Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Harus Cepat Memulihkan Kekuatan


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari pun semakin siang dan waktu sudah menunjukkan pukul 11:45 WIB sudah waktunya Shalat Dzuhur. Maka dari itu Pak Kyai dan Pak Danang beserta Ustadz yang bisa medis itupun pergi ke Masjid terlebih dahulu untuk Shalat Dzuhur berjamaah, tak lama setelah ketiga orang tersebut keluar terdengar suara Adzan dari Masjid yang dilantunkan oleh salah seorang Ustadz Pondok.


Sedangkan Bu Nyai dan Dinda tetap berada dirumah untuk menjaga Farhan, dan Syifa sendiri karena terlalu sedih dan sering menangis akhirnya tertidur disamping Farhan.


"Ya Allah,,, padahal Syifa belum kenal lama sama mas Farhan, tapi Syifa udah sayang banget sama mas Farhan", ucap Dinda yang berdiri di pintu dan melihat Syifa yang sedang tidur sambil memeluk Farhan di kamar Bu Nyai.


" Dindaa,,, Shalat Dzuhur dulu yuk sama bibi", ucap Bibi Anjani menepuk pundak Dinda.


"Iya bi", jawab pelan Dinda.


Karena Farhan sendiri belum sadar dan Syifa sedang tidur di samping Farhan, maka tidak masalah jika ditinggal Shalat sebentar. Bibi Anjani dan Dinda pun pergi untuk Shalat Dzuhur terlebih dahulu di ruangan lain.


...****************...

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, secara perlahan mata Farhan pun terbuka... Karena dirinya baru saja sadar dan terbangun, tak heran jika merasakan pusing pada kepala nya.


"Astaghfirullah Hal'adzim", Farhan pun berusaha untuk duduk tapi sambil memegangi kepala nya karena terasa sangat pusing.


Akhirnya Farhan pun berhasil duduk dan berselenden di kasur tersebut, dan melihat ke samping kanan nya yang ada seorang gadis kecil bercadar sedang tidur, tak lain adalah Syifa.


" Kasian Syifa,,, dari tadi nangis terus,,, tapi Alhamdulillah kalau Syifa nggak apa apa", ucap pelan Farhan sambil mengelus kepala Syifa.


Sejenak Farhan melihat ruang kamar tersebut, lalu sedikit tersenyum karena ia mengenali kamar itu milik paman dan bibi nya. Lalu melihat keluar jendela yang jaraknya tak jauh dari dirinya yang ada di samping kiri nya.


Tanpa ragu Farhan pun meminum teh tersebut yang masih sedikit hangat dirasa... Sejenak Farhan mengecapkan mulutnya beberapa kali sambil merasakan teh tersebut.


Lalu meminum teh nya lagi dan kembali diletakkan di meja kecil, lalu kembali merasakan dengan teliti rasa dari teh tersebut.


"Hmm,,, sepertinya ini teh bukan bibi yang buat,,, siapa yang buat teh ini?", tanya Farhan.

__ADS_1


" Eehggh"


Mendengar suara lenguhan, Farhan pun langsung melihat ke arah Syifa. Terlihat tubuh Syifa bergerak seperti ingin bangun. Walau baru bangun dan belum sepenuhnya terkontrol dengan kepala pusing nya, Farhan tetap berusaha mendekat ke arah Syifa untuk menenangkan nya.


"Huusst,, husst Syifaa,,, husst", Farhan pun mengelus kepala Syifa dengan lembut sambil mengecup keningnya.


Beberapa kali Syifa sedikit menggeliat tapi setelah Farhan berusaha menenangkannya, secara perlahan Syifa kembali tenang dan kembali nyaman dalam tidur nya, dan perlahan memiringkan tubuh nya ke arah Farhan yang ada di samping kiri nya, Farhan pun hanya tersenyum melihat Syifa.


Perlahan tapi pasti secara perlahan Farhan meraih tangan kanannya Syifa yang mungil itu, mengelus pelan sambil tersenyum dan membacakan sebuah do'a, lalu secara langsung sudah ada gelang tasbih ukuran kecil yang melingkar di pergelangan tangan kanan Syifa, beda dari yang sebelumnya berwarna putih melainkan kini berwarna hitam, tentunya itu gelang dari Farhan.


"Orang yang menculik Syifa tadi bisa membawa Syifa tanpa Syifa berteriak dan ia bisa menghancurkan gelang tasbih yang aku berikan untuk Syifa,,, ilmunya pasti tinggi", batin Farhan.


Secara perlahan Farhan pun meletakkan kembali tangan kecil nya Syifa...


" Aku harus segera memulihkan tubuh dan kekuatan ku,,, sebelum kedua orang itu balik ke Pondok,,,, minimal sudah ada beberapa kasus di Pondok ini yang harus aku selidiki ", batin Farhan yakin.

__ADS_1


__ADS_2