsman istirahat sebentar sebelum Dzuhur,,, ", jawab Utsman juga membalas senyuman dari sang bibi.


" Oh iya Utsman,,, Farhan kenapa ya kok kayak nggak ada semangat gitu? ,,, lesu banget,,, ", tanya paman Zaki.


Utsman pun hanya meletakkan jari telunjuk di depan bibir nya yang tertutup sorban itu, mengisyaratkan untuk diam.


Karena kini Farhan sudah keluar dari belakang dan berjalan dengan mantap menuju teras. Sangat berbeda dengan yang ditanyakan oleh sang paman barusan, kini nampak Farhan sudah kembali ke sifat yang dulu, dingin dan memasang tatapan tajam, serta aura yang mendominasi.


"Ayo ke Masjid Utsman", ucap Farhan langsung membuka pintu dan keluar.


...----------------...


" Hihi,,, lucu banget kuat Utsman nurut banget sama Farhan, udah kayak adik kakak kandung ", ujar bibi Anjani merasa lucu melihat sikap Utsman.


" Serem banget liat Farhan yang dingin itu lagi,,, bikin merinding ", ujar paman Zaki merasa takut melihat sosok Farhan yang telah kembali ke sifat semula nya.


...****************...


...****************...


...****************...


Selesai Shalat Dzuhur berjamaah, Farhan dan Utsman serta paman dan bibinya langsung kembali kerumah. Sedangkan untuk para Ustadz Pondok dan tim keamanan Pondok mulai rapat kembali untuk membahas kasus Ustadz Ronald dan Ustadz Roland, serta para anak buah nya yang sekarang juga sudah di amankan.

__ADS_1


Aura milik Farhan benar benar kembali ke semula, itu membuat sang paman yang ada di samping nya tidak berani menoleh sedikit pun ke arah nya dan berjalan dengan menunduk. Dan sang bibi pun juga sedikit merinding karena sifat Farhan tersebut, tapi ia juga sudah terbiasa olehnya dan hanya sedikit merinding saja, tidak sampai bergetar dan merasa tertekan.


Sedangkan Utsman juga merasa sedikit tertekan berada tepat di belakang Farhan, ia bahkan tidak berani mengeluarkan sedikit pun aura miliknya di dekat Farhan, Utsman pun hanya diam dan terus berjalan di belakang Farhan.


......................


...----------------...


Sesampainya dirumah, suasana menjadi sangat mencekam dengan aura milik Farhan, suhu di dalam rumah itu seperti turun drastis dan seperti gudang es berusia puluhan tahun, suasana sangat hening tidak ada yang berani berbicara duluan semenjak masuk ke dalam rumah.


Paman Zaki, bibi Anjani, dan Utsman pun mulai mengatur nafas karena aura menekan itu, Farhan benar benar tidak berbelas kasih jika mengeluarkan aura nya bahkan kepada saudara nya sendiri.


"Sudah waktunya untuk paman dan bibi menceritakan hal yang perlu Farhan ketahui", ucap Farhan memulai pembicaraan.


Saat Farhan memulai pembicaraan ia juga sedikit mengurangi auranya, dan suasana sedikit lebih tenang walau tidak semua auranya menghilang.


"Sebenarnya,,, "


"Sekte Angkara".


Saat sang paman belum selesai berucap Farhan sudah menyela duluan...


" A apa?,,, kamu tahu Sekte Angkara?", tanya sang paman merinding.


"Siapa mereka? ", tanpa membalas pertanyaan dari sang paman, Farhan langsung balik bertanya.


" Huff,,, itu,,, Sekte Angkara itu ada hubungannya dengan ayah mu yang menghilang dan almarhumah ibu mu yang meninggal secara misterius ", jawab sang paman.


Walau hanya sedikit jawaban dari sang paman, Farhan sudah sangat mengerti apa yang terjadi kali ini, aura nya kembali keluar dan kini lebih kuat dari sebelumnya.


" Semoga saja ayah tidak apa apa ", ucap Farhan tatapan nya tajam, ketiga orang yang ada di dekat Farhan pun hanya bisa menelan ludah dan merasa sangat tertekan.


Farhan pun berdiri dan langsung menghilangkan auranya hingga kondisi nya kembali normal, ketiga orang yang baru tertekan itu pun menghela nafas lega dan langsung mengatur nafas masing masing yang terasa ngos ngosan.


"Farhan,,,, sebaik,,,, sebaiknya kamu jangan anggap enteng Sekte itu,,, paman nggak mau kamu kenapa kenapa", ucap sang paman merasa khawatir.

__ADS_1


" Hanya Sekte sampah,,, tidak perlu ditakuti. Aku akan memberikan waktu 3 hari untuk masalah mu,,, jika dalam 3 hari masalah ini belum selesai,,, pergi? ", ucap Farhan dingin dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar.


Ketiga orang yang masih duduk di ruang depan itu pun langsung merinding dengan ucapan Farhan. 'Sekte sampah', sepertinya hanya Farhan yang berani menghina sebuah Sekte di dalam dunia persilatan.


__ADS_2