
*Hari ketiga di Ponpes Miftahul Huda*
Pagi ini Farhan belum keluar sama sekali dari rumah paman nya, ia sedang bersantai di dalam kamar nya sambil membaca buku dan meminum teh hangat.
*Ruang tamu*
Pagi ini Pak Kyai dan Bu Nyai juga sedang bersantai sambil membaca beberapa kitab, mereka berdua sangat dekat sekali sebagai pasangan suami istri.
Biar bagaimana pun, Pak Kyai dan Bu Nyai masih terlihat sangat muda. Di usia mereka berdua yang masih muda itu, mereka sudah menjadi penerus Pondok Pesantren milik kakek nya Farhan.
Almarhumah ibu nya Farhan adalah anak pertama dari 7 bersaudara, dan ke enam bibi nya Farhan adalah adik kandung dari ibu nya, tapi di suatu kejadian ibu nya Farhan meninggal dengan misterius, dan hal itu mungkin juga penyebab ayah nya Farhan menghilang tanpa jejak.
*Kamar Farhan*
Farhan yang sudah selesai membaca beberapa lembar buku, kini menyimpan buku milik nya di dalam lemari.
__ADS_1
Setelah meminum beberapa teguk teh hangat, ia pun beranjak ke luar dari dalam kamar...
*--------------------*
"Mesra banget kalian berdua,,, ", seru Farhan dari arah belakang.
Mendengar ada suara orang, paman dan bibi nya pun terkejut dan langsung mengucap Istighfar.
" Dasar kamu Farhan,,, ngagetin aja", ucap sang paman.
Farhan pun perlahan duduk di kursi yang ada di hadapan paman dan bibi nya,,,
" Nanti aja bi Farhan sarapan,,, "jawab Farhan tersenyum.
" Farhan mau bicara sama paman dan bibi", lanjut Farhan.
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa Farhan,,, bicara aja nggak usah sungkan", ucap sang bibi.
Tanpa rasa sungkan, Farhan pun langsung saja menceritakan rencana nya tentang diri nya yang ingin membawa ibu nya Wulan untuk tinggal di Ponpes Miftahul Huda. Sejenak paman dan bibi nya pun terdiam dan saling pandang...
"Paman nggak bisa menjamin apakah rencana mu ini akan berjalan lancar dengan cara kamu membawa ibu nya Wulan untuk tinggal di Pondok ini,, paman nggak bisa selalu mengawasi ibu dan anak itu secara bersamaan", jelas sang paman.
" Paman dan bibi tenang aja,,, Farhan yang akan menjamin keselamatan Wulan dan ibu nya. Kalau kasus fitnah ini tidak selesai,,, Farhan tidak rela kalau Rohman, sahabat Farhan dari kecil harus mengurus gudang yang ada di tengah hutan setiap hari tanpa istirahat ", ucap Farhan tegas.
" Padahal paman tahu kalau Farhan dan Rohman udah berteman sejak kecil,,, sejak Pondok ini belum ada para santri,,, bahkan para Ustadz dan Ustadzah yang ada di Ponpes Miftahul Huda ini belum ada waktu Farhan masih kecil,,, tapi bisa bisa nya paman mencurigai Rohman melakukan hal menjijikkan itu", ucap Farhan.
Seketika itu sang paman pun terdiam membeku,,, dia merasa bersalah kepada Rohman. Rohman adalah anak sebatang kara yang ia ambil dari jalanan dan di rawat di Pondok,,, tapi dia sendiri malah menghukum nya tanpa kasihan. Dan Bu Nyai pun juga terdiam, dia hanya bisa menenangkan suami nya yang ada di samping nya.
"Maafkan paman Farhan,,, waktu itu semua bukti tertuju kepada Rohman,,, kalau paman membela Rohman di depan para santri padahal semua bukti sudah ada,,, bagaimana pendapat para santri? ", ucap sang paman.
Mendengar penjelasan dari paman nya, Farhan sama sekali tidak memperdulikan nya, ia bersikap sangat dingin...
__ADS_1
" Farhan akan berangkat pagi ini", ucap Farhan berdiri, dan langsung pergi ke belakang.