
Sejenak Rinjani terdiam karena serangan nya di blokir oleh seorang pemuda bersorban, keseimbangan kaki Rinjani sangat kuat, walau kaki kiri nya di blokir dan dikunci oleh Farhan, ia masih bisa berdiri menggunakan kaki yang satu nya.
Genggaman tangan Farhan kepada kaki nya Rinjani pun melemah, dengan sigap Rinjani langsung menghindar dan menjauh dari si pemuda bersorban.
"Boleh juga respon mu bisa memblokir tendangan ku kepada Rohman", ucap Rinjani.
" Kamu tinggal menerima kotak dari Rohman yang di titip kan oleh Bu Nyai,, kenapa harus menyerang Rohman? ", tanya Farhan tegas.
" Jangan sok mau melindungi Rohman,,, dia udah berulang kali buat ulah sama aku. Jadi kali ini aku juga yakin itu kotak bukan dari Bu Nyai melainkan dari Rohman sendiri yang udah masang jebakan buat aku", jawab Rinjani.
"Sepertinya ukhty tidak bisa bicara baik baik sama saya", ucap Rohman tatapan nya semakin tajam.
" Ja jangan sok mau nakut nakutin aku,,, aku nggak takut sama kamu, kalau mau bertarung,,, ayo!!! ", ucap Rinjani sedikit takut dengan tatapan Farhan.
" Sebaiknya kamu jangan bertarung sama kakak ku,,,, nanti kamu kalah", ucap Rohman memberi saran dan peringatan untuk Rinjani.
"Mmh,,, selama aku jadi murid sampai aku jadi pelatih silat di Pondok ini,, nggak ada yang pernah bisa mengalahkan aku", jawab Rinjani sombong.
Langsung saja Rinjani memberikan tendangan kepada pemuda bersorban dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat, tapi dengan santai nya Farhan memblokir semua serangan yang diberikan oleh Rinjani, bahkan Farhan tidak mengeluarkan serangannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak menyerang balik?", tanya Rinjani kesal. Tapi Farhan hanya menatap nya dengan tatapan dingin.
" Baiklah,,, kamu sudah berhasil membuat ku marah, jangan salahkan aku kalau aku membuat mu kesakitan", ucap Rinjani semakin serius dan memasang kuda kuda.
Dengan kekuatan penuh, Rinjani menyerang si pemuda bersorban lagi dengan tendangan lebih ganas. Tapi lagi lagi Farhan memblokir nya dengan santai.
"Jangan pernah sombong lagi,,, di atas langit masih ada langit", ucap Farhan menatap Rinjani dengan tatapan sadis dan aura menekan.
Kali ini Farhan langsung menyerang titik vital Rinjani , yaitu tepi leher nya. Dengan sekali pukul di titik vital nya, Rinjani pun akhirnya pingsan.
*-----------------------------*
Sudah 15 menit Rinjani pingsan, dan kini ia sedang terbaring tak sadarkan diri di dalam kamar nya.
"Kamu jaga ukhty bercadar ini", ucap Farhan.
" Mas Farhan mau kemana?", tanya Rohman.
"Mau balik dulu,, mau mandi. Assalamu'alaikum", ucap Farhan.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam", jawab Rohman.
Tak berapa lama Farhan pergi, Rinjani pun mulai tersadar dari pingsan nya.
"Ughh,,,ini dimana?", ucap Rinjani memegangi leher nya yang masih terasa sakit.
"Ini di kamar mu", jawab Rohman.
" Mmhh,,, katanya nggak ada yang bisa ngalahin kamu,,, tapi dapat satu serangan kok tumbang", ejek Rohman berdiri dari tempat duduk nya.
"Itu kotak dari Bu Nyai,,, terserah mau percaya atau nggak, Assalamu'alaikum", ucap Rohman langsung pergi meninggalkan Rinjani.
" Wa'alaikumussalam ", jawab Rinjani melihat ke arah meja kecil nya, ada kotak kecil yang di bicarakan Rohman.
Perlahan Rinjani pun bangun dan duduk di pinggir kasur nya sambil memegangi pinggir lehernya...
" Ya Allah,,, sakit banget. Aku nggak nyangka ada ikhwan baru yang jago silat di Pondok ini", ucap Rinjani.
Karena Rinjani tidak pernah bertemu dengan Farhan, maklum kalau dia menganggap Farhan sebagai santri baru.
__ADS_1
"Lain kali kalau ketemu sama akhy bersorban itu aku harus minta maaf", ucap Rinjani.