
Vivi sudah ada di ruang rawat yang di khususkan untuk keluarga Papah,jadi ruangan ini luas dan juga nyaman.
Vivi terus saja masih merasa mulas,Akbar selalu menemaninya karena Akbar selalu membantu mengusap pinggang Vivi,Akbar juga membantu Vivi mengusap keringat yang selalu ada di kening Vivi.
"Mah,,,kenapa lama banget sih,,Kasihan Vivi Mah,,"Akbar seperti anak kecil yang merengek,karena sudah kasihan melihat Vivi.
"Sabar Bang,,emang begini,orang melahirkan normal itu ada prosesnya,beda kalau mau oprasi sesar,tinggal tiduran perut di sobek dan bayinya di ambil,,"Tiya yang mendengarkan penjelasan Mamah justru tersenyum karena Mamah kasih penjelasanya gimana gitu.
"Kok serem sih perutnya di sobek Mah,Vivi untung aja ngga di sesar,"Vivi yang sedang menahan sakit pun sampai tertawa melihat Akbar yang ketakutan dengar operasi sesar.
Vivi terus mengeluarkan air,Mamah lalu menyuruh Vivi untuk tiduran ,mau di lihat air ketubannya.
"Pah,,air ketubannya tinggal sedikit,"mamah memberi tau ke papah yang sedang duduk di sofa.
"Bahaya ini,,Vivi operasi sesar aja,takut anak Vivi kenapa kenapa,"Kata Vivi.
"Sayang,,ngga,,jangan operasi,,perutmu nanti di belek,,jangan jangan itu bahaya,"Abang ketakutan.
"Bang,,kalau di biarkan kaya gini malah akan membahayakan Vivi dan anak Abang,sudah diamlah,dan Abang banyakin doa,Abang boleh lihat prosesnya,"Papah yang bicara,papah langsung menelfon seorang untuk menyiapkan ruang operasi.
"Abang ngga usah takut,Mamah sama papah pasti bisa,Abang udah ngga mau lihat kak Vivi sakit kan,jadi mendingan operasi biar bayinya cepat keluar,"kata Tiya.
"Mas,,kamu ngga usah takut gitu,Vivi yang mau lahiran juga ngga takut ,malah mas yang hanya lihat ketakutan,Vivi hanya minta doain supaya orasinya lancar,biar kita bisa cepat ketemu anak kita"Akbar mengangguk.
"Iya sayang,Mas akan selalu berdoa,,agar operasinya lancar,,dan kita akan bertemu anak kita,"
__ADS_1
Papah dan Mamah lalu menuju ruang operasi karena harus bersiap,Tiya menemani Vivi dulu di ruangannya ,karena nanti saat ruang operasi sudah siap,Tiya bisa membawa Vivi ke ruang operasi.
Hp Tiya bunyi ,ternyata panggilan dari Torik,karena sudah jam pulang kerja jadi Torik menjemput,dan Torik belum tau kalau Vivi mau lahiran.
"Ya Halo Mas,,"
"Sayang Mas udah ada Di parkiran,"
"Mas,,kita jangan pulang dulu yah,pulangnya nanti,Mas masuk aja,soalnya kak Vivi lahiran,"
"Apa,,serius Yang,,kayanya tadi siang biasa aja,"
"Serius,,udah Mas sini masuk ,,"
"Iya,,Mas akan masuk,,"
"Ayo kak kita keruang operasi,,"ajak Tiya ke Vivi.
"Iya,,"Vivi tiduran dan tangan Akbar tetap ngga mau lepas dari tangan Vivi.
Suster membantu mendorong Bankar,untuk menuju ruang operasi,saat sedang menuju ruang operasi,bertemu Torik.
"Mas,,"Tiya langsung cium tangan.
"Kak,,Abang,,"Torik menyapa Akbar dan Vivi,keduanya tersenyum.
__ADS_1
Torik ikut menuju ruang operasi,,"Abang mau ikut masuk apa di sini aja,,"
"Kalau masuk boleh,,"
"Boleh untuk Abang,,"
"Torik ngga kan,,"untung aja Suster sudah membawa Vivi masuk ke ruang operasi saat Akbar dan Tiya berbicara,karena Akbar bingung mau masuk apa ngga.
"Ngga Bang,,Mas Torik menunggu di luar,, Abang gimana mau masuk ngga,,?"
"Kamu masuk ngga Kak,,?"
"Kaka masuk,,,"
"Ya udah Sanah masuk,Abang ngga deh takut ganggu,,tolong bilang Papah untuk jangan melihat bayinya yah,Papah cukup lihat biar mamah yang melakukan,,"Tiya dan Torik tersenyum,saat genting begini aja Abang masih memikirkan hal itu.
"Bilang aja sendiri sama Papah Bang,,"Tiya meledek.
"Kaka,,,"
"Iya,,,,"sambil tersenyum .
Dalam hati Tiya orang operasi sesar kan di perut ,Abang masih ngga ngebolehin papah buat lihat juga.
Abang duduk di luar bersama Torik, Akbar selalu berdoa di dalam hatinya untuk kelancaran Vivi untuk lahiran.
__ADS_1
jangan lupa like komentar dan votenya terimakasih...