Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#79


__ADS_3

Musim dingin ditengah malam, datang terlalu cepat. Naura keluar dari gedung Perusahaan Affandi sudah hampir jam delapan dan langit sudah gelap.


Ivan sudah menunggu dari tadi.


"Tidak perlu setiap hari menjemput aku. Aku bisa pulang sendiri naik taksi." Ucap Naura setelah naik kedalam mobil.


Dari dulu Naura tidak pernah merasakan fasilitas antar jemput seperti ini. Walaupun Aaron Daffa berniat baik kepadanya, tapi Naura selalu merasa tidak terbiasa.


"Yang diperintahkan Tuan Muda sudah menjadi tugasku." Ucap Ivan dengan serius.


Sesampainya dirumah, Naura teringat dengan blackcard yang diberikan 'Samuel' kepadanya waktu itu.


Naura menaruh tas dikamarnya, mengambil blackcard itu dan pergi ke ruang kerja Aaron untuk menemuinya.


Saat Aaron berada di rumah, dia hanya menghabiskan waktunya didalam ruang kerja. Entah apa yang dia sibukkan.


Aaron masih saja tidak memperlihatkan wajahnya. Dia duduk membelakanginya. "Ada apa?" Tanyanya dengan suara serak.


"Aku menemukan blackcard di dalam rumah. Aku rasa ini kepunyaan kamu." Naura tidak berani mengatakan kalau blackcard ini pemberian dari 'Samuel' untuknya.


Aaron terdiam sejenak, kemudian bicara kepadanya. "Kalau memang kamu yang menemukannya, kamu simpan saja untuk kamu pakai."


"Tapi, aku dengar dari orang kalau blackcard ini sangat mahal......" Sampai membuat Lucky dan Marsha terkejut, mana mungkin tidak mahal?


"Semahal apapun, tetap harus ada orang yang menggunakannya, itu baru barang yang berguna." Ucap Aaron terdengar tidak bersemangat.


Naura terkejut. Naura merasa apa yang dikatakan Aaron memang ada benarnya. Membuat Naura tidak dapat membantahnya.


Melihat Aaron tidak bicara lagi, Naura berbalik dan pergi keluar kembali ke kamarnya.


Evelyn meneleponnya. Dia mengatakan kalau besok dia akan kembali pulang.


"Kamu pesan tempat, besok kita pergi keluar untuk makan bersama."


Naura menatap blackcard yang ada ditangannya kemudian berkata: "Kalau begitu kita ke Star Light saja."


"Apa kamu telah memenangkan undian sepuluh miliar??" Tanya Evelyn dengan keras.


"Kurang lebih......begitu."


Aaron sendiri tadi yang mengatakan kepadanya, barang semahal apapun harus ada orang yang menggunakannya, baru berguna.

__ADS_1


Jadi, Naura berencana ingin menggunakannya.


...


Karena Evelyn sudah mau kembali, suasana hati Naura seharian ini sangat bagus.


Pekerjaan di kantor cukup banyak. Marsha juga tidak mengganggu dia.


Sebelum jam pulang kerja, Naura menelpon Ivan, mengatakan untuk tidak perlu menjemputnya karena Naura sudah membuat janji untuk makan bersama teman.


Saat keluar dari gedung Perusahaan Affandi, Naura teringat kalau dia harus memasak untuk 'Samuel'. Dia berdiri di trotoar samping jalan, mengeluarkan ponselnya dan menelpon 'Samuel'.


Begitu tersambung, 'Samuel' langsung mengangkat teleponnya.


"Ada apa?"


Tanya 'Samuel' dengan suara sedikit rendah dan saat di telepon terdengar lebih memikat.


Naura sudah terbiasa mendengar suaranya, tapi masih merasa gemetar. "Apa malam ini kamu makan di rumah?" Tanya Naura.


"Kalau tidak?" 'Samuel' tanya balik.


Naura dengan lembut memberi penjelasan kepadanya. "Begini, malam ini aku ada janji makan di luar bersama teman."


"Teman perempuan!" Jawab Naura dengan menggertakkan giginya. "Meskipun aku menyetujui memasak untuk kamu, aku bukan pembantumu! Aku juga butuh teman!"


Tiba-tiba sikap 'Samuel' berubah menjadi jauh lebih lembut kepadanya. "Oh, pergilah."


Aaron langsung menutup teleponnya, mengangkat pandangannya menatap Christian. "Barusan kamu mengatakan malam ini ada perjamuan makan?" Tanyanya dengan datar.


"Bukannya kamu mengatakan tidak mau pergi?" Tanya balik Christian menatap Aaron dengan sedikit kaget. Karena biasanya, Aaron hampir tidak pernah mau menghadiri acara perjamuan makan.


Daniel yang berada disebelahnya sudah tau semuanya dari awal. "Karena malam ini istrinya tidak makan dirumah."


"Kamu banyak bicara!" Ucap Aaron dengan menatap curiga pada Daniel.


Diam-diam, Daniel membalikkan badan dan pergi.


...


Saat Naura sampai ke restoran Star Light ,dia tidak melihat Evelyn.

__ADS_1


Baru saja dia mengeluarkan ponselnya ngin menelpon Evelyn, dari depan melihat seorang wanita berjalan dengan penampilan yang misterius. Wanita itu memakai pakaian tertutup dan atribut yang sangat lengkap.


Naura berusaha menebak dengan bertanya kepadanya. "Kamu Evelyn?"


Evelyn membuka sedikit kacamata hitamnya dan melihat sekeliling dengan gugup. "Iya, ini aku."


Mereka pun berjalan menuju pintu.


"Kamu bisa masuk ke dalam?" Tanya Evelyn karena dia tau kalau restoran Star Light ini merupakan salah satu tempat terbaik kelas atas di kota ini dan sangat memperhatikan privasi. Jadi, tidak sembarangan orang bisa masuk ke restoran ini.


Naura menganggukkan kepala. "Bisa. Kamu tenang saja. Aku pernah makan disini."


Saat mereka sampai dipintu, penjaga keamanan yang melihat Naura langsung mempersilahkan dengan suara keras dan ramah. "Selamat datang. Silahkan masuk."


Setelah masuk, Evelyn membuka kaca mata hitamnya dan juga syal yang menutupi setengah wajahnya. Kemudian menamati Naura dari atas kepala hingga ujung kaki dengan teliti. "Aku baru pulang syuting dari luar kota, kamu.......seperti baru dilahirkan kembali?"


Evelyn sudah bertahun-tahun mengenal Naura. Tapi selama ini, penampilan Naura selalu "jelek". Evelyn juga sudah terbiasa melihatnya selama ini.


Terakhir kali dia melihat Naura ketika dia kembali dan mendatangi Naura dirumah Aaron. Meskipun saat itu Naura sudah kembali ke wajah aslinya, Evelyn masih tidak terlalu memperhatikan. Sekarang ini setelah bertemu dan melihat Naura lagi, penampilan Naura benar-benar sudah berubah menjadi jauh lebih baik.


Mereka berdua masuk kedalam lift Naura menatap ke pintu lift yang tertutup. "Tidak kok. Aku masih sama seperti dulu."


Evelyn yang berdiri disampingnya, tiba-tiba kembali bicara. "Kalau tidak, bagaimana kalau kamu juga menjadi artis dan main film? Siapa tau, kamu bisa lebih terkenal dari aku."


"Sembarangan! Aku tidak mau!"


"......" Evelyn pun terdiam sambil mengulum senyumnya.


Keluar dari lift, mereka berdua mencari tempat duduk dan memilih menu makanan untuk dipesan.


Setelah memesan makanan, Naura beranjak ke toilet.


Selesai mencuci tangan, dia keluar dari toilet. Berjalan dengan menundukkan kepala dan melamun. Saat akan berbelok, dia menabrak seseorang.


Naura segera meminta maaf. "Maaf."


Yang ditabrak Naura seorang laki-laki dan postur tubuh laki-laki itu sangat tinggi.


Laki-laki itu tidak langsung menjawab permintaan maaf Naura.


Naura mengangkat pandangannya dan tatapannya bertemu dengan seseorang yang sangat familiar.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2