
Pukul 10 pagi itu, Farhan pun telah siap dengan tas yang di dalam nya ada barang barang yang ia butuh kan selama pergi dari Pondok. Ia pun di antar oleh paman dan bibi nya hanya sampai di depan rumah saja, karena Farhan tidak mau menarik perhatian para santri lain karena di antar sampai gerbang atas kepergian nya.
"Hati hati di jalan nak,,, ", ucap sang paman.
" Iya Farhan,,, semoga kamu baik baik saja selama di luar sana", ucap sang bibi langsung memeluk Farhan. Tanpa sungkan Farhan pun membalas pelukan hangat dari sang bibi.
"Udah cukup bi,,, Farhan juga nggak lama kok keluar nya,,, mungkin sekitar seminggu aja, nggak sampai berbulan bulan", ucap Farhan.
Setelah itu Farhan pun pamit kepada paman dan bibi nya, walau Farhan bilang hanya pergi selama seminggu tapi sang bibi seperti berat untuk membiarkan keponakan nya itu pergi dari Pondok.
*----------------------*
Saat Farhan berjalan membawa tas, ia menjadi pusat perhatian para santri. Mereka mengira sang santri baru itu tidak betah berada di Pondok, dan mereka menganggap sorban yang di pakai Farhan hanya untuk menarik perhatian para akhwat dan hanya untuk sombong.
Farhan tahu saja apa yang ada di dalam hati para santri santri itu, tapi Farhan menyikapi nya dengan dingin dan tidak peduli.
Kepergian nya kali ini, Farhan tidak berpamitan kepada Rohman. Ia tidak ingin orang yang ia curigai merasa senang dengan kepergian nya,,,
"Untuk saat ini aku sangat yakin kalau Wulan tidak akan bisa di dekati oleh orang itu", batin Farhan.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum kakak bersorban "
Saat Farhan berjalan, ada yang memanggil dirinya. Ia pun menghentikan langkah nya dan berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggil nya...
"Masyitah?"
Farhan pun menyadari anak kecil yang memanggil nya itu, tak lain adalah Masyitah adik perempuan bercadar.
Dengan imut nya Masyitah pun mencium tangan Farhan layak nya seorang adik yang penurut.
"Kakak bersorban mau kemana, kok bawa tas?", tanya Masyitah.
"Kakak bersorban kan belum lama ada di Pondok,,, kenapa harus pergi?. Kakak bersorban di sini aja!! ", ucap Masyitah langsung memeluk Farhan dan langsung menangis.
" Eh Masyitah,,, jangan nangis dong,, husst", Farhan pun berusaha menenangkan Masyitah.
"Kakak bersorban nggak boleh pergi,,, kakak bersorban disini aja sama Masyitah", ucap Masyitah.
Tak lama kemudian, Fatimah kakak dari Masyitah pun datang...
__ADS_1
" Ya Allah,,, Masyitah,, kamu kenapa nangis?", tanya Fatimah.
"Kakak bersorban mau pergi,,, kak Fatimah tolong bilang ke kakak bersorban biar nggak pergi,, disini aja", ucap Masyitah memohon.
Sebenarnya Fatimah sangat canggung jika bertemu dengan pemuda bersorban yang tak lain adalah Farhan.
Fatimah pun memperhatikan Farhan yang membawa sebuah tas, memang benar pemuda bersorban itu ingin pergi,,,
" Ak akhy mau pergi ke mana,,, dan kenapa bawa tas? ", tanya canggung Fatimah.
" Saya mau keluar untuk beberapa hari,,, ada beberapa hal yang harus saya selesai kan", jawab Farhan.
"Akhy kan belum lama ada di Pondok,,, walaupun jarang ketemu sama Masyitah,, Masyitah ngerasa udah nyaman sama Akhy,,, tolong Akhy tinggal beberapa hari lagi disini", ucap Fatimah.
" Bagaimana ini,,, jika Masyitah terus menangis dipelukan ku,,, nanti di lihat oleh para santri juga nggak enak,,, sedangkan aku harus segera pergi untuk segera menyelesaikan kasus itu,,, ", batin Farhan.
" Hmm,,,, Masyitah,,, udah sayang,, jangan nangis lagi,,, yuk ikut kakak jalan jalan", ucap Farhan.
Farhan pun berhasil membuat Masyitah berhenti menangis,, dan Farhan mulai menggendong Masyitah dan membersihkan air matanya. Betapa senang nya Masyitah saat diri nya di gendong oleh 'kakak bersorban'.
__ADS_1
Farhan pun menyempatkan diri untuk bermain sebentar dengan Masyitah, supaya Masyitah tidak menangis dan sedih lagi. Fatimah juga menemani adik perempuan nya itu bermain bersama Farhan.