
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua orang hanya melongo dan terdiam melihat situasi itu, dimana ada seseorang yang mampu menangkis pukulan kuat dari Ustadz Roland dan orang itu menangkis nya juga menggunakan tinju bukan telapak tangan.
Setelah sejenak terkejut dengan situasi itu, Ustadz Roland pun langsung tersadar dan bergegas mundur menjauh dari Utsman, tapi Utsman sendiri hanya sedikit tersenyum dibalik sorban nya itu sambil menurunkan tinjunya yang ia gunakan untuk menangkis tadi.
"Huff,,, ayolah Ustadz,,, apakah cuma segitu kemampuan mu?", ucap Utsman memprovokasi. Karena merasa kurang menarik jadi ia pun hanya bisa memancing Ustadz Roland untuk mengeluarkan semua kekuatan nya supaya ia bisa bersemangat sedikit.
" Jangan omong kosong,,, aku hanya memberikan pemanasan kecil untuk mu,,, supaya kamu tidak mengira bahwa aku menindas yang lemah" , jawab Ustadz Roland memasang ekspresi yang bengis dan auranya mulai keluar.
Lalu tanpa pikir panjang lagi Ustadz Roland langsung menyerang ke arah Utsman dengan kekuatan yang ditingkatkan lagi, ia kali ini menyerang dengan bringas.
Dan kali ini Ustadz Roland juga menyerang menggunakan tendangan nya, ia tidak sungkan lagi dan mengeluarkan seluruh kemampuan nya.
Tapi Utsman bahkan hanya bergeser sedikit untuk menangkis serangan dari Ustadz Roland itu, ia sama sekali tidak tertantang untuk mengalahkan musuh yang ada dihapadan nya itu.
Para penonton pun mulai bersorak kembali memberikan dukungan kepada kedua peserta itu, mereka awalnya mengira bahwa Utsman si pendatang baru itu akan kalah hanya dengan sekali serangan dari Ustadz Roland, tapi tidak menyangka bahwa saat Ustadz Roland menyerang untuk pertama kali nya ia hanya menangkis dengan pukulan nya dan bahkan tidak bergerak sedikit pun. Para santri pun mulai memberikan dukungan kepada Utsman karena mengira mungkin Utsman si pendatang baru itu bisa mengalahkan si juara 2 bertahan itu.
__ADS_1
...----------------...
Disisi lain sang bibi yang dari tadi melihat pertandingan Utsman pun terlihat tampak bangga dengan keponakan nya itu, Bu Nyai tahu bahwa Farhan adalah keponakan nya yang terkuat tapi Utsman juga tidak lemah walau berada di urutan ke 4 dari 5 bersaudara itu.
Beda halnya dengan sang paman yang seperti nya nampak tegang menonton pertandingan itu, entah karena takut karena Utsman akan kalah atau takut akan hal lain. Semua orang yang ada di Ponpes Darul Musthafa semuanya tahu kekuatan dari kedua Ustadz bersaudara itu, kemampuan mereka sudah terbukti selama beberapa tahun di dunia persilatan.
Bibi Anjani nampak sangat bersemangat melihat pertarungan Utsman, ia berharap jika Utsman bisa mengalahkan Ustadz Roland. Karena setelah penyelidikan kedua keponakan nya itu, bibi Anjani juga sudah tidak ingin melihat kedua Ustadz jahat itu lagi di Pondok Pesantren.
...----------------...
...----------------...
Ia sedih dan merasa bersalah kepada almarhumah sang kakak karena tidak bisa mengurus Pondok dengan benar, tapi ia bersyukur karena keponakan keponakan nya ingin membantu menyelesaikan masalah yang ada di Pondok itu.
Ia sangat bersyukur karena Farhan dan Utsman mau datang untuk membantu nya menyelesaikan masalah Pondok.
...****************...
__ADS_1
...****************...
"Selesai"
Di tempat lain Farhan telah selesai membuat kandang yang berukuran sedang untuk kedua kelinci kecil, ia akan memberikan kelinci itu kepada Syifa yang nantinya akan ia titipkan kepada bibinya.
Sangat terlihat wajah Farhan yang tidak bersemangat walau ditutup rapat oleh kain dan sorban putih nya. Sangat berbeda saat ada Syifa yang selalu menempel pada dirinya, raut wajah yang ia perlihatkan pasti akan sangat jauh berbeda.
Perlahan Farhan membaringkan tubuhnya itu di rerumputan hijau yang ada di bawah nya, memandang langit yang cerah sambil sesekali memejamkan mata.
"Sepertinya percuma juga aku memikirkan untuk menikahi Dinda suatu saat nanti,,, aku tidak yakin bahwa aku dan Dinda berjodoh", ucap Farhan sambil mata terpejam.
Kini sosok Farhan sangat jauh berbeda dari yang dulu,,, sosok Farhan yang tegas, dingin, tidak peduli dengan sekitar nya, jarang bicara. Tapi kini ia sangatlah berbeda dengan dirinya yang dulu.
Seperti memang benar bahwa sosok Syifa dan Dinda lah yang berhasil membuat sifat dingin Farhan meleleh dan kini menjadi kan Farhan lebih hangat ke sesama dan lebih murah senyum.
"Semoga cita citamu menjadi seorang Ustadzah tercapai Syifa,,, ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu", batin Farhan sambil membuka mata dan menghela nafas.
__ADS_1
Farhan pun bangun dan duduk, memasukkan kedua kelinci kecil kedalam kurungan dan beranjak pergi...