Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#12


__ADS_3

Naura memperlambat langkahnya ketika berjalan masuk kedalam rumah. Tiba-tiba dia menjadi kepikiran.


Sepertinya, Faisal sedang mencari tau tentang dirinya? Tapi, rasanya sangat ganjil.


Atau, Faisal sedang mencari tau tentang Aaron Daffa?


Naura memang belum pernah bertemu dengan Aaron Daffa. Tapi, dia bisa merasakan hubungan antara ayah dan anak ini tidak baik. Sepertinya masalah yang sangat serius.


Tadi, Faisal mengungkit tentang ibu Aaron Daffa. Dia mengatakan karena masalah ibunya, Aaron masih tidak bisa terima. Tapi, ibunya meninggal saat terjadi penculikan sebelas tahun yang lalu. Apa karena masalah penculikan itu, Aaron menjadi dendam dengan ayahnya?


"Nyonya Muda!"


Naura seketika tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara bodyguard yang memanggilnya.


Dia mengangkat wajahnya dan melihat bodyguard tersebut. Dia masih ingat, bodyguard ini yang telah menjemputnya dari rumah keluarga Affandi dihari pernikahannya waktu itu.


"Tuan Muda, ingin kamu menemuinya." Ucap bodyguard tersebut dengan datar sambil membungkuk penuh hormat kepada Naura.


Naura terpaku sejenak merasa terkejut. Dia merasa ragu, apa dia tidak salah mendengar?


"Apa? Tuan Muda? Maksudmu..Aaron?" Pekiknya bertanya dengan tidak percaya.


"Iya Nyonya. Tuan Muda sudah menunggumu diruang kerjanya." Jawab bodyguard tersebut.


...


Naura masih merasa sedikit terkejut. Akhirnya, Aaron Daffa mau bertemu dengannya.


Dia mengetuk pintu ruang kerja Aaron dan pintu terbuka dari dalam karena Ivan yang membukanya.


Naura melangkah masuk kedalam ruang kerja Aaron.


"Ivan, siapa yang datang?"


Naura belum melihat dengan jelas sosok suaminya dan kembali terkejut ketika mendengar ada suara serak dari arah meja kerja.


"Nyonya Muda yang datang." Jawab Ivan yang berdiri disamping meja kerja.

__ADS_1


Naura memperhatikan kearah meja kerja itu. Dia melihat ada seorang laki-laki yang duduk membelakangi dia.


Naura memperhatikan ada kepala laki-laki yang muncul disandaran kursi kerja dengan pergelangan tangannya yang diletakkan di samping kursi.


Sosok laki-laki yang bertubuh tinggi. Apa dia Aaron Daffa? Suaminya?


"Nyonya Muda!" Seru Ivan menyapa Naura.


"Ivan?" Balas Naura yang tau nama Ivan karena tadi dia mendengar Aaron menyebut nama ini.


Ivan membungkukkan badannya sambil tersenyum dan tidak banyak bicara lagi. Biasanya memang dia bukan orang yang suka banyak bicara.


"Apa kamu sudah bertemu dengan Faisal Ardinata?" Tanya Aaron membuat Naura terpaku lalu menyadari kalau Aaron sedang bertanya kepadanya.


"Iya, sudah." Jawab Naura sedikit gugup. Dia juga merasa terkejut saat mendengar Aaron langsung menyebut nama Faisal Ardinata.


Meski Naura sudah tau dari perkataan Faisal tadi, hubungan antara Faisal dengan anaknya ini sepertinya memang tidak baik.


"Apa yang dia katakan kepadamu?" Tanya Aaron lagi kepada Naura.


Mungkin ucapan Faisal ada maksud terselubung. Tapi sepertinya, Faisal memang sangat memperhatikan Aaron.


Naura hanya merasa sedikit kagum, bisa punya seorang ayah yang perhatian sepertinya.


Aaron tersenyum sinis dan tidak ingin membahas Faisal lagi. "Aku dengar dari Samuel, sepertinya hubungan kalian berdua sangat baik."


Naura terkejut mendengar Aaron yang tiba-tiba membahas tentang Samuel. Dengan cepat, Naura menggelengkan kepalanya. "Hanya pernah bertemu di rumah saja." Ucap Naura.


Naura juga tidak mungkin memberitaunya kalau Samuel terluka dan tinggal dirumahnya semalam.


"Kami tidak akrab." Imbuh Naura.


"Benarkah?"


Mendengar Aaron yang sepertinya tidak mempercayainya, membuat Naura terkejut dan sedikit panik.


Samuel tidak benar-benar memberitau Aaron kan?

__ADS_1


"Sudahlah! Kamu cepat keluar!" Ucap Aaron terdengar tidak sabar menyuruh Naura segeta keluar dari ruang kerjanya.


Naura tidak bisa melihat wajah Aaron. Mereka terpisah jarak cukup jauh. Tetapi, Naura masih bisa merasakan aura yang kuat dari diri Aaron.


Alasan Naura menikah dengan Aaron, karena dia dipaksa Merlin, ibu kandungnya. Selain itu, karena dia juga merasakan kekecewaan yang mendalam hingga akhirnya bersedia menikah dengan Aaron.


Tidak pernah terpikirkan juga oleh Naura kalau suatu hari nanti mereka akan bercerai. Jadi, sejak pertama kali Naura menginjakkan kakinya dirumah keluarga Ardinata, dia sudah mempersiapkan dirinya untuk menjadi istri Aaron Daffa Ardinata selamanya.


Bukannya segera pergi, tetapi Naura malah melangkah maju kedepan dan berdiri ditempat yang sedikit dekat dengan Aaron. Dia menggigit bibirnya sendiri untuk memberanikan diri ingin melihat wajah Aaron.


"A..Aaron, bisakah sebentar saja kamu..berbalik?" Tanya Naura dengan terbata.


Kalau Aaron memutar kursinya, sudah pasti Naura akan bisa melihat wajahnya.


Tiba-tiba suasana didalam ruang kerja Aaron menjadi berubah.


"Em..aku, aku tidak ada maksud lain. Aku merasa..kalau kita sudah menjadi suami istri. Cepat atau lambat, kita pasti akan bertemu. Aku sama sekali tidak merasa keberatan dengan..kondisi tubuhmu." Lanjut Naura dengan terbata.


Aaron terpaku sejenak. Dia menaikkan sudut bibirnya. "Tapi aku yang keberatan dengan wajah jelekmu itu." Ucapnya dengan dingin dan penuh kebencian.


Naura terdiam dan terpaku sejenak. "Oh." Response Naura sambil mendorong kacamata yang dipaikanya.


Dia tau kalau Aaron memang membencinya. Jadi, saat Aaron dengan terang-terangan mengatakan dia jelek, dia sama sekali tidak merasa marah ataupun sedih.


"Kalau begitu, aku keluar dulu." Ucap Naura tapi tidak mendengar jawaban lagi dari Aaron. Dia berbalik dan pergi keluar dari ruang kerja Aaron.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Aaron memutar kursinya dan menatap kearah pintu.


He! Gadis jelek ini, benar-benar...jauh diluar yang dipikirkan orang.


Naura turun kebawah dan duduk disofa, menyalakan televisi diruang tengah. Karena belum larut malam, dia juga belum ingin tidur.


Hatinya sedang merasa senang. Meski Aaron membencinya, tapi Aaron masih mau bertemu dan bicara dengannya, juga tidak membuatnya sulit.


Hal ini sangat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan orang-orang anggota keluarga Affandi.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2