
Sudah lama sekali Farhan berbincang bincang dengan Ustadz Ahmad, mereka berdua berbicara dengan nyaman. Bahkan Farhan sering tersenyum saat berbicara dan memandang wajah Ustadz Ahmad, Farhan sekalipun tidak pernah mengeluarkan aura menekannya kepada Ustadz Ahmad.
"Alhamdulillah,,, sepertinya tidak semua orang di Ponpes ini tidak suka dengan Rohman setelah kasus 4 tahun lalu. Bahkan Ustadz Ahmad sendiri sangat yakin kalau Rohman tidak melakukan hal tersebut", batin Farhan.
" Santri baru ini sangat nyaman untuk di ajak bicara, mungkin dia cari aku karena butuh teman ngobrol aja", batin Ustadz Ahmad.
"Baiklah Ustadz Ahmad, terima kasih atas waktu luang nya. Saya pamit dulu,,, "
"Baik ikhwan,,, kalau ikhwan mau, ikhwan boleh cari saya untuk ngobrol,,, saya selalu di area pondok akhwat", jawab Ustadz Ahmad.
Setelah berjabat tangan sebentar, Farhan pun berbalik badan dan hendak melangkah kan kaki nya,, tapi...
" Kakak bersorban!!! "
Ada suara anak kecil yang memanggil Farhan dengan sebutan 'kakak bersorban'. Saat Farhan mencari sumber suara tersebut, ia melihat ada seorang anak perempuan bercadar yang sedang berlari menuju diri nya.
Anak perempuan bercadar itu tak lain adalah Masyitah yang berlari ke arah Farhan, dengan Ustadzah Fitri yang mengikuti dari belakang.
"Sepertinya itu adalah Masyitah, anak perempuan bercadar yang aku temui saat pertama kali masuk ke Ponpes", batin Farhan tersenyum.
Dan langsung saja Masyitah memeluk Farhan dengan erat tanpa rasa sungkan,,,
__ADS_1
" Kakak bersorban,,, "
"Masyitah,, "
Setelah itu Masyitah pun melepaskan pelukan nya dan mencium tangan Farhan dan Ustadz Ahmad.
"Kakak bersorban lagi ngapain disini?", tanya Masyitah.
" Kakak tadi habis ngobrol sebentar sama Ustadz Ahmad, kalau Masyitah lagi apa disini?", ucap Farhan.
"Masyitah mau ngumpulin tugas ke Ustadz Ahmad,,, Ustadz Ahmad juga guru nya Masyitah", jawab Masyitah.
Masyitah pun melepas tas yang ia gendong dan mencari buku yang hendak ia kumpulan kepada Ustadz Ahmad...
"Ya Allah,,, ternyata Masyitah dan pemuda bersorban itu saling kenal,,, pemuda bersorban itu juga bisa dekat sama anak kecil", batin Ustadzah Fitri.
*-------------------------------*
*Suatu tempat di dekat perbatasan area pondok ikhwan dan akhwat*
Ada Wulan yang sedang duduk di bangku panjang sambil terdiam termenung, ia seperti nampak gelisah.
__ADS_1
"Ya Allah,,, apa yang harus aku lakukan?. Bagaimana kalau orang itu tau soal aku yang di introgari sama pemuda bersorban keponakan nya Ustadzah Rini"
"Kalau di ingat ingat kejadian 4 tahun lalu,,, orang itu tanpa rasa bersalah telah merebut kesucian ku yang aku jaga selama ini.. Tapi,,, bisa bisa nya ia mengancam ku dan melemparkan kesalahan kepada Ustadz Rohman,,, orang yang aku kagumi selama ini"
Perlahan air mata Wulan pun mulai menetes,,, ia tidak bisa menahan tangisannya...
Wulan adalah salah satu akhwat bercadar yang termasuk akhwat idaman para ikhwan di pondok. Dan sejak dulu, ia sudah banyak di incar oleh para ikhwan, bahkan ada seorang ikhwan yang melamar nya namun di tolak, karena Wulan sudah menyukai Rohman sejak ia masuk ke Ponpes Miftahul Huda.
Wulan sangat mengagumi Rohman karena sikap lembut nya dan sikap tegas nya, ia sangat disiplin dalam mengurus para santri yang ia urus. Saat itu Rohman adalah Ustadz terpopuler nomor 1 di Pondok.
Tapi di sisi lain ada orang yang tidak suka dengan ketenaran Rohman,,,
Sampai kasus itu terjadi, dimana Rohman di tuduh sudah meniduri seorang akhwat. Rohman yang tidak merasa bersalah pun membela diri nya, namun ia kalah karena tidak ada yang percaya. Orang licik itu sudah mempersiapkan rencana yang mantang untuk menjebak Rohman.
Bahkan Pak Kyai Hasyim pun marah kepada Rohman, dan Rohman di hukum untuk selalu membersihkan gudang yang ada di dalam hutan setiap hari nya.
"Maafkan saya Ustadz Rohman,,, saya terpaksa melakukan hal itu.. Saya takut di ancam".
Saat ini Wulan benar benar sangat sedih,,,
*--------------*
__ADS_1
Di balik dinding yang tak jauh dari tempat Wulan duduk,,, ada seseorang yang sedang mengawasi Wulan...
" Astaghfirullah Hal'adzim Ya Allah,,, aku nggak tega lihat Wulan terus terusan bersedih,,, orang itu sangat keterlaluan. Kalau saja aku bisa memiliki bukti yang kuat, pasti Rohman nggak akan seperti ini dan Wulan juga tidak akan sesedih seperti sekarang ini".