Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#155


__ADS_3

Naura menggunakan tongkat berangkat bekerja ke perusahaan Affandi.


Karena kakek Affandi kembali untuk melihat situasi, seluruh perusahaan terlebih rapi dan semua orang terlihat sibuk.


Kaki Naura terluka, dia tetap diberikan tugas namun lebih santai.


Waktu yang sibuk selalu terasa cepat. Saat telah menyelesaikan pekerjaannya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Rekan kerja lainnya yang ada disampingnya sedang membahas akan makan malam bersama dimana. Merekan melihat Naura yang juga masih ada disana, entah sekedar basa basi atau bertanya dengan tulus. "Naura, apa kamu ikut pergi makan bersama?"


"Baiklah." Jawab Naura sambil tersenyum.


Mereka tercengang sejenak, seperti merasa sedikit terkejut. Namun akhirnya, Naura tetap tidak bisa ikut pergi makan bersama dengan mereka karena Evelyn menelponnya, meminta bantuannya untuk mengantarkan pakaian.


Saat mendengarnya, Naura merasa masalah ini sepertinya tidak mudah. "Apa yang terjadi disana?"


"Panjang jika diceritakan. yang jelas sekarang ini aku sedEvelyn terkurung di dalam ruang ganti dengan telanjang, tidak ada pakaian ditubuhku, bisa saja ada orang yang masuk ke dalam sini."


Suara Evelyn terdengar sangat tenang, namun membuat Naura merasa sedikit panik. "Kamu kirim alamatnya kepadaku, aku akan segera kesana."


Tiba-tiba, Naura teringat saat Evelyn baru memasuki dunia hiburan, dia sering mengeluh dengan Naura, bagaimana orang-orang itu mendapatkan orang baru yang sangat tidak tau malu?


Bahkan Evelyn pernah mengatakan, "Biarkan saja jika aku keluar dari dunia hiburan, lagipula aku akan berbaring saja di rumah tidak melakukan apapun, dan juga bisa melewati hari dengan santai."


Akhirnya, keesokan harinya saat matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya, Evelyn telah bangun menghadiri banyak acara.


Karena dia memang menyukai akting.


Seseorang yang tidak memiliki keinginan apapun, bisa membuat hidup orang menjadi lebih mudah.


Namun, jika kamu sudah memiliki benda yang kamu inginkan, memiliki kemewahan, maka kamu akan menjalani perjalanan yang sangat sulit.


Sama seperti saat dulu Naura menerima Aaron. Sejak saat itu, dia tidak pernah melalui jalan yang mulus.


Terluka, terjatuh, dicampakkan, semua itu sudah menjadi pilihannya.


Jika sekarang dia memilih untuk mundur, apa semuanya akan kembali menjadi seperti semula?


Naura tidak memikirkannya lagi, langsung menaiki taksi pergi ke Mall dan dengan cepat membeli pakaian untuk Evelyn.


……


Tempat Evelyn melakukan pemotretan untuk iklan disebuah studio sementara, bahkan ruang ganti pun dibuat seadanya, sangat tidak aman.


Setelah Naura masuk ke dalam, setelah beberapa lama akhirnya menemukan ruang ganti.


Sepanjang perjalanan, dia memanggil Evelyn dengan pelan. "Evelyn?"

__ADS_1


Akhirnya, disudut ruang ganti yang kecil itu, Naura menemukan Evelyn.


"Naura, kamu sudah datang?" Suara Evelyn terdengar sedikit parau.


Saat Naura baru saja masuk ke dalam, dia merasakan suhu ruang ganti sangat dingin. Orang-orang itu bahkan mematikan penghangat ruangan. Ini sudah terlihat jelas, mereka ingin membuat Evelyn mati membeku.


Naura segera memberikan pakaian yang dibelinya ke dalam.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dari Evelyn. "Sialan, tanganku membeku. Bajunya tidak bisa masuk...."


"......" Tiba-tiba Naura merasa dirinya telah khawatir berlebihan.


Naura hanya bisa masuk membantu Evelyn mengenakan pakaian.


Selesai memakai pakaian, Evelyn terkikik dan berucap, "Jika kamu seorang pria, aku akan menikahimu."


"Mimpi saja sana!" Naura mendengus sejenak. "Jika aku pria, aku pasti akan mencari wanita sepertiku."


Evelyn: "......"


Saat kedua wanita cantik itu akan keluar, terdengar suara percakapan dari luar.


"Evelyn ada di ruang ganti yang mana?"


"Cari saja satu satu. Ruangan ini sangat dingin, ditambah lagi dia tidak memakai baju, memangnya bisa bersembunyi dimana?"


"Cara wanita-wanita ini benar-benar berbeda setiap harinya...."


Mendengar itu, Evelyn sudah merasa tidak tahan, ingin melangkahkan kakinya untuk keluar.


Naura menghentikannya sambil berkata dengan pelan, "Tunggu mereka kemari, kemudian hajar mereka dan bawa mereka ke polisi. Jika kamu keluar sekarang, yang ada mereka akan kabur."


Akhirnya Evelyn mundur kembali dengan emosi yang belum mereda.


Dengan cepat kedua pria itu menemukan ruang ganti yang terdapat Evelyn dan Naura di dalamnya.


Kedua pria itu berjalan beriringan menuju ruang ganti tersebut dengan pria yang berjalan dibelakang membawa kamera.


Evelyn yang sudah tidak bisa menahannya, dia langsung memberikan sebuah tinjuan ke arah wajah pria itu. Sedangkan pria dibelakangnya yang membawa kamera melihat hal itu langsung mencoba untuk kabur.


Naura yang membawa tongkat langsung melompat kearahnya sambil mengayunkan tongkatnya dengan kuat ke atas kepala pria itu.


Tidak lama kemudian, Evelyn telah membereskan dua pria itu. Satu tangannya mencekik, dan satu kakinya menginjak, lalu berkata: "Orang yang membayar kalian untuk mengambil foto telanjangku, pasti orang yang bodoh, kan?! Hanya untuk sebuah foto, mengeluarkan uang yang besar!"


Mendengar Evelyn yang berucap seperti itu, Naura mulai merasa takut. Tapi, untung saja orang yang ingin melukai Evelyn adalah orang yang bodoh!


……

__ADS_1


Evelyn dan Naura melapor ke polisi. Mereka bersama-sama pergi ke kantor polisi.


Setelah polisi memeriksa tidak ada kerugian pada Naura dan Evelyn, polisi kembali melihat kedua pria yang hidungnya telah membiru dan bengkak yang ingin mencuri foto, wajahnya terlihat sedikit aneh.


Perempuan jaman sekarang, kemampuannya berkelahi benar-benar tidak bisa diremehkan.


Kedua orang itu belum menyelesaikan laporan mereka, Aaron dan Christian telah datang.


Christian terlihat datang dengan terburu-buru, rambutnya sangat berantakan, tubuhnya mengenakan coat, kerah sweater turtlenecknya terlihat yang satu mengarah keluar dan sisi lainnya mengarah ke dalam.


Begitu sampai, dia langsung berlari ke arah Evelyn dan bertanya dengan panik. "Evelyn, kamu tidak apa-apa, kan?!"


Evelyn berdeham sejenak, kemudian menjawab: "Tidak apa-apa, hanya merasa sangat menakutkan......"


Naura merasa seluruh tubuhnya bergetar, walaupun baru saja sudah mendengar Evelyn yang berucap dengan nada seperti itu, namun dia masih saja merasa bulu kuduknya berdiri merinding.


Namun, Christian berpikir itu benar. "Jangan takut, aku akan membantumu menghabisinya!"


Tiba-tiba polisi itu membuka suara. "Ini kantor polisi."


Evelyn menolehkan kepalanya menatap polisi itu, kemudian menghela napas dan berkata dengan lembut. "Sungguh bukan aku yang memukul mereka, tapi mereka yang jatuh sendiri."


Membuka matanya lebar-lebar, berucap omong kosong. Yang berucap tentu saja Evelyn.


"Benar. Kami berdua ini perempuan, bagaimana bisa memukul mereka hingga seperti itu? Ditambah lagi dengan kakiku yang seperti ini...." Naura berucap dengan raut wajah bersungguh-sungguh, hingga membuat polisi itu percaya.


Polisi muda yang membuat laporan, masih memiliki pengalaman yang sedikit. Naura dan Evelyn berpura-pura terlihat menyedihkan, membuat polisi itu merasa bimbang antara percaya dan curiga. Sulit mempercayai mereka berdua gadis yang lemah lembut bisa memukul kedua pria itu hingga babak belur.


Walaupun sang polisi merasa sedikit ragu, namun dia tau jika masalah ini memang Naura dan Evelyn yang memukul kedua pria itu. Namun, polisi tidak mengatakannya dengan jelas. Bagaimanapun, polisi itu juga sangat membenci orang-orang seperti kedua pria itu yang melakukan pelecehan.


Banyak masalah yang dapat dimengerti hanya dengan ucapan, dengan tindakan juga bukan hal yang buruk untuk orang-orang yang kejam agar mereka bisa mengingatnya.


Kedua pria yang dipukul itu, tentu saja tidak terima. Salah satu dari mereka berkata: "Itu tidak benar! Sunggung mereka berdua yang telah memukul kami!Aku bersumpah!"


Dengan raut wajah yang serius, polisi itu bertanya. "Apa ada bukti?"


Pertanyaan ini sedikit rumit.


Di depan ruang make-up terdapat CCTV, tapi tidak dengan di dalamnya. Orang yang menyewa mereka untuk mengambil foto Evelyn untuk menjamin mereka tidak terlihat, orang itu juga telah mengusir semua orang. Lalu, dimana mereka harus mencari bukti?


Pria yang dipukul itu berkata dengan tidak puas. "Tentu saja kalian sebagai polisi harus mencari buktinya!"


Naura menatap pria itu dengan dingin, lalu berucap dengan serius. "Kalian boleh memilih untuk menuntut kami."


Pria itu langsung mendelik pada Naura dan tidak mengatakan apapun lagi.


Menuntut masalah kecil seperti ini, hanya membuang uang saja. Jika akhirnya mereka yang menang juga tidak menghasilkan apapun. Apalagi mereka hanya disewa, mereka juga tidak ingin menanggungnya.

__ADS_1


Akhirnya, kedua orang yang mencuri foto Evelyn, tidak hanya babak belur karena Evelyn dan Naura, tapi juga harus menyekap di dalam penjara selama setengah bulan.


...----------------...


__ADS_2