Pemuda Bersorban Milik Ponpes

Pemuda Bersorban Milik Ponpes
Mobil Penculik


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Farhan berjalan cukup lama hingga dirinya berhenti di sebuah gerbang masuk desa, ia menatap papan nama desa yang ada di atas tersebut tanpa ekspresi, lalu pandangan nya menatap lurus ke arah depan, ia mulai melangkah masuk dengan aura dinginnya.


Jarak antara terminal dengan Pondok Pesantren Al Muttaqin tidak cukup jauh, Farhan sekarang berada di desa yang di dalam nya terdapat Ponpes Al Muttaqin tersebut.


Desa tersebut nampak sepi padahal masih sore, sekarang sekitar pukul 16:00 WIB, cuaca nya cerah dan tidak mendung, tapi desa itu seperti desa mati, tidak ada satu warga pun yang terlihat.


Bahkan anak kecil yang selalu main kejar kejaran diwaktu sore hingga Maghrib pun juga tidak ada, Farhan tetap berjalan menyusuri jalan desa itu.


...****************...


...****************...


Setelah lama berjalan Farhan melewati sebuah warung, ia menghentikan langkah kaki nya dan wajah tanpa ekspresi nya kini berubah menjadi ada sedikit ekspresi, ia berjalan mundur beberapa langkah dan menoleh untuk melihat warung tersebut.


"Waah,,, es dawet,,, udah lama nggak minum es itu,,,", ucap Farhan.


Ternyata Farhan baru saja melewati warung es dawet, mata Farhan sedikit berbinar karena merasa ada kenangan masa lalu dengan es tersebut.


Farhan pun masuk ke dalam warung itu yang nampak sepi...


"Pak,,, es dawet 1 gelas", ucap Farhan memesan segelas es dawet kepada bapak penjual tersebut.


" Baik mas,,, silakan duduk dulu", ucap si bapak sangat ramah, Farhan hanya tersenyum sedikit dibalik sorban nya lalu menuju tempak duduk yang sudah disediakan.


"Mas nya orang baru ya?", disaat membuat es, si bapak pun mengajak Farhan mengobrol supaya suasana tidak sepi.


" Iya pak,,, saya baru datang sore ini. Ngomong ngomong semua warga nya pada kemana pak,,, sepi banget kayak desa tak berpenghuni ", ucap Farhan bertanya kepada si bapak penjual.


" Huff,,, desa ini memang seperti desa mati mas,,, sejak adanya kasus penculikan beberapa bulan lalu ", ucap si bapak mengantarkan es dawet kepada Farhan.


Sekilas tatapan mata Farhan menjadi tajam setajam pisau yang sudah diasah. Farhan merasa bahwa kasus penculikan ini ada kaitannya dengan Pondok Pesantren Al Muttaqin.


" Apakah korban nya para santri Ponpes Al Muttaqin?", tanya Farhan dengan wajah serius.


Setelah mendengar pertanyaan dari Farhan si bapak terdiam sejenak lalu menghela nafas,,,


"Huff,,, benar mas,,, korbannya adalah para santri Ponpes Al Muttaqin", jawab si bapak.


" Kurang ajar", batin Farhan mulai marah.


...****************...


...****************...


...****************...


"Assalamu'alaikum bapak!! "


Saat Farhan dan si bapak penjual sedang mengobrol tiba tiba ada yang mengucapkan salam dan menyapa si bapak tersebut.


"Wa'alaikumussalam,,, eh kalian,,, kenapa kalian kesini?", jawab salam bapak sekaligus bertanya kepada beberapa akhwat bercadar yang mengucapkan salam kepadanya itu.


" Yaa kita kesini mau beli es dawet lah bapak,,, masa mau beli sayur? ", ucap salah seorang akhwat bercadar itu.


" I iya bapak tahu kalian mau beli dawet,,, tapi kenapa nggak titip ke salah satu Ustadz aja,,, bahaya lo kalau kalian keluar gini", ucap si bapak khawatir.


Karena kasus penculikan itu, para santri bahkan para warga melarang anak anak untuk keluar rumah, mereka tidak mau hal buruk itu terjadi kepada mereka.


Tapi berani sekali para akhwat itu keluar dan membeli es dawet dengan santainya, apakah mereka tidak takut diculik oleh penculik?.


"Nggak apa apa kok pak,,, kita kan rame rame kesini nya,,, jadi nggak takut lah,,, kita juga akan langsung balik ke Pondok setelah beli es dawet.


Si bapak pun hanya menghela nafas, ia segera membuatkan es dawet untuk para akhwat bercadar tersebut supaya mereka lekas balik ke Pondok, si bapak juga tidak mau terjadi hal buruk kepada para akhwat itu.

__ADS_1


......................


......................


Para akhwat itupun duduk menunggu ditempat yang sudah ada, dan mereka baru menyadari kehadiran dari sosok pemuda bersorban yang sedang meminum es dawet buatan si bapak.


Mereka tidak bisa melihat wajah Farhan karena Farhan duduk membelakangi mereka, Farhan juga tidak melirik sedikit pun kepada para santri itu, ia hanya ingin minum es dawet dengan tenang.


...****************...


Karena membuat es cukup banyak untuk 6 orang santri itu, si bapak baru selesai membuat semuanya dan hendak membungkus nya, Farhan juga terlihat sudah menghabiskan es miliknya itu.


"Ini pak uangnya", ucap salah seorang santri membayar es tersebut.


" Terima kasih,,, sebaiknya kalian cepat pulang ke Pondok", ucap si bapak masih khawatir.


"Siap bapak " ucap para akhwat itu bersamaan.


...****************...


...****************...


Baru saja para santri itu keluar dari warung, tiba tiba mereka masuk kembali dengan berlari dan wajah mereka nampak ketakutan.


"Ke kenapa kalian balik lagi?", tanya si bapak ikut panik melihat wajah dibalik cadar para akhwat itu sangat pucat.


" Bapak "


"Pak,,, a ada,,, ada mobil penculik di ujung sana"


"I iya pak,,, to tolong anter kita pak,,, tolong"


Para akhwat itu ketakutan karena mereka melihat mobil penculik yang digunakan para penculik itu membawa para korbannya. Mereka tidak berani keluar karena takut dibawa oleh para penculik itu.


" Tunggu,,, bapak ambil kembaliannya ", ucap si bapak melihat uang Farhan sangat banyak.


" Nggak usah,,, itu untuk bapak,,, itu rezeki bapak,,, ambil ", ucap Farhan.


" Be beneran,,, Alhamdulillah Ya Allah,,, terima kasih banyak", ucap si bapak terharu.


...----------------...


...----------------...


"Jika kalian ingin kembali ke Pondok,,, bareng saya saja. Kebetulan saya juga mau ke Pondok", ucap Farhan tanpa menoleh sedikitpun kepada para akhwat itu.


" A apa? "


"Pondok? "


"Pondok Pesantren Al Muttaqin?"


Para santri itu terkejut karena Farhan ingin mengantarkan mereka kembali ke Pondok karena Farhan juga ingin pergi kesana.


"Memang nya kalian mondok dimana lagi? ", Farhan malah bertanya balik kepada para akhwat itu dengan greget, Pondok Pesantren mana lagi yang ada di desa itu?.


Mereka langsung terdiam dan menunduk karena ditatap oleh Farhan dengan tajam, si bapak yang melihat itu hanya tersenyum dan menggeleng kepala.


"Kalian ikutlah dengan Ustadz muda ini,,, kalian pasti aman", ucap si bapak.


Para santri itu terkejut karena si bapak memanggil pemuda bersorban itu dengan sebutan 'Ustadz', mereka belum pernah melihat Ustadz semuda itu di Pondok Pesantren Al Muttaqin.


Si bapak memanggil Farhan dengan sebutan 'Ustadz' supaya para akhwat itu mau ikut dengan Farhan kembali ke Pondok Pesantren, bapak yakin jika Farhan adalah orang baik yang sedang ada urusan di Pondok Pesantren Al Muttaqin.


"I iya pak", jawab para akhwat tersebut.

__ADS_1


" Kalian jalan duluan,,, saya akan jaga dari belakang ", ucap Farhan dengan aura dingin. Dan auranya itu membuat para akhwat bercadar itu menjadi takut, lalu mereka bergegas berjalan duluan.


" Mari pak,,, Assalamu'alaikum ", Farhan pun berpamitan kepada si bapak lalu berjalan pergi.


" Wa'alaikumussalam Ustadz ", jawab si bapak dengan ramah.


...****************...


...****************...


...****************...


Farhan pun berjalan dibelakang para akhwat bercadar dengan jarak tertentu, bahkan Farhan tidak mendengar pembicaraan para akhwat tersebut dengan suara pelan, mereka sedang membicarakan Farhan, bagaimana ada Ustadz semuda itu di Pondok mereka.


Walaupun Farhan bisa mendengar dengan jarak beribu ribu mil pun dengan ilmu yang ia miliki, jika ia tidak mau mendengar maka ia tidak akan mendengarkan pembicaraan para akhwat tersebut.


Dan saat ini Farhan hanya mendengarkan suara yang lebih penting dari pembicaraan para akhwat. Jauh dibelakang nya, Farhan mendengar suara mesin mobil yang melaju perlahan, Farhan tahu bahwa itu adalah mobil penculik yang dikatakan oleh para akhwat bercadar itu.


Ekpresi Farhan tetap tanpa ekspresi, ia semakin dingin dan tatapan matanya semakin tajam.


...****************...


...****************...


Sudah lama mobil itu mengikuti Farhan dan para santri itu, dan tak lama kemudian mobil itu tiba tiba menancap gas dan melaju kencang ke arah para akhwat, mereka berencana menabrak Farhan dan menculik para santri itu.


Mobil itu terus melaju hingga mesin mobilnya terdengar juga oleh para akhwat bercadar itu, mereka mau tidak mau pun akhirnya menoleh dan melihat kebelakang.


Mereka sangat terkejut karena ada mobil yang hendak menabrak Farhan, dan seperti nya mereka tidak ada niat untuk berhenti.


"Ustadz,,,, awaaass!! "


Para akhwat pun mulai panik dan berteriak ke arah Farhan.


Saat jarak Farhan dan mobil itu sudah sangat dekat, tiba tiba....


*Boommm!!! "


Para akhwat yang mengira Farhan telah tertabrak oleh mobil tersebut langsung menutup mata mereka.


...****************...


...****************...


...****************...


"Jadi kalian para bajing*n yang berani menculik para adik adik ku,,, tidak bisa dimaafkan", ucap Farhan marah dan langsung mendendang mobil itu hingga terguling.


Sebelumnya Farhan telah menghentikan mobil penculik itu hanya dengan telapak tangan nya saja, itu sudah membuat orang yang ada didalam mobil ketakutan tak percaya, mereka mengira bahwa Farhan bukanlah manusia, mana ada manusia yang dapat menghentikan mobil yang melaju kencang hanya dengan telapak tangan saja?.


Para santri yang menutup mata juga mendengar suara Farhan, mereka satu persatu membuka mata dan berapa terkejut nya mereka saat melihat mobil yang hendak menabrak Farhan tadi sudah terguling jauh, bahkan Farhan baik baik saja.


"Kalian balik lah ke Pondok terlebih dahulu", ucap Farhan tanpa menoleh ke arah para akhwat.


" Ta tapi Ustadz,,, "


"Balik", saat salah seorang akhwat ingin berbicara Farhan sudah membentak dengan suara keras hingga membuat para akhwat itu ketakutan hingga ingin menangis.


Kali ini sifat Farhan yang dulu benar benar telah kembali,,, menjadi sosok yang dingin tanpa perasaan, dan juga kejam.


"Ba baik Ustadz,,, kita akan cari bantuan untuk Ustadz,,, Assalamu'alaikum", mereka pun segera pergi dari situ.


" Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh ", jawab salam Farhan.


Farhan merasa lucu saat akhwat itu ingin mencari bantuan untuk dirinya, Farhan tidak butuh bantuan apapun, sebaliknya para penculik itulah yang seharusnya mendapatkan bantuan.

__ADS_1


__ADS_2