
Anak buah yang mencari Naura datang menghampiri. "Nyonya Muda belum ditemukan."
Mereka tidak seperti sedang berbohong. Dalam situasi yang genting seperti ini, mereka tidak akan berani berbohong. Tapi juga tidak menutup kemungkinan kalau mereka berbohong.
Meskipun para lelaki hidung belang ini terus berlulut meminta ampun, Aaron meminta Ivan untuk tidak melepaskan mereka.
Aaron berjalan menuju kebalkon dan melihat kebawah. Tempat dia berdiri ada dilantai tujuh. Jika ada orang yang melompat dari sini ke bawah, kalau tidak mati, orang itu pasti akan cacat.
Aaron melihat kebawah, melihat di lantai bawah ada kamar yang teras balkonnya mengarah keluar lalu memberi perintah lagi. "Cepat pergi kelantai bawah yang sesuai dengan kamar ini dan terus cari!"
Semua keluarga Affandi tidak menyukai Naura. Dia tumbuh dewasa dalam lingkungan yang dingin seperti ini. Tapi, hidupnya tetap normal dan sangat serius.
Semngat hidup Naura juga sangat kuat. Sudah pasti, dia juga tidak ada masalah.
Christian mengajak orang mencari dari lantai satu. Begitupun dengan Ivan.
Sedangkan Aaron, dia mencari Naura di lantai tiga.
Anak buahnya membukakan pintu kamar dan Aaron masuk langsung berjalan keteras belkon untuk mencari.
Ada penghuni kamar itu yang sedang asik bercinta. Saat mendengar ada suara, menghentikan gerakannya dan keluar. Saat keluar, melihat ada banyak orang berbadan besar dengan pakaian serba hitam. "Hei! Siapa kalian dan mau apa?!"
Anak buah Aaron langsung mendorong orang itu masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya.
Di teras kosong dan tidak ada apa-apa. Tapi, Aaron merasakan ada gerakan dibelakang tirai disebelahnya.
Aaron berbalik dan melangkah kearah tirai. Dia mengangkat sebelah tangannya ingin membuka tirainya. Tapi, saat mengangkat sedikit tangannya, gerakannya terhenti. Tangannya sedikit menganggtung diudara sebelum membuka tirainya.
Disudut belakang tirai, tampak ada bayangan seorang wanita bertubuh ramping sedang meringkuk dalam keadaan setengah sadar.
Aaron yang sedari tadi merasa tegang, kini dia bisa kembali tenang.
Aaron mengulurkan tangannya dan membelai kepalanya. Dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. "Naura, akhirnya aku menemukanmu." Ucap Aaron dengan pelan tapi dapat terdengar dengan jelas.
Rambut Naura berantakan. Pakaian yang dipakainya juga sangat kusut. Banyak butiran-butiran keringat di dahinya. Tapi, istrinya ini terlibat tidak apa-apa.
Aaron ingin sekali memeluknya. Hanya saja, saat dia mengulurkan tangannya dan menyentuh pundaknya, Naura seperti terkejut. Pandangan matanya masih terasa buram dan dia berusaha ingin lepas dari laki-laki yang ada didepannya. Naura ingin marah tapi dia hanya bisa mengeluarkan suaranya dengan sangat lemah tak bertenaga. "Pergi..jangan sentuh aku..."
Raut wajah Aaron yang sudah tenang, tiba-tiba kembali berubah. Tatapan mata yang dalam menatap Naura beberapa saat. Setelah itu, dia mendekatkan wajahnya ditelinga Naura. "Jangan takut. Ini aku, 'Samuel'. Aku datang jemput kamu pulang."
__ADS_1
Naura yang ingin melepaskan diri dan kabur, kini dia terdiam. Dia menyandarkan kepalanya pada Aaron. Wajah Aaron yang masih berada dekat ditelinga Naura, kepala mereka saling menempel.
Aaron dapat merasakan dahi Naura yang begitu panas seperti terbakar.
Raut wajah Aaron begitu dingin. Dia mengangkat tubuh Naura dan menggendongnya. Dia segera membawanya pergi keluar dari tempat itu.
Tubuh Naura terasa panas, bagai sebuah kompor kecil dengan nyala api yang sedang membakar Aaron. Alisnya mengerut, nafasnya pendek dan tersengal-sengal. Tapi, Naura tidak bergerak sama sekali saat digendong Aaron.
Terlihat dengan jelas kemarahan di wajah Aaron. Amarahnya membara.
Tadi, anak buah Aaron langsung memberi kabar ke Christian dan Ivan. Saat Aaron berjalan sampai di ballroom dengan menggendong Naura, dia melihat mereka berdua.
Melihat raut wajah Aaron yang seperti ini, Ivan tidak berani bertanya dulu. Tapi, akhirnya Christian yang bertanya. "Dia, baik-baik saja kan?"
"Dia tidak apa-apa." Jawab Aaron dengan suara yang terdengar begitu tenang. Dia menoleh kearah Ivan. "Pergi ke rumah sakit."
"Baik." Jawab Ivan dengan hormat. Kemudian dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Pada saat naik ke mobil, Aaron seperti sedang mengingat sesuatu. Dia menatap Christian. "Artis kecilmu?"
"Dia baru saja bisa aku hubungi dan ternyata dia tidak disini." Jawab Christian. Meskipun dia tidak senang dengan panggilan Aaron terhadap Evelyn, tapi dia tau kalau sekarang bukan saatnya untuk membahas masalah ini.
Meskipun supir akan melewati batas kecepatan maksimal kalau dia menaikkan kecepatannya lagi, tapi dia tidak berani membantah perintah Tuan Mudanya.
Untung saja ini malam hari. Jadi, sedikit mobil yang melintas di jalan.
Mobil menuju ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit yang tidak begitu besar juga hanya sedikit orang yang ada disana. Ada dokter laki-laki yang berjaga malam ini. Dokter tersebut terlihat seperti sedang berbicara dengan kekasihnya melalui telepon.
Dokter itu mengangkat pandangannya melihat Aaron berjalan sambil menggendong Naura. Ivan dan Christian berjalan dibelakangnya. Dibelakang mereka masih ada beberapa bodyguard yang mengikuti.
Mereka terlihat seperti segerombolan orang mencurigakan yang ingin mencari keributan.
Wajah dokter tersebut seketika tampak pucat karena terkejut. "Eh..apa..apa mau periksa?"
"Iya." Jawab Aaron singkat dengan wajah dinginnya.
Aaron membaringkan Naura diranjang pasien. Kemudian berdiri disamping ranjang memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Naura.
Dokter menelan ludah, dengan gemetar memeriksa Naura. Saat mengambil stetoskop pun terlihat tangannya masih gemetar.
__ADS_1
Aaron dengan wajah dinginnya menatap dokter itu. "Apa dokter punya penyakit epilepsi?"
"Ti..tidak." Jawab dokter dengan cepat.
Dikelilingi banyak orang yang terlihat menakutkan, kalau dia salah sedikit saat memeriksa, mereka bisa saja akan menghabisinya. Wajar saja kalau dokter itu merasa ketakutan.
Dalam tubuh Naura terdapat obat. Sepertinya obat ini adalah obat racikan sendiri, obat ini mengandung anestesi, dan mirip semacam narkoba.
Meskipun dokter tidak tau obat apa yang telah diminum oleh Naura, baginya tidak sulit untuk mengobatinya.
Naura telah diberi suntikan juga di beri infus. Kondisinya sudah mulai terkendali.
Setelah Naura dibawa pulang ke rumah, Aaron menggendong Naura masuk kedalam kamarnya dan membaringkannya di tempat tidurnya.
Wajah Naura masih dipenuhi keringat. Aaron beranjak mengambil handuk dan air hangat untuk membasuh wajah Naura.
Aaron mengulurkan tangannya, menyingkirkan poni Naura. Tangan satunya mengambil handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat. Dengan perlahan, Aaron menyeka keringat yang ada diwajah Naura.
Saat menyeka, tangan Aaron tiba-tiba terhenti. Ini pertama kalinya dia melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pelayan. Tapi, dia terlihat telaten melakukan ini.
Dia merasa kalau wajah Naura terlihat berbeda.
Aaron mengingat saat diruang makan. Dia menyadari kalau ada keanehan di wajah Naura. Saat itu, dia belum sempat mencari tau. Apalagi, dia juga tidak pernah mempedulikan penampilan seorang wanita.
Sekarang, setelah diperhatikan, ini benar-benar bukanlah masalah yang sepele.
Aaron mengernyitkan keningnya. Setelah menyeka bersih wajah Naura, Dia bangkit berdiri dan sedikit melangkah mundur menatap wajah Naura.
Sebelumnya, wajah Naura yang gelap dan dipenuhi jerawat agak kekuningan, sekarang terlihat sangat berbeda.
Ternyata, ini wajah asli Naura. Begitu bersih, putih, mulus dan tampak bersinar dibawah cahaya lampu.
Benar-benar sangat cantik sekali.
Melihatnya,Aaron tiba-tiba tersenyum.
Istrinya, selama ini sudah berpura-pura menjadi idiot dan menjadi seorang yang sangat jelek. Sepertinya, sebelum menikah dengannya, istrinya ini telah menjalani hidup dengan sangat menderita.
...__________...
__ADS_1