Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#10


__ADS_3

Aaron bisa melihat dengan jelas barang belanjaan Naura. "Ini saja yang kamu beli?" Tanyanya dengan menaikkan alisnya.


Naura sudah melepas sepatunya dan berganti memakai sandal rumah miliknya lalu mengambil barang belanjaannya. "Harga sayuran sangat mahal. Aku ini orang miskin!" Jawab Naura dengan datar.


Aaron memperhatikan pakaian yang dipakai Naura, sepertinya benar-benar sangat murah.


Istrinya ini, hidupnya benar-benar sangat menderita.


Naura sama sekali tidak peduli apa yang Aaron pikirkan tentangnya.


Setelah mengambil belanjaannya, dia segera membawanya pergi kedapur.


...


Kurang lebih satu jam kemudian, Naura sudah selesai memasak.


Aaron meletakkan ponselnya dan melihat kearah Naura. Tatapannya jatuh pada masakan yang dibuat Naura.


Masakan itu sepertinya terlihat enak dan sangat cocok untuk orang yang sedang sakit sepertinya.


Aaron sedikit menyunggingkan senyumnya.


Naura mengambilkan nasi dan meletakkan didepan dia. Kemudian tidak peduli lagi dengannya.


Sesaat kemudian, Naura mendapati wajah 'Samuel' berubah terlihat menakutkan setelah memakan beberapa suap masakan buatannya.


Seketika, jantung Naura berdegup kencang merasa tegang.


Ada apa dengannya?


Dia merasa masakan buatannya bisa membuat seorang Tuan Muda dari keluarga Ardinata tersinggung.


Aaron meletakkan sumpitnya lalu bangkit berdiri dan pergi keluar dengan langkah kaki yang mantap, tidak ada keraguan sedikitpun.


Naura hanya memperhatikannya saja tidak mengikutinya keluar.

__ADS_1


Setelah keluar, Aaron merasa begitu kesal. Dia mencari rokok disakunya tapi dia baru teringat kalau tidak membawa rokok.


Aaron merasa sangat kesal karena rasa masakan yang dibuat Naura membuatnya teringat dengan ibunya.


Ibunya yang begitu lembut. Meskipun dilahirkan dikeluarga yang terpandang, sikapnya sangat ramah dan lembut, tidak arrogant. Ibunya suka sekali memasak terutama membuat sup.


Tapi tiba-tiba, muncul bayangan dikepalanya. Disebuah ruangan bawah tanah yang lembab itu.....


Aaron kemudian memgepalkan tangannya dan menghantamkan ketembok hingga menimbulkan suara yang keras.


Naura yang didalam sedang duduk dan makan. Mendengar suara keras dari luar rumahnya awalnya merasa ragu, tapi sesaat kemudian dia meletakkan mangkuk dan sumpitnya lalu berjalan keluar.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanyanya saat keluar dan sekilas melihat 'Samuel'.


Kemudian tatapannya terpaku pada tangan 'Samuel'. Naura terbelalak terkejut. "Sam, kamu....?"


Naura tidak mencampur masakannya dengan sesuatu yang aneh-aneh. Kenapa bisa membuat 'Samuel' tiba-tiba pergi keluar dan melukai dirinya sendiri seperti ini?


Aaron sama sekali tidak mempedulikan Naura. Dia melangkahkan kakinya dan ingin pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar dan berdering. Dia mengambilnya melihat sekilas nomor yang tidak dikenal sedang memanggilnya kemudian dia langsung menutup panggilan teleponnya.


Naura hanya diam memperhatikan 'Samuel' yang saat ini terlihat sedikit menakutkan. Dia melangkah mundur dan setelah tangannya memegang gagang pintu. Dia merasa ragu, apa dia akan meninggalkan laki-laki ini sendirian diluar?


Aaron tidak begitu memperhatikan Naura yang sedang merasa bimbang karena ponselnya kembali berdering dan kali ini bukan nomor yang tidak dikenal yang memanggilnya melainkan tertera nama 'Ivan Kasogi' memanggil.


Aaron mengangkat panggilan telepon tersebut tanpa ragu dan tidak mempermasalahkan dengan keberadaan Naura disana.


"Ada urusan apa dia mencariku?" Tanya Aaron tanpa basa basi.


"Dia memintamu membawa istrimu pulang kerumah malam ini." Jawab Ivan dari seberang telepon.


"He!" Aaron tersenyum sinis. "Lain kali, kalau dia menelponmu, kamu boleh tidak mempedulikannya." Ucap Aaron dengan dingin.


"Baik. Lagi pula bukan dia yang memberiku gaji." Jawab Ivan menyetujui perkataan Aaron.


Aaron menutup teleponnya dan mengangkat wajahnya. Dia melihat Naura masih berdiri diam didepan pintu. "Kamu menguping saat aku menelpon?"

__ADS_1


"Tidak." Jawab Naura sambil menggelengkan kepalanya.


Melihat 'Samuel' yang seperti ini, akan lebih baik untuk tidak mengganggunya.


"Kalau tidak menguping, kenapa masih belum masuk?" Tanya Aaron dengan menatap lekat Naura lalu melangkah mendekatinya. "Atau, kamu sudah berubah pikiran mau meninggalkan kakak sepupuku dan ikut pergi bersamaku?" Lanjutnya dengan lembut.


Seketika Naura langsung berbalik, membuka pintu, masuk kedalam tanpa ragu sedikitpun dan menutupnya kembali.


Dua hari ini, Aaron tinggal disini bersama Naura karena dia ingin mencari orang yang sedang dia cari kemungkinan ada disini.


Ternyata orang yang dia cari tidak ada disini. Dia juga tidak ada kepentingan lagi untuk tinggal disini.


Aaron merasa kalau istrinya ini cukup pintar dan memiliki hati yang baik. Untuk saat ini, Naura juga tidak menjadi penghalang baginya. Maka dari itu, sementara ini dia berencana untuk tidak mempedulikan Naura dulu. Dia pun berbalik dan pergi.


Aaron melihat Ivan berdiri diujung gang menunggunya.


Begitu melihat Aaron, Ivan melangkah dengan cepat menghampirinya. "Bos, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ivan dengan wajah penuh kekhawatiran.


Aaron langsung menangkis tangan Ivan yang ingin memapahnya. "Aku baik-baik saja."


Ivan segera membuka pintu mobil untuk Aaron. Aaron masuk kedalam mobil, duduk dan menyandarkan punggung dan kepalanya. "Van, apa dua hari ini dia terus menelponmu?"


Ivan tau siapa yang dimaksud oleh Aaron. "Tuan Faisal bilang, kalau kamu memblokir nomor dia. Lalu dia menelponmu memakai nomor lain, tapi kamu tidak angkat. Jadi, terpaksa dia menelpon aku." Jawab Ivan.


"Oh." Ucap Aaron tanpa ekspresi.


Ini juga bukan yang pertama kalinya.


"Sebelum kamu datang tadi, Tuan Faisan juga menelpon. Dia bilang kalau kamu tidak membawa Nyonya Muda pulang kerumah malam ini, dia yang akan menelpo sendiri ke Nyonya Muda." Ucap Ivan memberitau Aaron.


Aaron terdiam sesaat dan berpikiran kalau ayahnya ini benar-benar baik. Ingin menelpon Naura dan memintanya datang kerumah malam ini?


"Kalau begitu terserah dia." Ucap Aaron setelah terdiam sesaat.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2