Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Lepas Dari Hukuman Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Siang itu setelah makan bersama, Farhan dan ibu Murni pun Sholat Dzuhur berjamaah di rumah. Karena jarak dari rumah ibu Murni menuju Masjid sangat jauh, ibu Murni juga tidak ada kendaraan untuk dinaiki pergi menuju Masjid.


Ibu Murni sangat senang karena Sholat berjamaah bersama Farhan, karena keluarga ibu Murni yang tersisa hanya Wulan, suami ibu Murni telah meninggal saat Wulan masih kecil.


*-------------------*


Jam 1 siang, ibu Murni meminta tolong kepada Farhan untuk memberi makan ayam. Dengan senang hati Farhan mau membantu ibu Murni.


Terkadang ibu Murni juga bercerita tentang dirinya dan Wulan kepada Farhan, dan kini suasana mulai nyaman dan tenang. Farhan sudah tidak se canggung saat makan siang,,,


Ayam yang dipelihara oleh ibu Murni lumayan banyak, tapi ayam itu juga bukan milik ibu Murni, tapi milik saudara nya yang sedang tidak di rumah.


Karena semua ayam sudah diberi makan, ibu Murni dan Farhan duduk bersama di kursi teras...


"Ibu Murni di rumah sendirian,,, apa ibu tidak merasa kesepian?", tanya Farhan mulai.


" Sejujurnya memang kesepian sih nak Farhan,,, yaa mau bagaimana lagi?", jawab ibu Murni.


"Ibu mau nggak ke Ponpes Miftahul Huda sama saya?,,, nanti ibu bisa ketemu sama anak nya ibu disana", ucap Farhan tanpa ragu.


Sejenek ibu Murni terdiam sambil menatap Farhan,,, lalu menundukkan kepala.


" Hmm,,, entahlah nak Farhan. Ibu takut nanti Wulan akan diejek teman teman nya karena mondok sama ibu nya", ucap Ibu Murni.


"Di Ponpes Miftahul Huda,,, nggak ada santri yang saling ejek bu,,, semua santri ngaji sama sama,,, hidup mandiri bersama,,, dan jika Ibu ada di Pondok, pasti Wulan sangat senang,,, apalagi kalian sudah lama tidak bertemu kan? ", ucap Farhan.


" Hmm,,, kalau ibu ke Ponpes Miftahul Huda,,, apakah Pak Kyai akan marah?", tanya ibu Murni ragu.


"Untuk apa marah,,, bahkan Pak Kyai pemilik Pondok nurut sama saya karena saya adalah keponakan nya,,, ", ucap Farhan.

__ADS_1


" Hihi,,, bukannya kebalik ya nak Farhan,,, bukan nya kamu yang harus nya nurut sama Pak Kyai? ", ucap Ibu Murni tertawa.


"Tapi itu kenyataan bu,,, paman saya, Pak Kyai Hasyim sangat nurut sama saya,,, bukan nya nurut sih, tapi apa yang saya bicarakan pasti beliau percaya,,, " jelas Farhan.


"Ibu kaget lo waktu nek Farhan bilang kalau nak Farhan ini keponakan nya Pak Kyai", ucap ibu Murni.


" Nggak heran kalau ibu kaget,,, sebelum saya kesini,,, saya bilang ke paman saya untuk membawa ibu untuk tinggal di Ponpes Miftahul Huda,,, dan beliau menyetujui nya,,, ", ucap Farhan.


" Hmm,,,, "


"Ibu nggak usah jawab sekarang,,, ", ucap Farhan.


Ibu Murni pun tersenyum dan berdiri,,,


" Huff,,, ibu ngantuk nak, ibu mau tidur siang dulu ya,,, nggak apa apa kan nak Farhan ibu tinggal?", ucap ibu Murni.


"Nggak apa apa kok bu,,, kalau ibu ngantuk, silahkan ibu tidur siang,,, saya nggak apa apa kok", ucap Farhan.


...****************...


...*Ponpes Miftahul Huda*...


Setelah Shalat Dzuhur berjamaah, Pak Kyai memanggil Rohman.


"Rohman,,,hadroh yang baru kamu simpan di aula akhwat kan?", tanya Pak Kyai.


" Iya Pak Kyai,,, sudah saya simpan di sana ", jawab sopan Rohman.


" Ya Allah,,, nggak semestinya aku memberi hukuman kepada Rohman untuk membersihkan gudang tua milik Pondok yang ada di hutan ", batin Pak Kyai.

__ADS_1


Sejenak Pak Kyai mengingat waktu pertama kali bertemu dengan Rohman dulu, waktu itu Rohman hanya anak kecil sebatang kara yang hidup sendir.


Anak kecil yang sedang memulung dan kelaparan di pinggir jalan besar, anak kecil yang berusaha mencari uang untuk membeli nasi untuk dimakan,,,


Pak Kyai pun membawa Rohman ke Pondok untuk dirawat dan diberi bimbingan ilmu agama, dan semua fasilitas yang diberikan untuk Rohman gratis.


"Rohman,,, mulai sekarang kamu tidak usah membersihkan gudang lagi,,,, ", ucap Pak Kyai.


" Gi gimana Pak Kyai?", tanya Rohman ragu dengan ucapan Pak Kyai.


"Kamu sudah tidak lagi saya hukum,,, kamu saya izinkan menjadi Ustadz lagi di Ponpes Miftahul Huda", jelas Pak Kyai.


Betapa senang nya Rohman ketika mendengar ucapan Pak Kyai yang membebaskan dirinya dari hukuman, hukuman yang sudah dijalaninya selama bertahun tahun. Rohman pun menangis dan langsung memeluk Pak Kyai...


"Terima kasih Pak Kyai,,, terima kasih banyak,,,, ", ucap Rohman menagis bahagia.


" Iya Rohman,,, udah dong jangan nangis, malu nanti dilihat santri lain,,, untung Masjid ini cuma ada saya sama kamu", ucap Pak Kyai menenangkan Rohman.


"I iya Pak Kyai".


Rohman pun melepas pelukan nya dari Pak Kyai dan membersihkan air matanya,, kebahagiaan Rohman tidak bisa disembunyikan,,, ia nampak sangat bahagia.


Dan Pak Kyai sendiri sedikit meneteskan air mata karena melihat Rohman yang sangat gembira,,,


" Ya Allah,,, melihat Rohman yang bahagia seperti sekarang ini,, aku teringat saat ia masih kecil dulu,, ia sangat bahagia saat pertama kali masuk Pondok,, ia sangat bahagia bisa mengaji,,, dan teman pertama nya adalah Farhan,,, mereka sudah berteman sejak kecil", batin Pak Kyai.


"Kamu masih bisa main hadroh Rohman? ", tanya Pak Kyai.


" Hmm,,, In Sya Allah masih bisa Pak Kyai ", jawab Rohman masih tersenyum.

__ADS_1


" Kamu selalu main hadroh disamping Farhan waktu manggung dulu,,, dan sekarang saya mau main hadroh sama kamu,,, ayo kita ke aula akhwat untuk ngambil hadroh yang baru", ucap Pak Kyai berdiri dan menuju Pintu keluar Masjid.


Seketika Rohman terdiam bengong,,,, ia sangat terkejut mendengar Pak Kyai ingin main hadroh bersamanya,, karena dulu yang mengajari Rohman bermain hadroh adalah Pak Kyai Hasyim sendiri.


__ADS_2