Pengacara Tampan Milik Dokter Cantik

Pengacara Tampan Milik Dokter Cantik
Seperti Mimpi


__ADS_3

Frengki membawa mobilnya cukup cepat,karena jalanan sedang sepi,biasa satu jam perjalanan dari Vila ke klinik,ini hanya 35 menit saja dah sampai.


Jihan dan Vivi tidak tau kalau Frengki akan datang,sampainya di klinik Frengki memarkirkan mobilnya.


"Semoga Vivi mau ikut dan tidak banyak pertanyaan Ya Tuhan,tapi gimana dengan Jihan nanti yah,semoga dia ngga buat ribed dan ngga pengin ikut,,kalau Aku cuekin kasihan,tapi kalau aku baikin takutnya pengin ikut,,aduhh,,,"sambil bicara Frengki memarkirkan mobilnya.


Setelah mobil berhenti,Frengki keluar dan tidak lupa menarik nafasnya agar lebih rileks.


Jam sudah menujukan pukul 3 sore,itu berarti Vivi masih jam tugas,Frengki masuk ke dalam ruangan Vivi setelah mengetuk pintu.


Saat Frengki buka pintu ruangan Vivi ,ternyata ada Jihan dan suster.


"Permisi,,maaf ganggu,"kata Frengki dan ketiganya menengok.


"Eh,,Freng,,tumben datang ngga ngabarin dulu,sinih masuk,apa mau ketemu Jihan yah,"kata Vivi sambil senyum,Jihan yang melihat Fengki tersenyum tipis.


Suster lalu keluar karena sudah ngga ada yang mau di bicarakan lagi,Frengki lalu duduk di bangku samping Jihan yang duduk juga.


"Aku ada perlu sama kamu Vi,,Aku mau minta tolong nih,,"bicara Frengki biasa aja tapi hatinya cukup deg degan karena mau berbohong.


"Minta tolong apa,,?"


"Ini,,Mba di Vila sakit,Aku mau minta tolong sama kamu buat periksa in,,"


"Emang di dekat Vila kamu ngga ada klinik atau rumah sakit,,dan kamu kan dokter,masa ngga bisa kamu periksa dan obatin,"


"Ngga ada,,makanya Aku kesini,,sakitnya Mbaku tuh di bagian dada,dia kaya kena cacar gitu lah,,dia nya ngga mau Aku yang periksa,kalau Mau sih sudah Aku periksakan,,"


"Oh gitu,,kenapa ngga kamu kasih salep sih Freng,,"

__ADS_1


"Udah deh kamu jangan banyak bicara,ayo ikut nanti Aku antar pulang lagi,kasihan mba ku di rumah,,"


"Ya udah saya siap siap dulu,"Vivi lalu menyiapkan alat alat yang perlu di bawa.


"Aku ikut boleh ngga,,"


"Jangan,,Mba ku kena cacar,nanti kamu tertular gimana,nanti malam juga Vivi aku antar pulang kok,"


"Tapi Aku pengin ikut,Aku pengin jalan-jalan sama lihat vila kamu,nanti Aku di mobil aja deh,dan ngga akan masuk ke dalam,,"


"Lain kali aja aku ajak ke Vila ku yah,jangan hari ini,,Aku takut kulitmu dan wajahmu yang cantik itu tertular penyakit cacar,itu penyakit seram loh dan cepat sekali menular,kamu kalau tertular bisa korengan kulitnya ,jadi jelek kamu mau,,"Jihan diam sesaat,lalu mengeleng kan kepala,Frengki dalam hatinya tersenyum senang karena berhasil membohongi Jihan.


"Saya dah siap ,yuk berangkat,,"


"Ayo,,,"


Vivi lalu bilang ke suster mau pergi untuk memeriksa pasien,dan kalau ada yang darurat Vivi berpesan untuk menghubunginya.


"Vi,,Jihan suka tanya tanya tentang Aku ngga sih,menurut kamu Jihan tuh suka sama Aku ngga sih,,?"


"Ya dulu sih sering,tapi sudah seminggu ini jihan sering diam sama Saya,"


"Kenapa memangnya,,kok bisa gitu,,"


"Saya aja ngga tau,,"


Keduanya mengobrol sampai akhirnya sampai di Vila Frengki.


Keduanya langsung turun,dan Frengki membawa kan tas yang isinya alat pemeriksaan.

__ADS_1


Akbar yang mendengar suara mobil langsung bersiap,Akbar tidak memegang bunga atau hadiah,karena menurutnya dirinya adalah hadiah terindah untuk Vivi.


"Feng,,ini gelap banget sih,nyalain dulu dong lampunya,"saat pintu sudah di buka.


"Iya,Aku akan nyalakan,ayo masuk ke dalam dulu,,"Vivi mengikuti Frengki masuk ke dalam,"kamu duduklah dulu,Aku mau nyalain lampu,"


Vivi lalu duduk,Frengki berjalan ke arah saklar,tapi Frengki melihat kode dari Akbar untuk pergi,Frengki menurut dengan rasa kesal berjalan ke kamarnya.


Dalam keadaan gelap,Akbar berjalan menuju saklar,lalu lampu pun menyala.


Vivi langsung bisa melihat orang yang selama ini ia rindukan,Vivi terus menatap ke Akbar tanpa berkedip karena Vivi takut ini hanya ilusi.


"Kenapa Aku melihat Mas Akbar,ya Tuhan apa Aku sangat merindukannya sampai sampai Aku melihat nya,"Akbar tersenyum mendengar perkataan Vivi,karena Akbar berjalan mendekat ke Vivi sambil tersenyum.


"Hai sayang,,"sambil tangan Akbar mengusap pipi Vivi,Vivi masih saja menatap ke Akbar.


"Ya Tuhan,,kenapa mimpi ini seperti nyata,"


"Apa menurutmu ini mimpi,,"Akbar mengambil tangan Vivi ,Akbar lalu mencium tangan Vivi setelah itu tangan Vivi di usapkan ke pipinya.


"Mas,,apa benar ini kamu Mas,,"Vivi sampai mengeluarkan air mata.


"Iya sayang ini Aku,Aku sudah pulang,,"sambil mengusap air mata di pipi Vivi.


Keduanya tersenyum bahagia,Akbar langsung memeluk Vivi dengan eratnya,Vivi pun membalas pelukan Akbar.


Akbar lalu melepaskan pelukanya,dan membawa Vivi masuk ke kamar.


mereka mau ngapain yah di kamar,,lanjut besok...

__ADS_1


jangan lupa like komen dan votenya trimakasih...


__ADS_2