Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Utsman Datang


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esoknya, Dinda dan Syifa pun dalam pengawasan bibi Anjani, kedua perempuan bercadar itu tidak boleh keluar rumah, dan itu perintah dari Farhan. Dinda dan Syifa pun tidak mempertanyakan alasan Farhan kenapa melarang mereka berdua keluar, tapi mereka langsung menurut dan anteng di rumah bersama sang bibi.


Tapi disisi lain, Pak Kyai Zaki sedang keluar karena ada pertemuan dengan para Ustadz Pondok, dan Farhan sendiri juga sedang keluar untuk memeriksa beberapa hal. Farhan tidak takut meninggalkan Dinda dan Syifa dirumah bersama bibinya, karena Farhan sudah memberikan gelang tasbih baru kepada Syifa, dan hingga sekarang pun masih dipakai.


Tak hanya gelang tasbih, bahkan sorban putih yang diberikan oleh Farhan juga selalu dipakai oleh Syifa, dan sorban itu selalu melingkar di leher nya.


...****************...


Kini terlihat Farhan sedang duduk santai di atas pohon, ia berada di atas pohon yang letaknya dekat dengan asrama Ustadzah Indah dan anaknya, terlihat juga ada Ustadzah Siti juga ada disana, mereka sedang mengobrol sambil memakan cemilan dan meminum teh.


Dan Farhan juga tidak asal mengawasi kehidupan dari keluarga Ustadzah Indah semata, tapi ia merasakan ada sesuatu yang sebentar lagi akan terungkap dan itu pasti ada hubungannya dengan Ustadzah Indah. Walau begitu Farhan juga hanya mendengarkan percakapan keluarga kecil tersebut tanpa harus selalu melihat nya, Farhan cukup bersantai sambil menutup mata.


......................


"Hmm,,, mbak?,,, mbak kenapa kok kayak ada yang dipikirin gitu?".


Melihat Ustadzah Indah yang tak berbicara cukup lama dan hanya memakan cemilan secara pelan sambil sedikit melamun, akhirnya Ustadzah Siti pun menyadarkan kakak perempuan nya itu dengan pertanyaan dengan suara yang agak keras.


"Eh hmm,,, nggak,,, nggak ada apa apa kok Siti", jawab Ustadzah Indah tersadar dari melamun nya tapi ia langsung gugup.

__ADS_1


" Aku tu adiknya mbak Indah,,, aku tahu kalau mbak lagi ada yang dipikirin,,, cerita dong sama aku", ucap Ustadzah Siti greget dengan sikap kakaknya itu.


"Hmm,,, kamu tahu kan kalau mbak punya sedikit ilmu?", tanya Ustadzah Indah.


" Hmm,,, iiyaa,,, emang kenapa,,, mbak ada ngerasain apa?", tanya balik Ustadzah Siti.


"Hmm mbak kayak merasakan ada aura lain milik Afifah", jawab Ustadzah Indah.


" Uhuk uhuk ", Ustadzah Siti yang meminum teh pun langsung batuk mendengar ucapan Ustadzah Indah.


" Pelan pelan doong Sitii ", ujar Ustadzah Indah.


Ustadzah Siti lalu mengatur nafasnya walau masih terbatuk batuk,,, ia tertegun mendengar pernyataan dari kakaknya itu.


"Ya Allah,,, gimana caranya aku jelasin soal kasus ini,,, karena akulah saksi mata dari kasus mbak aku sendiri,,, bahkan aku berbohong sama Pak Kyai dan Bu Nyai karena diancam Ustadz Ronald".


Ustadzah Siti pun mulai takut jika ia akan bertemu dengan Ustadz Ronald dan akan diancam lagi, karena ia adalah satu satunya saksi mata dari kasus Ustadzah Indah.


"Hufff"


*Wusshhs*

__ADS_1


Farhan pun hanya melirik sedikit kearah Ustadzah Siti, seperti sudah menemukan apa yang seharusnya ia dapatkan, Farhan pun langsung menghilang dari atas pohon dan pergi dari situ.


...****************...


Hari hari pun berlalu dengan aman dan lancar, Farhan selalu stay di rumah untuk menemani Dinda dan Syifa.


Acara penyambutan selamat datang untuk Ustadz Ronald dan Ustadz Roland pun juga sudah berakhir kemarin, Farhan bahkan tidak merespon acara tersebut, hanya Pak Kyai, Bu Nyai, para Ustadz Pondok dan para santri yang menghadiri acara tersebut.


Setelah acara tersebut, kelompok dari kedua Ustadz itu pun tidak ada pergerakan ataupun tindakan di Pondok, mereka beraktivitas seperti Ustadz lainnya dan tidak bertindak yang mencurigakan. Dan Farhan juga menyadari hal itu,,,


...----------------...


...*Lapangan Desa*...


Terlihat ada banyak orang yang pingsan dan terluka didekat lapangan desa, mereka adalah para preman kampung.


Mereka semua pingsan dan terbaring tak sadarkan diri di tanah, lebih dari 15 orang terluka dan dan yang lainnya mengalami patah tulang.


"Apasih,,, padahal cuma lewat doang,,, ya kali harus bayar,,, dikira mereka preman kampung,,, sok sok an".


Dan tak jauh dari tempat para preman itu pingsan berdiri seorang pemuda bersorban dengan mata dinginnya membelakangi,,, tak lain pemuda bersorban itu adalah Utsman yang telah sampai di desa dan akan segera sampai di Ponpes Darul Musthafa.

__ADS_1


Ia pun melangkahkan kaki nya dengan mantap dan aura yang mendominasi...


__ADS_2