
Pagi harinya Vivi melihat Jihan dengan wajah lesu nya langsung bertanya,tapi saat mau bertanya Suster memangil karena ada pasien yang datang dengan luka yang parah di tanganya.
Vivi langsung membersihkan darah dan melihat seberapa parah lukanya,sebelumnya Vivi sudah memakai sarung tangan.
"Sus ini lukanya cukup dalam,kita harus menjahitnya,"kata Vivi.
"Iya Dok,,saya akan siapkan,,"
"Dok saya ngga mau tangan saya di jahit,saya takut di suntik apa lagi di jahit tangan saya,"kata si bapak pasien.
"Tapi ini lukanya dalam pak,kalau ngga di jahit takutnya makin parah dan infeksi nantinya,saya akan kasih suntikan bius agar saat di jahit lukanya Bapak tidak akan sakit yah,"
Tadinya si bapa tidak mau saja,tapi karena istri dan anaknya ikut membujuknya,akhirnya si bapak pun mau untuk di jahit.
Vivi memberi suntikan ,setelah si bapak di cubit lukanya ngga merasa sakit Vivi pun mulai menjahit lukanya.
Akhirnya Vivi sudah selesai,dan si bapak di beri obat ,lalu di bawa istri dan anaknya pulang,setelah si bapak istirahat sekitar setengah jam.
Vivi lalu membersihkan tanganya ,setelah itu Vivi lanjut memeriksa pasien bersama Jihan.
"Kamu kenapasih Ji,sepertinya kamu lagi kurang sehat,apa lagi ada masalah,?"tanya Vivi saat sudah selesai memeriksa pasien dan sekarang sudah ada di ruang kerja Vivi.
__ADS_1
"Aku tuh lagi bingung Vi,semalam Papah ku telfon dan bilang kalau Papah dan Om Agung sudah membicarakan perjodohan Antara Aku dan Abang,"
Deg,,,
Vivi langsung merasakan ada yang menghantam dadanya saat mendengar perkataan Jihan.
"Tapi ngga tau kenapa kok Aku merasa biasa,ngga merasa senang gitu,padahal Aku kan dari dulu ingin sekali bisa menikah dengan Abang ,kalau Papah dan Om Agung jadi dan serius menjodohkan Aku dengan Abang,Aku harus gimana yah,,"
"Yang membuatmu sekarang jadi tidak tertarik sama Abang lagi apa,apa karena Abang terlalu cuek atau sudah ada orang lain yang membuatmu nyaman,?"Jihan diam sambil berfikir.
"Mungkin benar karena Abang selalu cuek padaku dan yang selalu Aku ingat Abang bicara hanya menganggap ku sebagai teman,itu yang membuatku merasa biasa aja saat dengar papah bicara tentang perjodohan ku dengan Abang,tentang orang lain yang bisa buatku nyaman belum ada,tapi Aku lagi sering telfonan dengan Frengki,dia orangnya menyenangkan untuk di ajak ngobrol,"Vivi tersenyum mendengarnya.
Mereka berhenti mengobrol saat Suster datang ,dan memberi tau ke Dinda ada Pasien rawat yang baru datang,Vivi dan Jihan langsung keluar dari ruanganya dan langsung ke pasien yang baru datang.
"Malam Mas,Mas sedang apa,apa lagi sibuk,?"pesan yang di kirim Vivi pada Akbar.
Vivi menunggu balasan dari Akbar tapi Akbar belum juga membalas nya.
Vivi lalu tiduran,saat baru tiduran hp Vivi bunyi tanda pangilan,saat Vivi lihat ternyata bukan dari Akbar tapi dari Frengki.
"Halo Vi,,apa Aku ganggu,?"
__ADS_1
"Iya halo,ngga kok saya lagi tiduran,"
"Oh,,Aku pengin ngobrol tentang Jihan padamu,apa kamu mau dengar curhatan ku,"
"Boleh,,,mau cerita apa,,?"
"Aku seperti nya suka dengan Jihan,,"Vivi tersenyum.
"Bukanya kamu dari pertama lihat Jihan juga sudah suka yah Freng,,?"
"Iya itu kan hanya sebatas suka saja,kalau sekarang Aku rasanya beda,mengobrol denganya rasanya asik dan nyambung,Aku merasa sudah cocok denganya,,"
"Syukurlah Kalau kamu sudah bisa menemukan orang yang bisa membuatmu nyaman,Saya ikut senang,,"
"Kamu bantu aku yah Vi buat dapatin Jihan,"
"Pasti Saya bantu kalau bisa,,"saat Vivi dan Frengki sedang mengobrol,ada telfon masuk ,saat di lihat ternyata Akbar yang menelfon.
"Freng,,,udah dulu yah,nanti kita sambung lagi,Mas Akbar menelfon,,"
"Oh iya udah,,"Telfon pun mati,dan Vivi langsung mengangkat pangilan dari Akbar.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya trimakasih...