
Malamnya sepulang kerja, 'Samuel' tidak datang menjemputnya, tapi Ivan yang datang untuk menjemputnya.
Hujan sudah mulai turun sedari senja dan langit pun sudah gelap.
"Bukankah aku pernah mengatakan untuk tidak perlu mengantar jemput aku kerja?" Ucap Naura pada Ivan setelah duduk di dalam mobil.
"Adik ipar yang memintaku untuk menjemput Nyonya. Dia bilang, akan sulit mencari taksi kalau hujan." Jawab Ivan dengan sedikit cemas merasa takut untuk menjemput Nyonya. Takut salah ucap didepan Nyonya dan membeberkan sesuatu tentang Tuan Muda yang akan membuatnya tidak mudah berhadapan dengan Tuan Muda nantinya.
"Maksudmu, Samuel?" Tanya Naura kembali dengan curiga.
Ivan termenung sejenak tidak langsung menjawab.
Apakah mungkin sebelumnya 'Samuel' mengatakan ingin menjemputnya malam ini karena dia tau kalau akan turun hujan?
"Iya." Jawab Ivan mengiyakan setelah meresapi pertanyaan dari Naura.
Naura, sebenernya memiliki hati yang cukup lembut. Teringat siang tadi saat dia memberitahukan keberadaan 'Samuel' kepada Marsha, dia pun bertanya pada Ivan dengan perasaan bersalah. "Lalu, dimana dia?"
"Adik ipar mengatakan kalau dia ada urusan dan pergi ke Star Light. Dia juga mengakatakan tidak akan makan malam di rumah." Jawab Ivan. Kalau saja tidak ada urusan yang harus diurus oleh Tuan Muda, sepertinya Tuan Muda yang akan datang sendiri menjemput Nyonya Muda.
Seketika hati Naura pun tertohok.
Tidak mungkin bisa sampai sekebetulan itu bertemu dengan Marsha kan?
Ivan yang melihat wajah cemas Naura pun mengira kalau Naura sedang mengkhawatirkan Tuan Muda. Ivan pun mencoba menghiburnya. "Tuan Muda hanya pergi untuk mengurus urusan kantor, dia tidak akan pulang terlalu larut."
Naura yang hatinya sedang tidak fokus dan hanya mengangguk. Bahkan, dia tidak memperhatikan panggilan Ivan terhadap 'Samuel'.
Sedangkan Ivan, setelah tersadar dengan ucapannya barusan, sekujur tubuhnya langsung berkeringat dingin.
Sesampainya di rumah, rumah itu dalam keadaan kosong melompong.
Begitu Naura masuk, dia secara reflek melihat sekeliling dalam rumah walaupun dia sendiri tidak tau apa yang dia cari.
Dengan perasaan sedikit kesal, Naura naik ke atas dan mengganti pakaiannya kemudian kembali turun masuk kedapur untuk memasak.
'Samuel' tidak ada di rumah. Keberadaan Aaron pun menjadi misteri layaknya pria yang tak kasat mata. Jadi, Naura hanya memasak untuk dirinya sendiri.
Saat makan, entah darimana tiba-tiba Naura mendapat firasat yang tidak baik. Dia pun menelepon Merlin berniat ingin mengintai apakah benar kalau Marsha pergi ke Star Light?
"Bu, ibu sudah makan belum?" Naura sebisa mungkin menyembunyikan ketidaksabaran dalam nada suaranya.
Suara Merlin terdengar sedikit terkejut. "Belum. Ini sedang bersiap makan sambil menunggu ayahmu dan juga kakakmu masih diruang kerja membicarakan sesuatu."
"Oh, begitu ya? Aku hanya bertanya saja. Kalau begitu, aku makan dulu. Daah." Naura menutup telepon kemudian menghela nafas lega.
...
Walaupun Merlin merasa kalau telepon dari Naura barusan sedikit mendadak, namun perasaannya tentu saja menjadi senang begitu terpikir bahwa Naura masih begitu memperhatikannya sampai sekarang.
Sesaat kemudian, Fajar dan Marsha terlihat sedang berjalan turun dari lantai atas.
Merlin pun langsung menghampiri mereka. "Ayo cepat makan, sebelum sayurnya dingin."
__ADS_1
Marsha melihatnya sekilas. "Kau tidak makan, aku mau pergi."
Merlin pun baru menyadari bahwa Marsha sudah mengganti pakaiannya dan juga merias wajahnya dengan elegan.
"Memangnya kamu mau pergi ke mana? Ini sudah malam."
"Kamu tidak usah peduli. Tentu saja aku pergi keluar untuk mengurus hal yang penting!" Ucap Marsha sambil memicingkan matanya sekilas pada Merlin, kemudian mengeluarkan sebuah cermin dari dalam tasnya untuk berkaca dan dia merasa puas dengan riasan wajahnya.
Dia tidak percaya kalau 'Samuel' mampu menolak untuk mendapatkan dirinya yang luar biasa seksi dan mempesona ini.
...
Di Star Light.
Aaron keluar dari private room-nya lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ivan.
"Kamu sudah menjemputnya?"
"Nyonya Muda sudah dijemput dan pulang ke rumah dengan selamat." Jawab Ivan.
"Baiklah." Aaron menutup teleponnya dan berniat ingin pergi ke toilet.
Namun saat dia membalikkan tubuhnya, dia malah ditabrak oleh seorang pelayan yang sedang membawa nasi kari dan kuah dari kari itu tumpah di pakaiannya.
Seketika, sekujur tubuh pelayan itu pun mematung merasa takut. "Maaf, Tuan...maaf..." Ucap pelayan itu dengan gemetar.
Alis Aaron menaut dan terlihat sangat kesal, tapi dia tidak memarahi pelayan itu. Dia membalikkan tubuhnya dan melenggang pergi.
Menjadi seorang Bos yang selalu berada di belakang layar Star Light, Aaron juga memiliki sebuah kamar khusus di sini. Dulu saat belum menikah, terkadang dia harus mengurus beberapa hal sampai larut malam sehingga membuat dia langsung menginap disini.
Di kamarnya sudah tersedia perlengkapan mandi juga pakaian ganti untuknya.
Aaron masuk ke dalam kamar, menanggalkan pakaiannya, membalikkan tubuhnya dan berjalan ke lemari pakaian untuk mencari pakaian ganti.
Sorot matanya jatuh pada sebuah kemeja berwarna navy. Saat Aaron mengulurkan tangan untuk mengambilnya, dia merasa ada seseorang yang mendekat dari belakang. Gerakan tangannya sedikit terhenti.
Aaron dengan cepat menoleh dan sebelah tangannya terjulur untuk mencekik leher orang itu.
"Siapa kamu?!"
Terasa tekstur yang ramping dibawah tangannya, menandakan bahwa siapapun itu adalah seorang wanita.
Aaron menunduk dan terlihatlah wajah yang familiar.
Malam ini Marsha memakai slip dress berpotongan rendah yang membuat nafas tercekat. Riasan diwajahnya tampak mempesona.
Walaupun lehernya dicekik oleh Aaron, namun sekuat mungkin dia menahan diri agar raut wajahnya tidak berubah. Justru dia menatap Aaron dengan lembut. "Tidak taukah Tuan 'Samuel' bahwa semua wanita itu lemah sehingga harus diperlakukan dengan lemah lembut? Begitu tega seperti ini, aku hampir tidak bisa bernafashh....." Ucap Marsha dengan sengaja menambahkan suara ******* manjanya.
Marsha sudah memiliki pengalaman menjadi teman ranjang oleh banyak pria sehingga tentu saja dia juga memiliki kemampuan tersendiri untuk memikat seorang pria.
Akan tetapi, kemampuannya yang dia pakai dalam memikat pria-pria itu, tentu saja tidak berguna terhadap 'Samuel'. Karena detik selanjutnya, 'Samuel' langsung membuangnya keluar dari dalam kamar.
Dengan wajah jijik, 'Samuel' menatapnya. Raut wajahnya pun terlihat suram. "Pergi seperti bagaimana kamu datang!"
__ADS_1
Kali ini, Marsha sudah membulatkan tekad untuk berhasil memikat 'Samuel'. Jadi, tentu saja dia tidak akan menyerah dengan begitu mudahnya.
Dia merambat naik dari atas lantai, masih ingin mendekati 'Samuel'.
Tapi 'Samuel' sudah mengantisipasinya dari awal. Dia langsung menghindar ke samping dan membuat Marsha kembali terjatuh ke lantai.
Aaron mengeluarkan ponselnya dan menghubungi penjaga keamanan. "Di sini ada wanita gila, cepat ke sini dan seret dia keluar!"
Selesai bicara, Aaron langsung menutup pintu kamarnya dan berganti baju secepat kilat.
Marsha tentu saja merasa tidak terima dan tidak senang hati diseret keluar begitu saja. Saat penjaga keamanan datang, dia memberontak sekuat tenaga. "Dia itu pacarku! Lepaskan aku!"
Aaron keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian dan menatap dingin pada penjaga keamanan itu. "Wanita itu masih disini?! Mengurus masalah kecil seperti ini saja tidak becus! Star Light harus mengganti penjaga keamanannya!"
Walaupun penjaga keamanan itu tidak tau bahwa Aaron adalah Bos besar di belakang layar Star Light, namun mereka tau orang yang mampu memiliki kamar di Star Light ini untuk waktu yang begitu panjang, sudah pasti orang kaya dan terhormat.
Tamu berharga seperti Aaron ini boleh memberi saran kepada manajer personalia Star Light dan memecat mereka.
Penjaga keamanan itu pun dengan keras hati langsung menyeret Marsha keluar dan tidak lupa menunduk hormat meminta maaf pada Aaron. "Maaf Tuan, telah membuat Tuan menunggu."
Aaron tidak menggubris. Tapi, baru saja penjaga keamanan itu beranjak pergi, tiba-tiba Aaron kembali memanggil mereka. "Laporkan dia ke polisi! Bilang saja kalau dia melakukan PE-LE-CE-HAN SEK-SU-AL!"
Seketika, penjaga keamanan itu terdiam.
Meraka sudah bekerja belasan tahun di Star Light. Namun, baru kali ini dia mendapati ada tamu seorang pria yang dengan sangat serius mengatakan ada seorang wanita yang melakukan pelecehan seksual terhadapnya.
Terlebih lagi, tamu pria yang terhormat ini mengatakannya penuh dengan masuk akal.
"Baik, aku mengerti." Jawab penjaga keamanan itu.
Marsha sama sekali tidak pernah diusir tanpa dilirik sedikitpun seperti ini. Dengan tidak senang hati dia pun ingin menarik nama Naura bersamanya. "Naura yang memberitahuku kalau kamu akan ada disini malam ini. Dia yang menyuruhku menghentikanmu. Kamu begitu baik kepadanya, tapi dia sedikitpun tidak menganggapmu!"
Penjaga keamanan itu sibuk membungkam mulut Marsha dan segera membawanya pergi.
Aaron memicingkan matanya dengan wajah suramnya. "Naura...." Gumamnya pelan kemudian segera kembali ke private room.
Christian yang melihat Aaron masuk, dia memperhatikan raut wajah Aaron yang terlihat suram pun bertanya. "Ada masalah apa?"
"Orang-orang di asosiasi harusnya diganti." Jawab Aaron dengan dingin.
Pelayan yang menabraknya tadi, sudah pasti dia dibayar oleh Marsha. Sepertinya juga karena Marsha membayarnya dengan banyak uang, wanita itu bisa mengetahui letak kamarnya.
Keistimewaan dari Star Light ini adalah fokusnya pada privasi. Tapi sepertinya sekarang ini, banyak karyawan yang sudah kehilangan profesionalisnya dalam bekerja. Dan sepertinya perlu ada pembersihan untuk mengarahkan mereka kembali ke jalan yang benar.
Setelah acara perjamuan makan malam selesai, Christian melihat Aaron masih duduk diam dikursinya tidak ada niat untuk beranjak pergi.
Bukankah, belakangan ini Aaron selalu terburu-buru pulang ke rumah setelah selesai bekerja? Walaupun ada hal lain yang harus dikerjakan, selesai mengerjakannya, dia akan langsung pulang ke rumah.
"Kenapa kamu masih diam dan tidak pergi?" Tanya Christian merasa sedikit bingung.
"Kamu pergilah. Hari ini aku tidak pulang." Jawab Aaron kemudian bangkit berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung di sandaran kursi dan berjalan keluar.
Christian mencengkeram rambutnya sendiri, mulai menebak-nebak dan bicara pada dirinya sendiri. "Apakah ini artinya kalau mereka sedang bertengkar?"
__ADS_1
...__________...