Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Kepergian


__ADS_3

...****************...


Para santri pun bersorak sorai memberikan tepuk tangan kepada Farhan yang berhasil menjatuhkan Ustadz Rohman dan Ustadz Syafi'i hanya dengan satu pukulan.


Kini kedua Ustadz muda itu pun terbaring lemah di tanah,,,


"Hah hah hah,,, mas Farhan masih hebat seperti dulu ya"


"Iya,,, padahal kita juga udah pakai jurus andalan waktu kita menyerang bersama, tapi masih kalah"


Walaupun kedua Ustadz itu telah kalah saat berhadapan dengan Farhan, tapi kekuatan mereka juga tidak kalah kuat dengan kekuatan Farhan itu sendiri, jika dibandingkan dengan kekuatan Ustadz Rendy, ia pasti sudah kalah telak jika berhadapan dengan jurus combo dari Ustadz Syafi'i dan Ustadz Rohman.


Saat kedua Ustadz muda itu masih terbaling lemas di atas tanah, ada uluran tangan yang akan membantu mereka berdiri.


"Mas Farhan"


Kedua Ustadz muda itu pun langsung tersenyum saat melihat tangan Farhan lah yang memberikan bantuan kepada mereka, Ustadz Syafi'i pun menangkap satu tangan Farhan dan Ustadz Rohman menangkap tangan Farhan yang satunya.


Mereka bertiga pun mendapatkan pujian dan tepuk tangan dari para santri yang menonton, bahkan Pak Kyai dan Bu Nyai juga memberikan selamat kepada ketiga Ustadz tersebut.


"Kekuatan kalian sebenarnya juga sudah berkembang,,, kalian sudah menjadi kuat dari beberapa tahun lalu,,, selamat untuk kalian berdua", Farhan pun memberikan tanggapan baik kepada kedua sahabat nya itu, lalu memeluknya.

__ADS_1


...----------------...


Betapa senangnya Ustadzah Rinjani melihat suasana yang mengharukan itu, Ustadz Farhan yang akan segera meninggalkan Pondok Pesantren Miftahul Huda, juga harus meninggalkan kedua sahabat nya itu yang sudah dianggap seperti keluarga.


Ukhty Wulan juga senang melihat Ustadz Rohman yang bisa ilmu silat, karena tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Ustadz Rohman adalah pendekar yang hebat pada masanya bersama dengan Ustadz Syafi'i.


"Hufff,,, Farhan"


Dengan wajah sedih, Pak Kyai pun kembali duluan ke kediaman nya dan meninggalkan Bu Nyai bersama dengan Ustadzah yang lain. Walau bagaimana pun, Farhan tetap lah keponakan satu satu nya, walau sikap Farhan selalu cuek dan dingin kepada Pak Kyai, tapi Pak Kyai sangat senang waktu Farhan main ke Pondok Pesantren.


...****************...


...*Sore hari di depan gerbang Pondok*...


Adegan sedih tidak akan terlewatkan kali ini, dan orang yang paling sedih adalah sang bibi yang sedari tadi tidak berhenti meneteskan air mata dan memeluk erat keponakan nya itu.


"Farhan,,, kamu jangan lupain bibi ya,,, "


"Bibi ngomong apa sih?,,, Bibi Aini itu Bibi pertama nya Farhan,,, Farhan sayang sama bibi,,, Farhan nggak akan melupakan bibi,,, bibi sehat sehat ya disini,,, Farhan pamit dulu"


Kembali Bu Nyai memeluk erat Farhan sebelum Farhan benar benar lepas dari pelukan nya, dan setelah berpelukan dengan bibi, Farhan pun juga memeluk paman nya.

__ADS_1


Dan tak lupa juga kedua sahabat nya yang sedari tadi menahan sedih dan air matanya dengan senyuman yang berusaha ikhlas,,,


"Kalian kalau mau nangis, nangis aja. Nggak usah ditahan gitu,,, jelek banget,,, ", ucap Farhan meledek.


" Mas,,, nggak gitu juga mas"


"Iya nih mas Farhan,,, jelek nya juga jangan ngikut dong"


Dengan sedikit gurauan sebelum berpisah, mereka bertiga pun berpelukan erat, pelukan erat antara saudara...


......................


"Baiklah,,, jaga diri kalian baik baik,,, jaga Pondok ini dari " binatang" liar, saya percaya paman bisa melakukan itu", ucap Farhan.


"In Syaa Allah Farhan,,, ", jawab Pak Kyai tersenyum kepada Farhan.


" Farhan pamit,,, sampai ketemu kembali,,, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,,, "


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh,,, "


Dan Farhan pun kini telah perlahan pergi dari Ponpes Miftahul Huda, bayangan Farhan yang kini telah jauh dan hilang dari pandangan masih dilihat oleh mereka yang masih meneteskan air matanya.

__ADS_1


Termasuk Ukhty Azizah dan Ukhty Alimah yang sedari tadi melihat kepergian Farhan dari dalam Pondok, mereka juga sedih karena sang pujaan hati telah pergi, mereka berdua bertekad untuk selalu menunggu kedatangan Ustadz Farhan kembali ke Ponses Miftahul Huda.


__ADS_2